Setiap kali memasuki periode Ramadhan — Lebaran, Tia (38) merasa pengeluaran bakal meningkat. Selain belanja kebutuhan perayaan Idul Fitri, dia juga mesti memiliki alokasi dana khusus untuk bagi-bagi “tunjangan hari raya” bagi anggota keluarga lain.
Tia masih lajang dan tinggal di Bekasi, Jawa Barat. Sehari-hari, dia bekerja sebagai karyawan swasta di Jakarta.
“Menjelang Lebaran, pengeluaran pasti bertambah ya. Selain kebutuhan untuk rumah, alokasi pengeluaran terbesar lainnya adalah untuk bagi-bagi “tunjangan hari raya” bagi sekitar dan anggota keluarga lain,” ujar dia, saat dihubungi di Jakarta, Minggu (22/3/2026).
Semua pos pengeluaran tersebut masih bisa tertutup dari gaji dan uang tunjangan hari raya (THR) dari kantornya. Dia biasanya mengatur secara ketat setiap pos pengeluaran supaya jangan sampai boncos, lalu malah bongkar uang tabungan atau berhutang.
Lain cerita dengan Teguh (54), pengemudi ojek daring asal Jakarta Selatan. Dia mengaku tidak narik saat dua hari H — Lebaran. Pada hari itu, dia berkeliling kota Jakarta, lalu ke rumah saudara-saudara di Depok dan Bekasi.
Ini semua butuh uang. Tidak saja untuk kebutuhan bensin, tetapi juga untuk memberikan “tunjangan hari raya” ke keponakan dan sepupu yang usianya masih anak-anak, meski nominalnya kecil sesuai kemampuan.
Dia memperoleh bonus hari raya (BHR) dari aplikator. Pada Lebaran 2026, dia hanya memperoleh BHR sekitar Rp 150.000. Jumlah ini lebih sedikit dibanding Lebaran 2025 yang mencapai sekitar Rp 500.000.
“Performa narik saya memang lumayan turun. Dengan kondisi yang ada, uang dari BHR dipakai saja untuk bagi-bagi “tunjangan hari raya” seadanya ke keponakan dan sepupu. Sisanya paling buat tambah-tambah uang makan,” ucap dia.
Teguh juga mengaku, dengan adanya kabar harga berbagai jenis barang kebutuhan hidup naik, dia memilih untuk berhemat. Pendapatan dari narik ojek daring dipakai untuk hal-hal yang memang perlu dan mendesak, seperti makan dan ongkos bahan bakar minyak. “Beli baju Lebaran seperti tidak ya,” katanya.
Fenomena membengkaknya kebutuhan selama Ramadhan-Lebaran sebagaimana dikisahkan Tia dan Teguh terefleksi pula dalam hasil survei Bank Amar tentang konsumsi masyarakat selama Ramadhan-Lebaran 2026. Survei menyasar 1.600 responden pekerja berusia 20-55 tahun di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Makassar. Hasil survei dirilis di Jakarta, Selasa (17/3/2026).
Dari aspe pendapatan, mayoritas kelompok berpendapatan Rp 5–10 juta per bulan. Jumlahnya 45,9 persen responden. Sebanyak 44,6 persen di bawah Rp 5 juta per bulan, 6,2 persen berada pada rentang pendapatan Rp 10–15 juta per bulan, dan 3,3 persen di atas Rp 15 juta per bulan. Rata-rata responden memiliki tanggungan 2–4 orang.
Pos pengeluaran terbesar justru datang dari kebutuhan rumah tangga (86 persen), disusul kebutuhan baju Lebaran, buka bersama, hampers (67,6 persen), dan tiket mudik (26,4 persen).
Direktur Retail Banking Amar Bank, Abraham Lumban Batu, menyebutkan, 87 persen responden mengaku pengeluaran mereka meningkat selama Ramadan. Sebanyak 16,9 persen responden merasa kondisi keuangannya tetap nyaman sepanjang Ramadhan — Lebaran.
Tekanan pengeluaran yang naik bukan semata-mata dipicu oleh belanja simbolik. Pos pengeluaran terbesar justru datang dari kebutuhan rumah tangga (86 persen), disusul kebutuhan baju Lebaran, buka bersama, hampers (67,6 persen), dan tiket mudik (26,4 persen).
“Kami menduga, tantangan finansial Ramadhan — Lebaran kali ini lebih dekat dengan kebutuhan rutin dan semi-rutin yang menumpuk dalam periode singkat,” ujar dia.
