Ketika Relasi Sosial Menjadi Rapuh

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia mengalami sebuah paradoks sosial. Di satu sisi, teknologi digital membuat manusia semakin terhubung. Media sosial memungkinkan orang berinteraksi dengan ratusan, bahkan ribuan orang setiap hari.

Namun di sisi lain, relasi sosial justru terasa semakin rapuh. Persahabatan mudah retak, percakapan publik cepat berubah menjadi pertengkaran, dan ruang digital dipenuhi kemarahan kolektif.

Fenomena ini dapat dipahami melalui perspektif sosiolog Polandia, Zygmunt Bauman. Dalam karyanya, Liquid Modernity (2000), Bauman menggambarkan masyarakat kontemporer sebagai masyarakat modernitas cair—suatu kondisi di mana struktur sosial kehilangan kestabilan. Dalam dunia yang cair, segala sesuatu bergerak cepat dan bersifat sementara, termasuk relasi antarmanusia.

Bauman menunjukkan bahwa dalam masyarakat modern, manusia semakin takut pada komitmen jangka panjang. Relasi sosial sering dipertahankan hanya selama memberikan kenyamanan. Ketika relasi itu tidak lagi memuaskan, ia mudah diputus dan diganti.

Fenomena ini digambarkan secara tajam dalam Liquid Love (2003), di mana Bauman mengatakan bahwa hubungan manusia kini sering menyerupai koneksi internet: mudah tersambung, tetapi juga mudah diputus.

Polarisasi dan Rapuhnya Percakapan Publik

Jika kita melihat kehidupan sosial masyarakat, gambaran ini terasa sangat nyata. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang dialog sering berubah menjadi arena konflik identitas. Perbedaan pandangan politik, agama, atau budaya dengan cepat memicu pertengkaran yang sulit diredam.

Dalam beberapa tahun terakhir, polarisasi politik meninggalkan jejak yang tidak ringan. Persahabatan retak, keluarga berbeda pilihan politik saling menjauh, dan percakapan publik menjadi penuh kecurigaan. Bahkan dalam ruang digital, seseorang dapat dipuji hari ini dan dihujat keesokan harinya.

Fenomena ini menunjukkan rapuhnya ikatan sosial dalam masyarakat modern. Relasi sosial kehilangan fondasi yang kokoh karena semakin dipengaruhi oleh logika instan dan emosional.

Budaya Pakai-Buang dalam Relasi

Bauman menyebut kondisi ini sebagai munculnya mentalitas disposability, yaitu budaya “pakai dan buang”. Logika pasar yang sebelumnya hanya berlaku dalam ekonomi kini merembes ke dalam relasi sosial.

Hubungan kerja, misalnya, semakin fleksibel, tetapi juga semakin tidak pasti. Banyak pekerja hidup dalam sistem kontrak jangka pendek tanpa jaminan stabilitas. Dalam situasi seperti ini, relasi antara manusia dan institusi menjadi instrumental.

Hal serupa juga terlihat dalam hubungan sosial sehari-hari. Relasi sering dipertahankan selama memberikan manfaat emosional atau sosial. Ketika manfaat itu hilang, hubungan pun mudah ditinggalkan.

Padahal, manusia tetap membutuhkan kedekatan. Era modernitas cair menciptakan paradoks: manusia merindukan hubungan yang hangat, tetapi pada saat yang sama takut kehilangan kebebasan pribadi.

Riset tentang Kohesi Sosial

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kohesi sosial memang memainkan peran penting dalam menjaga kualitas relasi manusia. Sebuah penelitian terhadap mahasiswa di Indonesia menemukan bahwa tingkat kohesivitas kelompok memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku sosial anggota kelompok.

Kohesivitas bahkan berkontribusi sekitar 68,1 persen dalam mengurangi perilaku “kemalasan sosial” dalam kerja kelompok. Artinya, semakin kuat rasa kebersamaan dalam sebuah kelompok, semakin kecil kemungkinan individu menarik diri dari tanggung jawab bersama (Rahmi, Ainun, dkk, Repository Universitas Al-Azhar Indonesia, 2020).

Penelitian lain tentang transformasi sosial di masyarakat menunjukkan bahwa perubahan sosial yang cepat dapat memicu ketegangan identitas dan etnosentrisme jika kohesi sosial tidak dirawat secara berkelanjutan.

Karena itu, pendidikan multikultural dan integrasi sosial menjadi penting untuk menjaga stabilitas relasi dalam masyarakat yang semakin beragam (Wahyudi, Arjun, dkk., dalam Journal of Social Development Studies, Vol. 6, Issue 1, Maret 2025).

Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa relasi sosial yang kuat tidak terbentuk secara otomatis. Ia membutuhkan upaya sadar untuk membangun rasa kebersamaan, kepercayaan, dan solidaritas.

Data Survei tentang Polarisasi Sosial di Indonesia

Beberapa survei menunjukkan bahwa polarisasi sosial di Indonesia memang bukan sekadar kesan subjektif, melainkan juga fenomena yang nyata.

Survei nasional yang dilakukan oleh Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia menemukan bahwa polarisasi politik di Indonesia benar-benar terjadi, baik di ruang digital maupun dalam interaksi sosial sehari-hari. Polarisasi tersebut muncul terutama dalam isu agama, kepuasan terhadap pemerintah, dan sentimen identitas tertentu (ANTARA, 20 Maret 2023).

Temuan lain juga menunjukkan peran penting media sosial dalam memperkuat keterbelahan ini. Survei global yang dilakukan oleh CIGI dan Ipsos menunjukkan bahwa sekitar 58 persen responden di Indonesia menilai media sosial telah meningkatkan polarisasi politik di masyarakat (Databoks, 14 Juni 2019).

