Jakarta: Fenomena urbanisasi pascalebaran menjadi perhatian serius. Para pendatang baru diingatkan agar tidak sekadar bermodal nekat saat mengadu nasib di Ibu Kota, melainkan harus membekali diri dengan keahlian spesifik dan semangat berwirausaha.
"Pendatang baru harus benar-benar mempersiapkan diri dengan baik. Bekal utama yang harus dimiliki adalah keahlian, kompetensi, serta tujuan yang jelas," ujar anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, Hardiyanto Kenneth, dilansir Antara, Minggu, 22 Maret 2026.
Baca Juga :
Tarif Transum DKI Jakarta Rp1 Selama Dua HariKenneth menegaskan bahwa Jakarta sebagai magnet ekonomi nasional memang terbuka bagi siapa pun, namun pendatang diharapkan hadir sebagai pemberi solusi, bukan beban sosial. Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta tersebut mendorong kaum urban untuk jeli melihat peluang dengan membuka usaha mandiri atau memberdayakan sektor UMKM demi memacu roda ekonomi Jakarta.
"Kalau bisa datang ke Jakarta sekaligus membawa semangat berusaha, misalnya membuka usaha mandiri, memberdayakan UMKM, atau bahkan menciptakan lapangan kerja," lanjut Kenneth.
Kekhawatiran muncul dari potensi timbulnya masalah sosial jika pendatang tidak memiliki kesiapan finansial dan keterampilan. Ia menyoroti risiko menjamurnya fenomena "Pak Ogah" hingga "manusia gerobak" yang dapat mengganggu ketertiban umum serta citra Jakarta sebagai kota metropolitan.
"Saya tidak ingin melihat pendatang yang akhirnya menjadi Pak Ogah, manusia gerobak, atau bahkan terjerumus ke dalam tindakan kriminal. Hal ini harus menjadi perhatian bersama," ujar Kenneth.
Anggota DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth mengikuti rapat kerja DPRD DKI Jakarta. Foto: ANTARA/HO-DPRD DKI.
Ke depannya, Pemerintah Provinsi DKI bersama DPRD akan terus menyinergikan kebijakan penataan urbanisasi yang lebih terarah, termasuk penguatan keterampilan tenaga kerja. Kenneth optimistis dengan persiapan matang, pendatang baru dapat berkontribusi positif bagi pertumbuhan kota.
"Kami percaya dengan niat baik dan kerja keras, para pendatang bisa menjadi bagian dari solusi, bukan beban. Jakarta bukan hanya tempat mencari penghidupan, tetapi juga ruang untuk berkontribusi dan tumbuh bersama," ujar Kenneth.