Guna mengatasi tekanan itu, 50,4 persen responden menggunakan pinjaman, baik sepenuhnya maupun bersama dana darurat, untuk menghadapi pengeluaran tak terduga. Alasan sangat fungsional, yaitu terlalu lama menunggu THR atau gaji cair (33,6 persen) dan menutup kebutuhan yang tidak tertangani dari gaji (29 persen). Hanya 15,3 persen yang menyebut dorongan untuk belanja lebih banyak dari rencana.
Khusus terkait THR, 72,8 persen responden mengatakan THR memengaruhi atau setidaknya menjadi cadangan dalam keputusan pinjaman. Mayoritas juga melihat THR terutama sebagai dana untuk kebutuhan keluarga dan keagamaan (65,8 persen), bukan semata uang ekstra untuk gaya hidup.
Artinya, THR bisa dibaca sebagai jangkar psikologis. Ada rasa lebih aman dalam mengambil keputusan keuangan ketika ada arus kas masuk yang sudah terlihat.
Abraham juga mengatakan, survei yang sama membedah perbedaan strategi responden milenial dan generasi Z merespon tekanan kenaikan pengeluaran selama Ramadhan — Lebaran. Dari 765 responden generasi Z, 42 persen merasa kondisi keuangannya makin ketat di penghujung Ramadhan.
Saat menghadapi pengeluaran tak terduga seperti itu, 46 persen responden generasi Z menyatakan memilih untuk memakai dana darurat. Sebanyak 38,3 persen lainnya mengaku akan menggabungkan dana darurat dengan pinjaman. Sejumlah pekerja generasi Z menjaga stabilitas dan bertahan sampai fase paling berat terlewati menjadi prioritas utama.
Sementara pekerja generasi milenial cenderung lebih taktis dalam menyusun bantalan keuangan selama periode Ramadhan — Lebaran. Dari 461 orang responden milenial, 42 persen menyatakan menggunakan kombinasi dana darurat dan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan Ramadhan — Lebaran dan 38,8 persen menyatakan hanya memakai dana darurat.
“Sekitar 36 persen dari total responden milenial mengaku mengalami arus kas yang tidak menentu. Jadi, kalau lebih banyak responden milenial yang menyebut menggunakan kombinasi dana darurat dan pinjaman sekaligus, itu berarti mereka lebih siap memakai kombinasi strategi. Tujuannya agar kebutuhan Ramadhan — Lebaran tetap berjalan tanpa menunggu situasi sepenuhnya aman,” ucap Abraham.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Finansial Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, dalam brief update, Selasa (17/3/2026), mengatakan, selama periode Ramadhan dan Idul Fitri 2026, daya beli masyarakat menghadapi tekanan dari inflasi yang kembali meningkat.
Inflasi meningkat pada Januari dan Februari, dari 3,55 ke 4,76 persen. Inflasi musiman Ramadhan rata-rata menambah 0,3–0,8 persen dari bulan ke bulan.
“Tekanan inflasi juga dipengaruhi pelemahan Rupiah yang tidak diimbangi strategi stabilisasi harga, serta meningkatnya ketegangan geopolitik yang mendorong kenaikan harga energi,” ujar Rizal.
Di sisi lain, pertumbuhan upah pekerja cenderung melambat, dari di atas 3 persen pada 2023 menjadi 1,94 persen pada Agustus 2025. Perlambatan pertumbuhan upah itu terjadi pada saat inflasi terus naik. Kondisi itu memberikan tekanan daya beli dan menunjukkan kesejahteraan pekerja masih relatif terbatas.
Pertumbuhan upah buruh seperti itu lebih rendah dari inflasi, terutama inflasi pangan bergejolak. Hal ini, menurut Rizal, menunjukkan bahwa mekanisme penyesuaian upah telah tergerus oleh kenaikan biaya hidup, terutama untuk mencukupi kebutuhan dasar pangan.
Pemerintah telah merespons melalui stimulus fiskal berupa bantuan pangan, diskon tarif transportasi, percepatan belanja negara, dan kenaikan alokasi THR aparatur sipil negara, TNI, dan Polri. Dia menilai, kebijakan itu dapat membantu menjaga konsumsi jangka pendek, tetapi dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan tetap terbatas. Sebab, cakupan manfaat belum merata.





