BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Panas Ekstrem di Indonesia

tvrinews.com
1 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Nisa Alfiani

TVRINews, Jakarta

Cuaca panas yang dirasakan masyarakat Indonesia dalam beberapa hari terakhir bukan sekadar sensasi belaka. BMKG menegaskan bahwa peningkatan suhu ini merupakan dampak dari fenomena astronomi sekaligus kondisi meteorologi yang sedang berlangsung.

Melalui unggahan resmi, BMKG menjelaskan bahwa salah satu faktor utama yang memicu teriknya cuaca adalah gerak semu tahunan Matahari. Pada periode 21–23 Maret 2026, posisi Matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa sehingga intensitas radiasi yang diterima permukaan bumi menjadi maksimal.

“Dalam periode tersebut, Matahari berada hampir tegak lurus di atas kepala. Ini membuat paparan panas terasa lebih kuat dibanding hari-hari biasanya,” tulis BMKG dalam keterangan resminya, Minggu, 22 Maret 2026.

Minimnya tutupan awan di sejumlah wilayah Indonesia juga membuat radiasi sinar matahari langsung mencapai permukaan bumi tanpa banyak hambatan. Kondisi ini terjadi bersamaan dengan fase awal musim kemarau.

“Cuaca panas saat ini merupakan akumulasi dari faktor astronomi dan meteorologi, termasuk berkurangnya awan dan pergeseran menuju musim kemarau,” jelas BMKG.

BMKG juga mengungkapkan bahwa sebanyak 325 Zona Musim (ZOM) atau 46,5 persen wilayah Indonesia diprediksi memasuki musim kemarau lebih awal. Sementara itu, 173 ZOM (24,7 persen) akan memasuki musim kemarau sesuai pola normal, dan hanya 72 ZOM (10,3 persen) yang diperkirakan mengalami keterlambatan.

Sejumlah daerah yang akan mulai merasakan musim kemarau pada April 2026 meliputi:
    •    Jawa Barat bagian utara
    •    Pesisir utara dan selatan Jawa Tengah
    •    Sebagian besar Daerah Istimewa Yogyakarta
    •    Sebagian kecil Sulawesi Selatan
    •    Sebagian wilayah Bali
    •    Nusa Tenggara Barat
    •    Nusa Tenggara Timur

BMKG Imbau Masyarakat Tetap Waspada

Meski cuaca panas ini termasuk fenomena yang wajar, BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh dan menyesuaikan aktivitas di luar ruangan.

“Tidak perlu panik atau khawatir berlebihan. Yang terpenting adalah mengambil langkah perlindungan dasar agar tubuh tetap fit,” ujar BMKG.

Adapun langkah antisipasi yang disarankan antara lain:
    •    Memperbanyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi
    •    Menggunakan sunscreen atau pelindung UV saat beraktivitas di luar
    •    Mengenakan pakaian berbahan katun yang mudah menyerap keringat
    •    Mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan pada siang hari

BMKG juga meminta masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca harian agar dapat menyesuaikan kegiatan dengan kondisi atmosfer yang dinamis.

Editor: Redaktur TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sinyal Baru! Trump Pertimbangkan Akhiri Operasi Militer ke Iran, Tolak Gencatan Senjata
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Ribuan Warga Banjarmasin Serbu Makan Gratis di Balai Kota
• 23 jam lalutvrinews.com
thumb
5.000 Umat Muslim di Denpasar Shalat Id dengan Khidmat
• 21 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kemarau Panjang dan Kebakaran Hutan: Laporan Sesdalopbang RI 1996-1998
• 20 jam laludetik.com
thumb
Anies Baswedan: Pernyataan Presiden Minta Kasus Andrie Yunus Diusut Tuntas Harus Diwujudkan Aparat
• 19 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.