Penelitian akademik tentang Pemilu 2024 di Indonesia juga menemukan bahwa polarisasi tidak hanya terjadi dalam bentuk perbedaan pilihan politik, tetapi juga berkembang menjadi polarisasi afektif dan polarisasi identitas.

Polarisasi afektif terlihat dari meningkatnya narasi kebencian dan emosi negatif terhadap kelompok politik lain, sementara polarisasi identitas muncul melalui penggunaan isu agama, etnis, dan ideologi untuk memperkuat loyalitas kelompok. Kondisi ini memperdalam keterbelahan sosial di masyarakat (Efrianti, Yuwanda dalam Jurnal Ilmu Komunikasi dan Sosial, Vol. 3, No. 1 Maret 2025).

Sejumlah kajian juga menunjukkan bahwa polarisasi politik bukan fenomena baru di Indonesia. Pengalaman Pilkada DKI Jakarta 2016 dan Pemilu 2019 menunjukkan bagaimana konflik politik dapat merembet ke dalam relasi sosial masyarakat dan memicu ketegangan horizontal.

Polarisasi tersebut bahkan memiliki potensi berlangsung dalam jangka panjang jika tidak diimbangi dengan literasi digital dan pendidikan politik yang sehat (Alby, Joey Dava Akbar Hanafiah, dkk. dalam Indonesian Journal of Political Studies, Vol. 4, No. 2. Oktober 2024).

Data-data ini menunjukkan bahwa kerapuhan relasi sosial tidak hanya bersifat kultural atau psikologis, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika politik dan teknologi komunikasi yang membentuk cara masyarakat berinteraksi.

Perspektif Pemikir Indonesia

Dalam konteks Indonesia, refleksi ini juga dapat dibaca melalui pemikiran Franz Magnis-Suseno. Ia sering menegaskan bahwa kehidupan bersama hanya dapat bertahan jika masyarakat memiliki etika tanggung jawab terhadap sesama. Tanpa tanggung jawab moral, kebebasan individu justru dapat berubah menjadi egoisme sosial.

Pemikir Indonesia lain, Nurcholish Madjid, juga menekankan pentingnya civil society yang ditopang oleh nilai kepercayaan, dialog, dan penghargaan terhadap perbedaan. Bagi Nurcholish Madjid, masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang mampu merawat ruang publik yang terbuka dan saling menghormati.

Gagasan kedua pemikir ini sejalan dengan kritik Bauman terhadap modernitas cair. Tanpa fondasi etis yang kuat, masyarakat mudah terpecah menjadi individu-individu yang hidup berdampingan, tetapi tidak lagi saling peduli.

Rekonstruksi Solidaritas Sosial

Indonesia sebenarnya memiliki modal sosial yang besar. Tradisi gotong royong, musyawarah, dan solidaritas komunitas telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Namun, nilai-nilai tersebut tidak akan bertahan dengan sendirinya di tengah dunia yang semakin digital dan cair.

Karena itu, diperlukan upaya untuk menghidupkan kembali solidaritas sosial.

Pertama, masyarakat perlu mengembangkan literasi digital yang etis. Media sosial harus dipahami bukan sekadar ruang ekspresi bebas, melainkan juga ruang tanggung jawab.

Kedua, pendidikan perlu menekankan empati dan kemampuan dialog. Pendidikan tidak hanya menghasilkan individu kompetitif, tetapi juga manusia yang mampu hidup bersama, yang saling memberikan kontribusi.

Ketiga, ruang publik perlu dipulihkan sebagai ruang perjumpaan yang manusiawi. Perbedaan pandangan tidak harus berakhir pada permusuhan, tetapi dapat menjadi kesempatan untuk memperkaya perspektif.

Komitmen sebagai Tindakan Moral

Dalam dunia yang semakin cair, membangun komitmen sebenarnya merupakan tindakan yang radikal. Ketika banyak relasi bersifat sementara, memilih untuk setia pada relasi dan komunitas menjadi pilihan etis yang penting.

Bauman mengingatkan bahwa masa depan masyarakat sangat bergantung pada kemampuan manusia untuk mempertahankan tanggung jawab terhadap sesama. Tanpa tanggung jawab itu, masyarakat akan terpecah menjadi individu-individu yang hidup berdampingan, tetapi tidak lagi memiliki ikatan moral.

Indonesia memiliki warisan nilai kebersamaan yang kuat. Tantangan kita hari ini adalah menjaga agar nilai-nilai tersebut tetap hidup dalam dunia yang semakin cepat berubah.

Relasi sosial mungkin menjadi rapuh, tetapi ia tidak harus runtuh. Dengan kesadaran etis dan komitmen terhadap sesama, masyarakat tetap dapat membangun kembali ikatan yang lebih kuat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo: Pemulihan di Aceh Hampir 100 Persen, Warga Sudah Keluar dari Tenda
• 9 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Prabowo Ajak Perkuat Persatuan di Momen Idulfitri 1447 H
• 20 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Trump Mengemis Eropa Bantu Rebut Selat Hormuz, Tetapi Mengapa Ditolak? Ini 4 Penyebabnya
• 22 jam lalurepublika.co.id
thumb
Timur Tengah Memanas Saat Lebaran, Iran Serang Kilang Minyak Kuwait dan Israel Balas Hantam Teheran
• 23 jam laluviva.co.id
thumb
BABYMONSTER Konfirmasi Rencana World Tour pada Tahun 2026-2027
• 5 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.