Keputusan Donald Trump untuk menolak gencatan senjata dalam konflik dengan Iran memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas energi global. Risiko tersebut meningkat seiring ketegangan di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.
Dalam pernyataannya di Gedung Putih, Trump menegaskan tidak melihat urgensi menghentikan konflik saat ini. Ia menilai posisi Iran telah melemah sehingga tidak ada alasan untuk menghentikan operasi militer.
“Saya tidak ingin melakukan gencatan senjata. Anda tahu, Anda tidak melakukan gencatan senjata ketika Anda benar-benar sedang menghancurkan pihak lain,” ujarnya dikutip dari Anadolu.
Sikap tersebut berbeda dengan harapan sebagian negara yang mendorong de-eskalasi konflik. Sejumlah pihak internasional justru memilih menjaga jarak dari konflik yang dinilai dipicu oleh kebijakan Washington.
Trump juga menyebut Amerika Serikat tidak bergantung pada jalur energi di Selat Hormuz. Ia bahkan mendorong negara lain untuk mengambil peran lebih besar dalam menjaga jalur tersebut.
“Kami tidak menggunakan selat itu… Kami tidak membutuhkannya. Eropa yang membutuhkannya. (Korea) Selatan, Jepang, China… Jadi mereka harus sedikit terlibat,” tambahnya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di jalur pelayaran strategis tersebut. Sebelumnya, pihak Iran disebut mengancam pembatasan akses sebagai respons atas serangan militer Amerika Serikat dan Israel.
Langkah tersebut memicu kekhawatiran karena Selat Hormuz menjadi titik vital bagi perdagangan energi global. Gangguan di wilayah ini berpotensi memengaruhi pasokan minyak dan mendorong kenaikan harga energi dunia.
Di sisi lain, upaya Amerika Serikat untuk mengajak negara lain terlibat belum mendapat respons luas. Beberapa negara dilaporkan enggan ikut campur dan menilai konflik ini sebagai konsekuensi dari kebijakan militer Washington.
Ketegangan meningkat sejak operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar dan memicu respons balasan dari Iran.
Baca Juga: Rusia Bantu Iran Targetkan Pasukan AS, Sinyal Perang Proksi Memanas
Iran kemudian melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah target yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel di kawasan. Aksi tersebut memperluas eskalasi konflik dan meningkatkan ketidakpastian di tingkat global.
Hingga kini, belum terlihat adanya sinyal kuat menuju perundingan damai antara pihak-pihak yang terlibat. Situasi ini menempatkan stabilitas kawasan Timur Tengah dan pasar energi global dalam tekanan berkelanjutan.





