Bogor: Sudah hampir enam tahun Ipda Rifai Yusuf Hutasuhut belum pernah pulang ke kampung halamannya, di Pekanbaru, Riau. Bagi sebagian orang, mudik adalah tradisi tahunan yang tak tergantikan. Namun bagi Rifai, kata pulang harus berkali-kali ditunda.
Ipda Rifai yang saat ini menjabat sebagai Kepala Sub Unit Pengaturan, Penjagaan, Pengawalan, dan Patroli (Kasubnit Turjawali) Satlantas Polresta Bogor Kota bercerita bahwa kerinduan akan kampung halaman sangatlah kuat.
"Secara kerinduan, Alhamdulillah sangat rindu dengan kampung halaman. Namun karena tugas dan tanggung jawab saya sebagai seorang anggota Polri, saya ikhlas untuk tidak mudik ke kampung halaman," ujar Rifai, dalam program Live Event Metro TV, Sabtu, 21 Maret 2026.
Menghubungi via ponsel satu-satunya cara untuk melepas rindu. Ia biasa menghubungi orang tuanya saat malam hari usai dinas selesai. Meski singkat, momen itu menjadi pengobat rasa rindu yang tak pernah benar-benar hilang.
Di balik seragamnya yang tegas, tersimpan cerita tentang pengorbanan yang sering luput dari perhatian. Polisi lalu lintas, seperti Ipda Rifai, bukan hanya mengatur kendaraan, namun ia mengorbankan waktu pribadi.
Baca Juga :
Lapas Perempuan Palembang Buka Layanan Kunjungan Lebaran Selama Dua Hari"Ya mungkin suasana yang saya ingat di kampung itu yang paling berkesan ya saat salat Idulfitri, berjalan kaki bersama orang tua maupun keluarga yang lainnya. Ya setiap tahun harapan saya sih cukup dengan keluarga saya sehat di kampung, ibu saya tetap sehat di kampung, ya saya juga sehat di sini bisa melaksanakan tugas sebagai anggota Polri yang bisa membantu masyarakat," kata Rifai. Tak pulang tapi rezeki sampai rumah Cerita lain datang dari Masduki, seorang sopir bus yang selama lebih dari 15 tahun tak pernah merayakan Lebaran bersama keluarganya demi mencari nafkah. Selama itu pula ia jarang sekali merasakan mudik dan Lebaran bersama keluarganya di Jawa Tengah.
"Ya berlebarannya malah di jalan ya, yang ini. Kalau kepenginnya, kepenginnya kalau ada rezeki mah pengin Lebaran keluarga gitu kan, tapi ya nyatanya enggak bisalah, momennya enggak pas," kata Masduki, sopir bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP).
"Bagi Masduki, momen Lebaran justru menjadi waktu paling sibuk untuk mencari nafkah. Di saat orang lain pulang, ia harus berangkat menempuh perjalanan panjang mengantar penumpang."
(Masduki. Foto: tangkap layar)
"Makanya kami tetep bertahan di jalanan itu bukan karena apa ya, enggak kangen dengan keluarga, enggak. Tapi justru karena kangennya itulah gitu. Biar jangan sampai mereka itu, ayahnya enggak pulang, umpamanya, tapi duitnya juga enggak pulang. Kan seenggak-enggaknya biar ayahnya enggak pulang, tapi kan rezekinya pulang ke rumah," tuturnya.
Lelah dan risiko tinggi menjadi bagian dari pekerjaannya. Namun bagi Masduki, ada kepuasan tersendiri saat ia berhasil mengantar penumpang sampai tujuan dengan selamat. Namun di balik itu, terselip rasa rindu yang harus ia tahan karena tak bisa berkumpul dengan keluarga di hari yang fitri."




