Dalam perayaan Idul Fitri 1447 H, Presiden Prabowo Subianto membuka Istana Negara untuk rakyatnya. Berbondong-bondong gerombolan “wong cilik” pun berdatangan bersama keluarga dan kerabatnya menuju gedung pusat kekuasaan itu. Sehari saja, mereka seolah merasakan hidup bagaikan seorang ratu.
Iba (48), warga Jakarta Pusat, tampak sibuk menata tiga tas plastik yang dibawanya di tengah kerumunan warga di bawah tenda besar, di Istana Negara, Jakarta, Sabtu (21/3/2026). Dua tas berisikan kotak makanan bertumpuk-tumpuk, sedangkan satu tas lagi memuat barang-barang lainnya. Ia terlihat kerepotan menata agar dua mainan yang baru saja diperolehnya dari staf Istana Negara bisa termuat dalam tas plastik itu.
“Ini tadi saya diberi mainan. Ada mobil-mobilan proyek. Terus satu lagi ada kereta. Ini semua kesukaan anak saya. Senang sekali,” kata Iba semringah.
Iba adalah salah seorang warga yang ikut serta dalam acara gelar griya, atau open house, yang diadakan Presiden Prabowo Subianto. Gelaran itu menjadi tradisi Idul Fitri yang terus berlanjut dari rezim ke rezim sejak era kepemimpinan Presiden ke-1 Soekarno. Kendati begitu, Iba baru pertama kali mengikutinya.
Informasi soal kegiatan gelar griya itu diketahui Iba dari suaminya. Ajakan sang suami diterimanya begitu saja tanpa pikir panjang. Sebagai seorang rakyat jelata, ia tak pernah membayangkan bakal menjalani momen itu dalam hidupnya. Apalagi lingkungan tempat tinggalnya adalah perkampungan sempit yang jauh dari kehidupan elite.
Alhasil, Iba tak berhenti menunjukkan kekagumannya begitu memasuki area dalam Istana Negara. Bukan lagi rumah deret yang ia saksikan, tetapi halaman luas nan rindang. Stan makanan yang disuguhkan penyelenggara acara juga menyajikan beragam menu yang seolah tak kunjung habis kendati terus menerus diserbu pengunjung. Kondisi itu jauh dari kesehariannya yang hanya bisa menyajikan satu atau dua menu santapan bagi keluarga saban hari.
“Senang banget baru kali ini masuk istana. Ya Allah, nggak nyangka bisa masuk ke sini. Udah gitu makanannya juga enak-enak. Terus, saya merasa kayak ratu atau raja saja sudah begitu di sini. Ha-ha-ha,” ujar Iba seraya terkekeh.
Iba semakin termotivasi untuk datang berhubung warga juga dibekali bingkisan sepulang dari acara itu. Isi bingkisannya adalah bahan pokok seperti beras, gula, teh, susu kental manis, dan biskuit kalengan. Selain itu, ada juga amplop yang berisikan uang tunai senilai Rp 200.000.
Hanya saja, Iba memperoleh itu semua tidak dengan mudah. Ia rela mengantre di gerbang masuk kompleks Istana Negara sejak pukul 04.00 WIB. Itu semata-mata agar memperoleh barisan masuk paling depan. Tetapi, ia baru diundang oleh petugas untuk memasuki gerbang pada pukul 11.00 dan diajak memasuki area open house pada pukul 12.30.
Berhubung masuk paling awal, Iba dibatasi waktu untuk berlama-lama di area open house. Ia mesti bergantian dengan warga lainnya yang mengantre di belakangnya. Padahal, ia merasa belum lengkap jika urung berjumpa langsung Presiden.
“Ya, harapannya tahun depan bisa menikmati kayak begini lagi. Bisa ketemu langsung juga sama Pak Presiden. Semoga THR-nya keluar lagi,” ujar Iba.
Sama seperti Iba, Nita (43), warga Jakarta Utara, juga baru pertama kali mengikuti gelar griya di Istana Negara. Ia mengikuti acara itu setelah memperoleh informasi dari orangtua teman sekolah anaknya. Tak jauh berbeda, ia juga terdorong untuk datang karena disebut akan memperoleh bingkisan sembako.
Perjuangan Nita tidak kalah berat. Ia telah berangkat dari rumah sejak matahari belum terbit. Tetapi, ia lebih dulu mengikuti shalat Idul Fitri di Masjid Istiqlal, Jakarta, yang jaraknya hanya 1,2 Km dari Istana Negara. Seusai shalat, ia langsung menuju istana demi bergabung bersama antrean warga lainnya.
“Tidak apa-apa antre lama. Di sini banyak makanan. Tadi saya coba semuanya. Ini juga sebagian saya kantong-kantongin bawa pulang untuk anak-anak saya yang di rumah,” kata ibu dari lima orang anak tersebut.
