Krisis Dunia Berdampak pada Gizi Anak

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Dunia rentan menghadapi guncangan ekonomi karena konflik atau perang, pandemi, dan cuaca ekstrem. Dampaknya dapat menyebabkan kenaikan tajam harga pangan yang mengakibatkan masalah kesehatan jangka panjang, termasuk pertumbuhan anak-anak yang terhambat.

Hal itu juga menjadi pengingat bagi pemimpin global agar perang AS-Israel dengan Iran jangan sampai merembet pada kesulitan masyarakat mengakses pangan. Penting untuk memahami dampak konflik dunia pada gizi anak dalam jangka pendek dan jangka panjang. Tujuannya agar tiap negara dapat mengembangkan strategi untuk mengurangi dampak negatif yang paling besar.

Para peneliti di University of Bonn, Jerman, dalam publikasi di jurnal Global Food Security pada Maret 2026, mengungkapkan dampak jangka panjang dari krisis keuangan dengan menggunakan data dari "krisis keuangan Asia" pada akhir 1990-an. Selama periode itu, gejolak di pasar keuangan menyebabkan harga beras melonjak secara dramatis di Indonesia, di mana beras adalah makanan pokok utama.

Baca JugaAnak Indonesia Masih Rawan Akses terhadap Makanan

Kenaikan tajam harga pangan selama krisis ekonomi cenderung memukul kelompok tertentu paling keras. Penduduk perkotaan dan keluarga dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah seringkali sangat rentan.

Guncangan harga ini dapat menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang, termasuk pertumbuhan anak-anak yang terhambat. Dari penelitian didapati, kenaikan biaya pangan yang tiba-tiba ini meninggalkan jejak terukur pada perkembangan fisik anak-anak.

Untuk menyelidiki efeknya, para peneliti dari Pusat Penelitian Pembangunan di Universitas Bonn menganalisis data dari Survei Kehidupan Keluarga Indonesia (IFLS), sebuah studi jangka panjang yang melacak rumah tangga selama bertahun-tahun. Mereka meneliti perbedaan regional dalam inflasi harga beras antara tahun 1997 dan 2000 dan membandingkan pola tersebut dengan pengukuran tubuh yang tercatat selama masa kanak-kanak dan kemudian di awal masa dewasa.

"Kami melihat bahwa guncangan harga besar-besaran tidak hanya memiliki dampak jangka pendek, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan fisik jangka panjang anak-anak," kata Elza S Elmira, penulis utama studi dari Pusat Penelitian Pembangunan di Universitas Bonn.

Jika kebijakan makanan hanya memperhatikan kalori, itu bisa melewatkan masalah sebenarnya.

Menurut Elmira, kenaikan harga yang disebabkan oleh krisis meningkatkan kekurangan gizi kronis dan dikaitkan dengan peningkatan 3,5 poin persentase kasus stunting anak. Anak-anak yang terkena dampak parah tidak hanya akan tetap lebih pendek daripada rekan-rekan mereka yang tidak terpengaruh di kemudian hari, mereka juga akan secara signifikan lebih rentan terhadap obesitas.

Namun, peneliti juga mendapati hubungan antara kekurangan gizi pada masa kanak-kanak dan risiko obesitas yang lebih besar di kemudian hari.  Elmira memaparkan ini bisa terjadi karena saat krisis, keluarga menghemat lebih sedikit kalori daripada makanan yang lebih mahal dan kaya nutrisi.

“Hal ini menghasilkan 'kekurangan tersembunyi' mikronutrien penting, yang memperlambat pertumbuhan tinggi badan tanpa harus mengurangi berat badan pada tingkat yang sama," kata Elmira

Dalam penelitian tersebut, para peneliti terus melacak individu yang sama hingga 2014, ketika mereka berusia antara 17 dan 23 tahun. Di antara mereka yang berusia 3-5 tahun selama krisis, data mengungkapkan hubungan yang jelas antara paparan awal guncangan harga, indeks massa tubuh (BMI), dan kemungkinan obesitas di kemudian hari.

Matin Qaim, ekonom pertanian dari Universitas Bonn yang juga terlibat dalam penelitian mengemukakan, kekurangan gizi pada anak usia dini dapat memiliki efek seumur hidup.  Dampak pada gangguan pertumbuhan lebih mudah diukur tetapi sering disertai dengan gangguan perkembangan mental dan peningkatan risiko obesitas dan penyakit kronis.

