HARIAN FAJAR, JAKARTA – Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman keras kepada Iran. Dia menyatakan akan menyerang pembangkit listrik terbesar di negara itu jika Selat Hormuz tidak segera dibuka dalam waktu 48 jam.
Pernyataan ini disampaikan melalui unggahan di platform media sosial miliknya, Truth, sebagai respons atas lumpuhnya lalu lintas kargo minyak dan gas yang melewati jalur strategis tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur transit vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. Gangguan pada jalur ini telah menyebabkan lonjakan harga minyak mentah global, dengan kontrak berjangka Brent ditutup pada harga US$112,19 pada Jumat lalu.
Kondisi ini menimbulkan tekanan politik dalam negeri Amerika Serikat, terutama menjelang pemilihan umum paruh waktu yang sangat bergantung pada kondisi ekonomi dan biaya konsumen.
Konflik Berkepanjangan dan Dampaknya pada Pasokan EnergiKetegangan di kawasan semakin meningkat setelah Israel melakukan serangan terhadap ladang gas South Pars, yang kemudian dibalas oleh Iran dengan serangan rudal terhadap fasilitas LNG terbesar di dunia di Qatar.
Serangan beruntun Iran di wilayah selatan Israel pada Sabtu menyebabkan lebih dari 100 orang terluka, sebagai balasan atas serangan sebelumnya terhadap fasilitas nuklir Iran.
Dalam situasi yang memanas ini, Trump juga menyerukan penghentian serangan Israel terhadap aset energi di kawasan, yang berpotensi memicu serangan balasan Iran dan semakin mempersempit aliran pasokan energi ke pasar global.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa operasi gabungan akan meningkat secara signifikan, seiring eskalasi konflik yang meluas.
Respons dan Strategi AS dalam Menghadapi KrisisTrump sempat mempertimbangkan untuk mengakhiri operasi militer di Selat Hormuz dan menyerahkan tanggung jawab keamanan kepada negara-negara yang bergantung pada pengiriman melalui koridor tersebut.
Namun, sinyal yang beragam dari presiden AS ini membuat pemerintah dan pasar kewalahan mengikuti perubahan strategi. Pada Jumat, Trump menulis bahwa mereka hampir mencapai tujuan dalam mempertimbangkan pengakhiran upaya militer besar-besaran di Timur Tengah.
Meski AS memproduksi minyak dan gas dalam jumlah rekor dan kurang bergantung pada sumber daya Timur Tengah dibandingkan negara lain seperti China dan Jepang, guncangan pasokan melalui Selat Hormuz tetap berimbas pada harga energi global.
Departemen Keuangan AS pun mengambil langkah dengan mengizinkan penjualan minyak dan produk petrokimia Iran yang sudah dimuat ke kapal tanker meski sanksi masih berlaku.
Upaya Diplomasi dan Tantangan SekutuTrump mengajak sekutu-sekutu AS untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal komersial, namun sebagian besar ajakan tersebut ditolak. Presiden AS bahkan mengecam anggota NATO sebagai “pengecut” karena tidak bergabung dalam upaya ini.
Sebelumnya, Trump menjanjikan pengawalan angkatan laut AS dan program reasuransi yang didukung pemerintah untuk mengurangi hambatan pengiriman kapal melalui selat, namun hingga kini belum ada tanda kapal tanker yang berhasil melintasi selat dengan bantuan militer AS.
Serangan rudal juga terus terjadi, dengan Iran menembakkan rudal ke kota Dimona di Israel sebagai balasan atas serangan terhadap fasilitas nuklir Natanz. Israel melaporkan sekitar 47 orang terluka akibat serangan tersebut, sementara serangan kedua di selatan Israel merusak tiga bangunan tempat tinggal dan menyebabkan lebih dari 60 orang terluka, termasuk tujuh yang dirawat di rumah sakit.
Ancaman Trump dan eskalasi konflik di Selat Hormuz menandai babak baru dalam ketegangan geopolitik yang berpotensi mengguncang stabilitas pasokan energi dunia dan memicu dampak luas bagi perekonomian global.