Seperti ribuan warga lainnya, Nita berharap juga bisa bertemu Presiden hari itu. Jika bisa bertatap muka, ia sekaligus ingin berkeluh kesah soal kondisi anaknya yang mengalami gangguan kecerdasan mental. Diakuinya, biaya konsultasi psikologis memang sudah digratiskan. Tetapi, ia membutuhkan biaya tambahan sekadar untuk mengganti ongkos berangkat pemeriksaan rutin.
“Setiap periksa itu butuh ongkos juga. Mudah-mudahan bisa minta tolong ke Pak Presiden. Saya ini cuma ibu rumah tangga. Suami saya hanya buruh konveksi yang penghasilannya tidak pasti,” ujar Nita.
Meskipun area open house sudah riuh rendah sejak pukul 12.00, Presiden baru muncul di hadapan warga sekitar pukul 15.00. Ia tiba bersama putranya, Didit Hediprasetyo. Sepasang ayah dan anak itu lalu berjalan menemui satu per satu warga untuk menjabat tangan mereka. Presiden sesekali melempar senyum, sedangkan Didit terlihat beberapa kali berbincang sejenak dengan warga.
Warga yang sudah menanti lama menunjukkan antusiasmenya. Mereka meneriakkan nama Presiden demi bisa berjabat tangan. Teriakan itu pula yang mengantarkan Presiden keluar dari area open house setelah berjalan mengelilingi warga sekitar 30 menit lamanya.
Selepas dari area open house, Presiden melanjutkan kegiatannya untuk menemui tamu-tamu lainnya di Istana Merdeka. Wakil Presiden Gibran Rakabuming didampingi istrinya, Selvie Ananda, termasuk salah seorang yang bertamu untuk bersilaturahmi dengan sang pimpinan. Tamu-tamu lainnya ialah jajaran menteri dari Kabinet Merah Putih hingga elite politik seperti Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Menteri PKP Maruarar Sirait, Menteri Kehutanan RAja Juli Antoni, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, Ketua MPR Ahmad Muzani, Ketua DPD Sultan Najamuddin, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, dan lain-lain.
Tak hanya itu, Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono dan keluarganya juga terlihat ikut bertamu dalam kesempatan itu. Yudhoyono datang bersama dua putaranya, yakni Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono dan Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono, yang masing-masing membawa istri dan anak mereka.
Presiden ke-7 Joko Widodo, atau Jokowi dan keluarga besarnya juga hadir untuk bersilaturahmi pada momen itu. Ia turut didampingi istrinya, Iriana, dan putra bungsunya, Kaesang Pangarep beserta istri, Erina Gudono, dan anak mereka.
Ihwal gelar griya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan, Presiden sengaja memprioritaskannya untuk masyarakat umum. Bahkan, sebut dia, Presiden juga tak mewajibkan para menterinya untuk mengikuti kegiatan gelar griya yang diadakannya. Menurutnya, pemimpinnya itu enggan merepotkan jajaran menteri yang kemungkinan sudah memiliki agenda tersendiri pada hari raya ini.
Tahun ini, lanjut Prasetyo, jumlah masyarakat yang mendatangi acara gelar griya itu sekitar 4.000 orang hingga 5.000 orang. Pihaknya memang tidak melakukan pembatasan secara khusus. Segenap masyarakat yang hendak datang dipersilakan sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan, yakni pukul 13.00 - 16.00.
“Jadi kita berikan kesempatan kepada masyarakat yang ingin hadir sukarela dipersilakan. Sepanjang masih memungkinkan, kami persilakan untuk masuk ke dalam lingkungan Istana Merdeka,” kata Prasetyo.
Prasetyo mengungkapkan, tradisi gelar griya sebenarnya sudah berlangsung hampir setiap tahun. Presiden sekadar meneruskan kebiasaan para pemimpin pendahulunya. Perbedaannya, kali ini, Presiden justru mengedarkan surat yang isinya imbauan untuk mengurangi ajang halalbihalal bagi jajaran pejabat pemerintah, kementerian, dan lembaga.
“Sebagaimana kita ketahui bersama, banyak saudara-saudara kita di berbagai daerah masih mengalami kesulitan. Karena itu, Bapak Presiden memilih untuk memprioritaskan ajang ini untuk masyarakat umum. Kira-kira begitu,” kata Prasetyo.
Sekadar sajian makanan berlimpah dan ajakan masuk Istana Negara sudah membuat seorang rakyat merasa seperti ratu atau raja. Andaikan segenap pemimpin bangsa bekerja keras mewujudkan kesejahteraan rakyat. Boleh jadi, masyarakat akan menjadi raja di negerinya sendiri setiap hari. Bukan hanya sehari.





