Sepotong Senja dari Washington

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Ketika orang berpikir bahwa sang fajar adalah awal dari keberuntungan, mereka tidak pernah menyadari kalau di belahan dunia yang lain, banyak orang seakan tak mau melihat terbitnya mentari karena ingin tetap berada dalam malam yang mencekam. Mereka tidak mau melihat cahaya baru yang hanya memperpanjang penindasan dan penderitaan.

Senja telah merenggut kebahagiaan mereka. Bencana kemanusiaan justru hadir di saat kehidupan seharusnya beristirahat layaknya senja yang akan mengantar malam memasuki tubuh-tubuh yang lelah. Ketidakadilan dalam sejarah dunia ibarat membaca tentang sepotong senja karya Seno Gumira Adjidarma: senja yang hanya mendatangkan bencana dan tidak menyisakan sedikit pun harapan untuk kehidupan yang lebih baik.

Penghujung setiap tahun selalu ditandai dengan seruan perdamaian di seluruh dunia yang konon bersumber dari sebuah kota kecil di Betlehem Efrata.

Kota yang terkecil di antara kaum Yehuda itu seperti dalam nubuatan nabi Mikha tentang kelahiran Yesus Kristus (Mikha 5), yang ditulis di Yehuda ± 777-717 S.M. Nubuat tersebut menyatakan bahwa dari kota kecil itu akan lahir seorang tokoh terbesar sepanjang masa yang kelak berpengaruh bagi peradaban dunia ribuan tahun kemudian. Perdamaian sejati menjadi tema akan kehadiran sang raja damai yang dinanti-nantikan.

Bahkan, dalam buku Mikha digambarkan betapa indahnya perdamaian yang akan dibawa oleh sang raja:

Menurut kisah nubuatan dalam buku Mikha; sebelum masa damai itu datang, bangsa Israel yang murtad dan tidak setia harus dimusnahkan lebih dahulu oleh bangsa-bangsa kafir di sekitar mereka.

Hal ini terbukti pada tahun 740 S.M, sewaktu Samaria—yang merupakan ibu kota Israel sepuluh suku di sebelah utara—dihancurkan oleh orang Asyur di bawah raja Sargon dan terus mengalami kemunduran sampai masa penaklukan Aleksander Agung pada abad keempat S.M—menurut The New Westminster Dictionary of Bible 1970, kota Samaria mengalami penghancuran terakhir pada abad kedua S.M di masa John Hyrcanus I.

Sementara itu untuk Yerusalem—yang merupakan ibu kota Yehuda Israel—dimusnahkan oleh Babilonia pada tahun 607 S.M dan berlanjut sampai penaklukkan tentara Romawi pada tahun 70 M.

Setelah peristiwa-peristiwa “senja” itu, muncullah sosok mesias yang dijanjikan di tengah bangsa Israel. Namun sayangnya, raja damai yang dinubuatkan itu ditolak, bahkan dibunuh oleh bangsanya sendiri.

Setelah peristiwa itu, senja seolah tak pernah hilang di langit Yerusalem. Sampai saat ini, tanah tiga agama samawi itu terus bergejolak dan berdarah. Konflik dan penindasan terus terjadi sampai saling klaim sebagai pemilik sah dari tanah yang konon adalah tanah perjanjian yang diberikan Yahwe kepada umat-Nya.

Yerusalem sendiri dalam bahasa Ibrani mengandung arti “kedamaian ganda” atau “kota damai”. Namun apa yang kita lihat dari sejarah kota tersebut sejak penaklukan Romawi pada tahun 70 M sampai sekarang tidak menggambarkan suasana yang damai seperti yang tersirat dalam namanya.

Bahkan, konflik Israel-Palestina telah melebar ke seluruh dunia dengan munculnya aksi-aksi solidaritas antara negara-negara yang mendukung Israel dan yang mendukung Palestina. Benih-benih kebencian melahirkan gerakan-gerakan terorisme dan menumbuhkan fundamentalisme agama yang mengancam perdamaian dunia.

Sungguh ironis. Di saat umat Kristen di seluruh dunia sedang memasuki masa Prapaskah dan umat Islam menjalani masa puasa Ramadan, terdengar kabar “senja” telah dikirimkan dari Washington oleh Presiden Donald Trump yang mendukung perang bersama sekutunya Israel di jalur Gaza Palestina.

Senja yang dikirimkan itu sebenarnya adalah senja terindah dari Trump kepada sekutunya Israel, tetapi ia tak menyadari atau bahkan pura-pura lupa kalau senja itu adalah bencana bagi bangsa Palestina dan mengancam perdamaian dunia pada umumnya. Pertanyaannya: Akankah nubuatan-nubuatan mengerikan dari kitab para nabi akan digenapi? Namun, bagaimana dengan nubuatan tentang perdamaian antarbangsa?

Kita hanyalah produk dari sejarah. Kita tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu dan melihat sejarah terjadi. Memang benar kalau sejarah lahir dari siapa yang menang dan berkuasa. Namun, kita adalah manusia bebas yang punya hak akan sejarah itu sendiri. Jadi, mengapa kita harus diam?

Aksi mengecam lewat berbagai konferensi antarnegara memang sangat diperlukan untuk melawan narasi tunggal barat mengenai Israel dan Palestina. Namun, kecaman sepertinya hanya akan menjadi angin lalu jikalau tak ada aksi nyata untuk menjalankan segala resolusi atau pun keputusan tentang penyelesaian konflik Israel-Palestina.

Solusi dua Negara telah menjadi senja yang tak pernah berakhir di langit tanah perjanjian. Langit yang terus menerus menerima doa-doa dari balik tembok ratapan, dari dalam Masjid Al-Aqsa, dan dari gema pujian dalam gereja makam Kristus—dari tempat ribuan peziarah rohani selalu berdatangan setiap tahun ternyata tak sanggup mendatangkan perdamaian yang dinanti-nantikan.

Setiap hari, fajar akan selalu menyingsing di langit tanah perjanjian dan sekitarnya. Namun, fajar itu tak jauh berbeda dengan senja yang mereka lihat pada sore harinya. Senja yang tidak pernah berubah warna selama tidak ada kerendahan hati dari mereka yang berkonflik untuk menerima perdamaian dan kenyataan bahwa sejarah berubah seiring dengan kehendak Tuhan yang berubah untuk tanah perjanjian.

Ia tidak lagi memaksakan satu bangsa untuk satu wilayah karena Ia adalah Tuhan atas segala bangsa yang berduyun-duyun menuju kota yang takkan pernah lagi melihat senja untuk selama-lamanya. Pada saat itu, ia akan disebut Yerusalem yang sebenarnya kota dengan perdamaian ganda; kota damai.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Demi Sampah, Pasukan Oranye Purwakarta Rela Tak Lebaran Bersama Keluarga
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Skuat Final Timnas Indonesia di FIFA Series: Era Baru John Herdman Dimulai, Banyak Nama Besar Terdepak!
• 22 jam lalumedcom.id
thumb
Trump Ultimatum Iran, 48 Jam Buka Selat Hormuz atau Listrik Padam
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Iran Melemah, Trump Tolak Gencatan Senjata! Negara Lain Enggan Ikut Campur
• 9 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Parma vs Cremonese, Emil Audero Gemilang, I Grigiorossi Menang
• 11 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.