Jakarta: Krisis energi jadi salah satu dampak nyata Konflik Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran. Penutupan Selat Hormuz menjadi salah satu penyebab krisis tersebut.
Negara-negara, termasuk Indonesia, mulai merencanakan berbagai kebijakan untuk mengatasi krisis tersebut salah satunya menerapkan lagi kebijakan Bekerja Dari Rumah atau Work From Home (WFH).
Kebijakan tersebut diharapkan dapat mengurangi mobilitas masyarakat sehingga konsumsi BBM berkurang.
Baca Juga :
Strategi Efisiensi Presiden, dari Pangkas Anggaran tak Produktif hingga WFHPakistan menjadi salah satu negara yang menerapkan kebijakan WFH. Pakistan berencana menerapkan kebijakan WFH dua hari setiap minggu dan hanya staf penting yang boleh hadir di kantor.
Thailand juga berencana menerapkan kebijakan serupa. Pegawai pemerintah di Negeri Gajah Putih itu akan bekerja dari rumah, kecuali mereka yang jabatannya membutuhkan kehadiran fisik atau interaksi dengan publik.
Sementara itu, berdasarkan rilis yang dikeluarkan Badan Energi Internasional (IEA), IEA mendorong penerapan kebijakan WFH terutama di posisi-posisi yang memungkinkan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar.
WFH di Indonesia
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. Foto Metro TV.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memastikan kebijakan bekerja dari rumah atau WFH mulai diterapkan setelah Lebaran, sebagai upaya penghematan energi di tengah kenaikan harga minyak dunia.
"(Aturan) WFH akan didetailkan. Tetapi sesudah Lebaran kita akan berlakukan," ujar Airlangga, melansir Antara, Minggu 22 Maret 2026.
Kebijakan WFH berlaku bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), sedangkan bagi sektor swasta merupakan imbauan. Kebijakan WFH sendiri akan berlaku sehari dalam sepekan.




