Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Kamis (19 Maret) menyatakan bahwa atas permintaan Presiden AS Donald Trump, Israel telah menangguhkan serangan lanjutan terhadap fasilitas gas alam Iran. Hal ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat masih memiliki pengaruh signifikan terhadap ritme serangan Israel dalam konflik dengan Iran.
EtIndonesia. Pekan ini, Israel sempat secara mandiri menyerang salah satu fasilitas gas Iran, yang sempat mendorong kenaikan harga energi global. Netanyahu dalam konferensi pers mengonfirmasi bahwa operasi terhadap fasilitas gas di Asaluyeh dilakukan oleh Israel sendiri, dan setelah itu Trump meminta agar serangan lanjutan dihentikan.
Netanyahu menyatakan bahwa tujuan operasi militer tersebut adalah untuk menghilangkan ancaman dari fasilitas nuklir dan rudal balistik Iran, serta menciptakan kondisi agar rakyat Iran dapat “menentukan nasib mereka sendiri”.
Ia juga menegaskan bahwa Israel dan Amerika Serikat selalu menjaga koordinasi yang erat dalam isu Iran. Netanyahu membantah klaim bahwa Israel menyeret Amerika Serikat ke dalam konflik, dan menyebutnya sebagai “berita palsu”.
Netanyahu menambahkan bahwa dirinya dan Trump bekerja sama dengan sangat erat dan sering berkomunikasi melalui telepon, namun keputusan akhir tetap berada di tangan Trump, yang ia hormati.
Ia juga menyatakan bahwa operasi yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran saat ini bukan hanya untuk melindungi negara masing-masing, tetapi juga “melindungi seluruh dunia”.
Menurut data militer AS dan Israel, sejak konflik pecah, jumlah serangan terhadap sejumlah target yang terkait dengan pemerintah Iran telah melebihi 16.000 kali.
Netanyahu mengklaim bahwa serangan Israel telah secara signifikan melemahkan kemampuan militer Iran, sehingga Teheran kini tidak lagi mampu melakukan pengayaan uranium maupun memproduksi rudal balistik.
Namun, ia juga mengakui bahwa situasi internal Iran masih penuh ketidakpastian, bahkan menyatakan bahwa dirinya “tidak yakin siapa yang saat ini mengendalikan negara tersebut.” (Hui)





