Maranello, VIVA – Ferrari tengah menyiapkan gebrakan baru lewat mobil listrik pertamanya yang diberi nama Ferrari Luce, namun pendekatannya tidak biasa. Alih-alih sekadar mengejar performa ekstrem, pabrikan asal Italia itu justru mengkaji batas kenyamanan manusia saat menerima akselerasi tinggi.
Langkah ini bahkan melibatkan lembaga antariksa NASA untuk memahami dampak tarikan mobil listrik terhadap tubuh dan otak manusia. Ferrari menyadari bahwa akselerasi instan yang terlalu agresif pada mobil listrik justru bisa menimbulkan sensasi tidak nyaman bagi pengemudi.
Dalam pengembangannya, disadur VIVA Otomotif dari Carscoops, Sabtu 21 Maret 2026, Ferrari tidak hanya fokus pada kecepatan lurus, tetapi juga keseimbangan pengalaman berkendara secara keseluruhan. Akselerasi longitudinal, lateral saat menikung, hingga respons pengereman dirancang agar tetap memberikan sensasi khas mobil sport tanpa membuat pengemudi kewalahan.
CEO Ferrari, Benedetto Vigna, menegaskan bahwa tidak semua performa ekstrem berarti lebih baik bagi pengguna. Menurutnya, ada titik tertentu di mana dorongan tenaga justru “mengganggu otak”, sehingga perlu dikalibrasi agar tetap menyenangkan dan aman.
Selain itu, Ferrari juga mengembangkan pendekatan unik pada sistem transmisi di mobil listrik ini. Meski tidak menggunakan mesin konvensional, Luce akan dibekali paddle shifter yang berfungsi mengatur karakter distribusi torsi, memberikan sensasi berkendara yang lebih emosional.
Aspek suara pun tidak luput dari perhatian, mengingat mobil listrik identik dengan keheningan. Ferrari memilih untuk tidak meniru suara mesin bensin, melainkan memperkuat karakter asli motor listrik dengan frekuensi yang lebih nyaman di telinga.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Ferrari ingin menjaga identitasnya sebagai produsen mobil sport yang mengutamakan emosi berkendara. Bahkan di era elektrifikasi, mereka tetap berusaha menghadirkan pengalaman yang tidak sekadar cepat, tetapi juga terasa hidup.
Dengan jarak tempuh lebih dari 500 kilometer, Ferrari Luce memang tidak difokuskan untuk penggunaan di lintasan balap. Namun, pengembangan berbasis riset manusia ini bisa menjadi arah baru industri otomotif, di mana performa tinggi tidak lagi hanya soal angka, tetapi juga soal bagaimana tubuh manusia merasakannya.





