JAKARTA, KOMPAS — Jumlah pendatang baru ke Jakarta setelah Lebaran diperkirakan sama seperti tahun lalu. Tidak ada operasi yustisi, tetapi pendatang diminta menyiapkan administrasi kependudukan dan kemampuan untuk bersaing.
Sebanyak 10.000 sampai 12.000 pendatang baru diperkirakan mengadu nasib di Jakarta sesuai Lebaran 2026. Angka tersebut hampir sama dengan perkiraan tahun 2025, yakni 10.000 sampai 15.000 orang.
”Jakarta tidak ada operasi yustisi. Namun, kami minta bagi siapa pun yang ingin bekerja di Jakarta, tentu melengkapi diri. Dari semua syarat administrasi dan kemudian juga kapabilitasnya,” ucap Gubernur Jakarta Pramono Anung di Balai Kota Jakarta, Sabtu (21/3/2026).
Politikus PDI Perjuangan itu sebelumnya menyampaikan hal serupa kepada seorang peserta mudik gratis di Monumen Nasional pada Selasa (17/3/2026). Pramono mengingatkan pemudik agar tidak menjanjikan sesuatu yang berlebihan kepada sanak saudara di kampung halaman.
Jakarta memang terbuka bagi siapa saja. Namun, tidak semua orang bisa bertarung di metropolitan.
”Kehidupan di Jakarta tidak seperti yang digambarkan. Kebanyakan menunjukkan sisi yang baik. Nyatanya tidak, orang harus bekerja keras,” ujar Pramono.
Jumlah penduduk Jakarta mencapai 10,88 juta jiwa. Terjadi penurunan penduduk hingga 129.000 jiwa dibandingkan dengan periode sebelumnya. Ini berdasarkan Data Kependudukan Bersih Semester II Tahun 2025.
Data yang sama juga menunjukkan struktur demografi Jakarta didominasi kelompok usia produktif, 15–64 tahun. Jumlahnya mencapai 71.26 persen.
Di sisi satunya sektor pekerjaan informal lebih besar daripada sektor formal. Keadaan tersebut mencerminkan dinamika struktur ketenagakerjaan, pentingnya meningkatkan keterampilan, dan kompetensi tenaga kerja agar mampu bersaing di pasar kerja.
Keadaan ketenagakerjaan Provinsi Jakarta November 2025 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Jakarta juga memotret hal serupa. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada November 2025 sebesar 6,31 persen.
Angka ini naik 0,26 persen poin dibandingkan dengan kondisi pada Agustus 2025. Adapun TPT laki-laki (6,90 persen) lebih tinggi daripada TPT perempuan (5,43 persen).
Kepala BPS Jakarta Kadarmanto menyebut, TPT berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh angkatan kerja mempunyai pola yang sedikit berbeda dari Agustus 2025. Pada November 2025, TPT tamatan SMA umum tertinggi dibandingkan dengan tamatan jenjang pendidikan lainnya, yakni sebesar 8,14 persen. Sebaliknya, TPT terendah dari tamatan diploma sebesar 3,44 persen.
”Dibandingkan Agustus 2025, TPT tamatan diploma, SMP, dan universitas turun. Sementara TPT SD ke bawah naik,” ucap Kadarmanto.
Masih dalam laporan BPS Jakarta, tiga lapangan pekerjaan yang menyerap tenaga kerja paling banyak ialah perdagangan (23,22 persen), penyediaan akomodasi dan makan minum (13,29 persen), serta pengangkutan dan pergudangan (11,92 persen). Pola lapangan pekerjaan dalam menyerap tenaga kerja ini masih sama dengan kondisi Agustus 2025.
Di sisi satunya, pekerja penuh (jam kerja minimal 35 jam per minggu) mencapai 81,47 persen pada November 2025. Sementara sisanya yakni pekerja tidak penuh (jam kerja kurang dari 35 jam per minggu).





