Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Kholid Syeirazi menilai dorongan elektrifikasi di sektor rumah tangga dan transportasi berpotensi menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG).
Menurut Kholid, pemanfaatan listrik yang semakin luas—mulai dari kendaraan listrik hingga kompor listrik—akan menggeser sebagian konsumsi energi berbasis impor ke energi domestik.
“Iya kalau nanti semuanya elektrifikasi termasuk sektor transportasi dan rumah tangga, pasar itu kan bisa semuanya beralih ke listrik,” ujar Kholid ke pada Warta Ekonomi, dikutip Minggu (22/3/2026).
Meski demikian, ia menegaskan bahwa peralihan tersebut tidak akan terjadi secara total karena karakteristik kebutuhan energi yang berbeda di setiap sektor.
“Jadi tidak mungkin misalnya BBM beralih ke listrik semua, bensin beralih ke listrik semuanya," tambahnya.
Kholid menjelaskan, sejumlah sektor masih membutuhkan energi dengan tingkat panas tinggi yang belum sepenuhnya dapat digantikan oleh listrik, seperti usaha kuliner maupun industri tertentu.
“Karena kan ada tingkat panas yang berbeda ya antara kompor listrik dengan gas. Misalnya resto-resto itu nggak cukup pakai kompor listrik, bakso-bakso itu yang perlu panas yang lebih gede kan, kalorinya tinggi itu perlu LPG," tandasnya.
Baca Juga: Inggris Berbalik Arah, Kini Dukung Operasi AS ke Iran di Tengah Krisis Energi Global
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Guncang Energi dan Dunia Usaha
Dalam konteks tersebut, ia menekankan bahwa strategi energi nasional tetap mengedepankan bauran energi, dengan memanfaatkan berbagai sumber yang tersedia secara optimal.
Selain elektrifikasi, pemerintah juga mendorong pengembangan jaringan gas rumah tangga (jargas) serta diversifikasi energi lainnya guna memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian pasokan global.




