Jakarta, tvOnenews.com - Kabar kurang menyenangkan terungkap jelang gelaran Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Laporan intelijen memperingatkan adanya potensi ekstemis dan penjahat untuk menargetkan Piala Dunia.
Laporan yang ditinjau dari Reuters memaparkan ratusan juta dolar dana keamanan yang telah disetujui mengalami penundaan, sehingga persiapan Amerika Serikat tertinggal.
Pengarahan yang sebelumnya tidak dilaporkan dari pejabat federal dan negara bagian AS serta FIFA, federasi internasional yang mengawasi Piala Dunia, menguraikan risiko serangan ekstremis, termasuk infrastruktur transportasi dan kerusuhan sipil terkait dengan tindakan keras Presiden Donald Trump terhadap imigrasi.
Meskipun pengamanan di acara-acara seperti itu selalu ketat, para pejabat penegak hukum AS telah meningkatkan kewaspadaan secara khusus sejak dimulainya perang melawan Iran dan telah menyampaikan kekhawatiran tentang ancaman pembalasan.
Para pejabat yang bekerja mempersiapkan Piala Dunia di Amerika Serikat semakin menyuarakan kekhawatiran dalam beberapa pekan terakhir terkait dana hibah keamanan federal sebesar $625 juta atau setara Rp9,7 triliun yang terhambat untuk acara tersebut.
Padahal, dana itu merupakan bagian dari rancangan undang-undang pengeluaran yang didukung Partai Republik yang disahkan pada Juli 2025.
Badan Manajemen Keadaan Darurat Federal (FEMA), yang bertugas mendistribusikan uang tersebut, mengatakan pada bulan November bahwa mereka memperkirakan akan mengalokasikan dana tersebut paling lambat tanggal 30 Januari.
Menanggapi penyelidikan Reuters bulan ini setelah para pejabat dan penyelenggara mengeluh bahwa mereka belum menerima apa pun, FEMA mengumumkan telah memberikan hibah tersebut, dengan mengatakan bahwa uang itu akan "memperkuat persiapan keamanan."
Dengan pertandingan pertama dimulai di Meksiko pada 11 Juni dan kemudian di AS dan Kanada pada hari berikutnya, negara bagian dan kota yang menjadi tuan rumah acara tersebut sedang giat merencanakan, termasuk bagaimana melindungi diri dari kemungkinan serangan.
Pendanaan yang tertunda dan peringatan ancaman telah memperumit proses yang sudah kompleks, demikian disampaikan beberapa pejabat yang terlibat kepada Reuters.
Proses pendistribusian dana hibah biasanya memakan waktu berbulan-bulan, dan upaya untuk membeli teknologi dan peralatan bahkan bisa memakan waktu lebih lama lagi, menurut Mike Sena, presiden National Fusion Center Association, yang mewakili jaringan 80 pusat informasi di seluruh AS yang memfasilitasi berbagi intelijen federal, negara bagian, dan lokal.