"Dalam krisis yang sama, kekurangan gizi dan obesitas keduanya dapat meningkat. Hal ini menggarisbawahi pentingnya kebijakan krisis yang sensitif terhadap nutrisi. Kebijakan ini harus secara khusus melindungi anak-anak dalam tahap perkembangan yang sensitif. Jika kebijakan makanan hanya memperhatikan kalori, itu bisa melewatkan masalah sebenarnya," kata Qaim.

Rentan di kota dan pendidikan rendah

Kajian dari Universitas Bonn tersebut juga menemukan efeknya terkuat di kota-kota. Rumah tangga perkotaan biasanya mengandalkan pembelian makanan, sementara beberapa keluarga pedesaan menanam padi mereka sendiri, yang dapat mengurangi paparan mereka terhadap lonjakan harga.

Pendidikan juga memainkan peran penting. Anak-anak yang ibunya memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah jauh lebih terpengaruh daripada mereka yang ibunya memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

"Hasilnya menunjukkan bahwa bantuan krisis tidak boleh hanya didasarkan pada garis kemiskinan. Terutama di kota-kota dan di tempat-tempat dengan pengetahuan rendah tentang diet seimbang, guncangan harga dapat memperburuk kualitas nutrisi sehingga konsekuensinya bersifat jangka panjang dan tidak dapat diubah," tutur Elmira.

Baca JugaIroni ”Stunting” di Ibu Kota

Para peneliti mencatat bahwa guncangan panen, pendapatan, dan harga pangan menjadi lebih umum di seluruh dunia karena konflik, pandemi, dan cuaca ekstrem. Kasus Indonesia memberikan bukti dunia nyata yang menunjukkan bagaimana gejolak ekonomi dapat diterjemahkan menjadi risiko kesehatan jangka panjang melalui kenaikan harga pangan.

Elmira memperingatkan bahwa temuan mereka mencerminkan hubungan statistik. Selama periode waktu yang lama, tidak selalu mungkin untuk sepenuhnya mengesampingkan faktor lain yang juga dapat mempengaruhi hasilnya.

Mikronutriaan resistensi antibiotik

Terkait dampak kekurangan mikronutrien pada tubuh, peneliti dari University of British Columbia (UBC), Kanada, menemukan hubungan yang mengejutkan antara kekurangan mikronutrien dan komposisi mikrobioma usus di awal kehidupan. Hal ini dapat membantu menjelaskan mengapa resistensi terhadap antibiotik telah meningkat di seluruh dunia.

Paula Littlejohn, peneliti pascadoktoral di Departemen Genetika Medis UBC, menjelaskan, sekitar 340 juta anak di bawah lima tahun menderita kekurangan mikronutrien ganda. Hal ini tidak hanya memengaruhi pertumbuhan mereka tetapi juga secara signifikan mengubah mikrobioma usus mereka.

"Temuan kami sangat memprihatinkan karena anak-anak ini sering diresepkan antibiotik untuk penyakit terkait malanutrisi. Ironisnya, mikrobioma usus mereka mungkin siap untuk resistensi antibiotik karena kekurangan mikronutrien yang mendasarinya," kata Littlejohn.

Menurut Littlejohn, resistensi antibiotik sering dikaitkan dengan penggunaan antibiotik yang berlebihan dan penyalahgunaan antibiotik. Namun, penelitian terbaru UBC menunjukkan bahwa “kelaparan tersembunyi” dari kekurangan mikronutrien adalah faktor penting lainnya.

Baca JugaAnak Usia Sekolah Alami Banyak Masalah Kesehatan dan Gizi

Studi yang diterbitkan di jurnal Nature Microbiology tahun 2024 tersebut menawarkan wawasan penting tentang konsekuensi luas dari kekurangan mikronutrien di awal kehidupan. Ini menggarisbawahi perlunya strategi komprehensif untuk mengatasi kekurangan gizi dan efek riaknya terhadap kesehatan.

“Mengatasi kekurangan mikronutrien lebih dari sekadar mengatasi kekurangan gizi, ini juga dapat menjadi langkah penting dalam memerangi momok global resistensi antibiotik,” kata Littlejohn.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jalur Puncak Diberlakukan One Way Arah Jakarta, Simpang Gadog Ditutup Sementara
• 4 jam lalurctiplus.com
thumb
Nonton Siaran Langsung Moto3 dan MotoGP: Aksi Veda Ega Pratama di Final Race
• 1 jam laluharianfajar
thumb
Warga Padati Anjungan Halte Bundaran HI saat Libur Lebaran
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Sudinhub Jaksel Siagakan Personel di Ragunan dan Tebet Eco Park
• 51 menit lalutvrinews.com
thumb
Respons Ancaman Trump, Iran Siap Targetkan Infrastruktur Energi Hingga Desalinasi Air Timur Tengah
• 1 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.