Petani di NTT Kerja Keras, Pedagang yang Untung Besar

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

KUPANG, KOMPAS - Minimnya akses petani Nusa Tenggara Timur ke pasar menyebabkan harga jual selalu tidak berpihak kepada mereka. Harga dikendalikan oleh para tengkulak yang telah terbentuk dalam lingkaran rantai distribusi yang sulit diputus. Pemerintah harus hadir membantu petani.

"Kita yang kerja keras banting tulang setiap hari tapi hasil yang kita dapatkan sangat minim. Malah sering rugi. Sedangkan pedagang yang ambil untung besar," kata Aser Said (52), petani dari Desa Kualeu di pedalaman Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT, Minggu (22/3/2026).

Ia mencontohkan, kacang buncis yang mereka jual kepada pengepul dengan harga Rp 3.000 per kilogram. Dari sana, buncis dibawa sampai ke Soe, ibu kota kabupaten, lalu dijual dengan harga Rp 8.000. Selanjutnya dibawa ke Kupang dan dijual dengan harga Rp 20.000.

Baca JugaKemiskinan di NTT Berwajah Perempuan

Menurutnya, petani di pedalaman belum terorganisir secara baik sehingga mudah dipengaruhi oleh tengkulak atau pengepul. Harga jual dipatok oleh tengkulak yang datang dengan modal besar dan didukung sarana angkutan hingga menjangkau pedalaman.

"Kami petani pasti kalah dan menyerah kepada tengkulak. Kami tidak punya angkutan. Jalan ke kota juga rusak. Kalau pemerintah buka jalan dan bantu pemasaran, kami bisa bersaing," ucapnya.

Keterisolasian itu membuat hampir semua masyarakat di desa berpenduduk sekitar 1.200 jiwa itu hidup dalam bayangan kemiskinan. Angka tengkes atau stunting juga tinggi. Padahal, daerah tersebut merupakan sentra pertanian yang subur. 

Baca JugaKemiskinan Masih Membayangi 2,4 Juta Anggota Koperasi di NTT

Timor Tengah Selatan merupakan salah satu penyumbang kemiskinan tertinggi di NTT. Jumlah penduduk miskin pada September 2025 sebanyak 1,03 juta jiwa. Garis kemiskinan yang ditetapkan sebesar Rp 563.052 per kapita per bulan. 

Begitu juga stunting. Prevalensi stunting di Timor Tengah Selatan melampaui 50 persen. Artinya, separuh dari jumlah balita di daerah itu dalam keadaan stunting. Adapun prevalensi stunting di NTT berkisar pada angka 37 persen.

Di tengah keterbatasan itu, sejumlah petani berusaha menyiasati jalan keluar untuk pemasaran. Mereka memanfaatkan potensi pasar sekitar. Di Desa Napan, Kabupaten Timor Tengah Utara, Bastian Oki (25), petani, menjual semangka hingga ke gerbang perbatasan.

Serial Artikel

Perdebatan Kemiskinan di NTT, BPS Tak Miliki Identitas Penduduk Miskin

Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) bersifat estimasi. BPS tidak menyediakan data berdasarkan nama dan alamat warga miskin.

Baca Artikel

Ia menyasar warga negara Timor Leste di Pos Lintas Batas Negara Napan. Harga satu buah semangka 5 dollar Amerika atau sekitar Rp 80.000. "Semangat yang sama kalau di Indonesia hanya Rp 20.000," katanya. Ia juga menjual lewat media sosial.

Direktur Centrum Inisiatif Rakyat Mandiri John Mangu Ladjar mengatakan, untuk membawa masyarakat keluar dari kemiskinan perlu pendekatan yang komprehensif. Petani harus diberi pemahaman dan penguatan dalam bertani terutama di era dengan tentangan iklim yang tinggi.

"Selanjutnya petani miskin harus diberikan aset untuk mengelola lahan dan budidaya pertanian, kemudian buka akses pasar untuk mereka. Ini tidak sulit karena pemerintah punya sumber daya besar," kata John.

John memiliki pengalaman menangani banyak kelompok petani miskin di wilayah Timor. Bersama tim, mereka melakukan pendampingan secara terus-menerus termasuk tinggal bersama petani selama beberapa pekan. Hasilnya positif.

Sebelumnya, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengatakan, pemerintah berusaha menghadirkan solusi untuk pemasaran produk petani. Salah satunya lewat gerai NTT Mart yang kini berdiri di setiap ibu kota kabupaten.

Selain itu, lanjut Melkiades, juga Koperasi Merah Putih yang kini sedang dibangun di setiap desa. Wadah tersebut diharapkan dapat menjembatani petani di desa dengan akses pasar. Jika sistem sudah terbangun, petani akan terbantu.

Serial Artikel

Kemiskinan dan Korupsi Masih Menjerat NTT, 10 Tahun Predikat WTP Apa Ada Maknanya?

Selama sepuluh tahun, kemiskinan NTT turun hanya 0,78 persen.  Praktik korupsi juga masih tinggi. Penilaian dari BPK itu hanya bersifat administratif.

Baca Artikel


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Berhasil Ketemu, Denada Bakal Bawa Ressa Rizky Bertemu Adik Kandungnya
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
Momen Perayaan Idulfitri 2026, Mintarsih: Masyarakat Inginkan Kesenjangan Sosial Jangan Makin Melebar
• 21 jam lalujpnn.com
thumb
Wajah kemenangan: Saat istana terbuka dan Nusantara berbalut harmoni
• 12 jam laluantaranews.com
thumb
Momen Hangat! Prabowo Terima Jokowi dan Keluarga Halal Bihalal Idulfitri di Istana
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
Obesitas bukan Sekadar Masalah Makan dan Olahraga, Begini Penjelasan Ahli
• 8 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.