Putin Coba Tawarkan Amerika Tukar Intelijen, Ketegangan NATO dan Krisis Hormuz Memanas

wartaekonomi.co.id
6 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Rusia, Vladimir Putin, menawarkan skema pertukaran intelijen yang melibatkan konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur.

Langkah ini memicu kekhawatiran baru terkait meningkatnya ketegangan global yang berpotensi meluas, termasuk di kawasan Selat Hormuz.

Melansir Politico Europe, Rusia disebut bersedia menghentikan pertukaran intelijen dengan Iran jika United States melakukan hal serupa terhadap Ukraine.

Usulan tersebut disampaikan melalui utusan khusus Kremlin, Kirill Dmitriev dengan Steve Witkoff, rekan sejawatnya dari AS, dan menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner, dalam pertemuan di Miami.

Namun, Pemerintahan Donald Trump menolak tawaran tersebut. Meski tidak berlanjut, proposal ini tetap menimbulkan kekhawatiran di kalangan pejabat Eropa terkait potensi manuver Rusia dalam memecah soliditas aliansi Barat.

Sejumlah pejabat Uni Eropa menilai tawaran tersebut sebagai langkah yang tidak masuk akal dan berisiko tinggi. Mereka melihat adanya indikasi bahwa Rusia berupaya menghubungkan dua konflik berbeda untuk kepentingan strategis yang lebih luas.

Di saat yang sama, hubungan antara Amerika dan sekutu NATO juga tengah menghadapi tekanan. Trump bahkan secara terbuka mengkritik aliansi tersebut dan menyebutnya tidak efektif tanpa keterlibatan Amerika.

“Mereka tidak mau bergabung dalam upaya menghentikan Iran memiliki senjata nuklir. Kini setelah pertempuran dimenangkan secara militer dengan risiko kecil bagi mereka, mereka justru mengeluhkan harga minyak tinggi,” ujar Trump.

Ia juga menyoroti sikap sekutu yang dinilai enggan terlibat dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz. Padahal, menurutnya, langkah tersebut relatif sederhana dari sisi militer namun krusial untuk menekan lonjakan harga energi.

Trump bahkan menyebut sekutu-sekutu NATO tidak menunjukkan keberanian dalam menghadapi situasi tersebut. Pernyataan ini memperkuat sinyal adanya retakan dalam koordinasi di antara negara-negara Barat.

Ketegangan geopolitik semakin kompleks dengan meningkatnya konflik di Timur Tengah. Serangan gabungan Amerika dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari memicu respons balasan yang berdampak luas di kawasan.

Iran diketahui melancarkan serangan drone dan rudal serta membatasi akses di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute vital energi dunia dengan volume sekitar 20 juta barel minyak per hari dan sekitar 20 persen perdagangan gas alam cair global.

Baca Juga: Saat Perangi Iran, Amerika Serikat Ternyata Jualan Senjata ke Timur Tengah

Kondisi tersebut mendorong kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Gangguan di Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan memperburuk tekanan ekonomi di berbagai negara.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik yang awalnya terpisah kini mulai saling terhubung dalam dinamika geopolitik global. Tawaran Rusia dan respons Amerika menjadi bagian dari pergeseran strategi yang dapat memengaruhi arah hubungan internasional ke depan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Melihat Kecelakaan Lalu Lintas? Begini Pertolongan Pertama yang Tepat
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Tips Jaga Pola Makan Pasca Ramadan, Yuk Lanjutin Kebiasaan Sehat!
• 4 jam lalumedcom.id
thumb
Ramalan Zodiak 22 Maret 2026: Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius, dan Pisces
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Militer Israel Bantah Terlibat Serangan ke Fasilitas Nuklir Iran, Siapa Pelakunya? | KOMPAS SIANG
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
KAI Catat 174 Ribu Penumpang Jarak Jauh Bepergian pada 21 Maret
• 17 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.