Wina (ANTARA) - Kepala Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) pada Sabtu (21/3) menekankan perlunya menahan diri secara militer guna menghindari risiko kecelakaan nuklir usai serangan baru terhadap fasilitas nuklir Iran.
IAEA melalui media sosial menyatakan bahwa pihaknya telah diberi tahu oleh Iran mengenai serangan terhadap fasilitas nuklir Natanz pada Sabtu pagi waktu setempat.
Badan tersebut tengah menyelidiki situasi dan tidak menerima laporan adanya peningkatan tingkat radiasi di luar lokasi.
Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi kembali menegaskan seruannya untuk menahan diri secara militer guna menghindari kerusakan lebih lanjut yang berpotensi mengakibatkan bencana
Organisasi Energi Atom Iran melaporkan bahwa Israel dan Amerika Serikat (AS) telah menyasar kompleks pengayaan uranium Natanz pada Sabtu pagi waktu setempat. Tidak ada laporan kebocoran radioaktif, dan warga di sekitar lokasi tidak berada dalam risiko.
Fasilitas nuklir Iran telah beberapa kali menjadi sasaran serangan sejak militer gabungan Israel-AS memulai serangan terhadap negara di Timur Tengah itu pada 28 Februari.
Pekan lalu, pada Selasa (17/3) malam waktu setempat, sebuah serangan menghantam area Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr di pesisir selatan sepanjang Teluk Persia.
Otoritas Iran menyatakan bahwa itu merupakan serangan ketiga di sekitar fasilitas nuklir Iran setelah Natanz dan Isfahan, serta mendesak IAEA untuk mengutuk serangan tersebut, seraya memperingatkan adanya "situasi yang sangat genting dan serius."
IAEA melalui media sosial menyatakan bahwa pihaknya telah diberi tahu oleh Iran mengenai serangan terhadap fasilitas nuklir Natanz pada Sabtu pagi waktu setempat.
Badan tersebut tengah menyelidiki situasi dan tidak menerima laporan adanya peningkatan tingkat radiasi di luar lokasi.
Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi kembali menegaskan seruannya untuk menahan diri secara militer guna menghindari kerusakan lebih lanjut yang berpotensi mengakibatkan bencana
Organisasi Energi Atom Iran melaporkan bahwa Israel dan Amerika Serikat (AS) telah menyasar kompleks pengayaan uranium Natanz pada Sabtu pagi waktu setempat. Tidak ada laporan kebocoran radioaktif, dan warga di sekitar lokasi tidak berada dalam risiko.
Fasilitas nuklir Iran telah beberapa kali menjadi sasaran serangan sejak militer gabungan Israel-AS memulai serangan terhadap negara di Timur Tengah itu pada 28 Februari.
Pekan lalu, pada Selasa (17/3) malam waktu setempat, sebuah serangan menghantam area Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr di pesisir selatan sepanjang Teluk Persia.
Otoritas Iran menyatakan bahwa itu merupakan serangan ketiga di sekitar fasilitas nuklir Iran setelah Natanz dan Isfahan, serta mendesak IAEA untuk mengutuk serangan tersebut, seraya memperingatkan adanya "situasi yang sangat genting dan serius."





