Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menegaskan bahwa aktivitas mudik Lebaran menjadi motor penggerak ekonomi nasional.
Tradisi tahunan ini menciptakan efek berlapis bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pedagang, serta sektor jasa transportasi, sehingga mendorong peningkatan perputaran perdagangan dan jasa di berbagai daerah.
Baca Juga: Pemerintah Mau Hemat Energi, Muncul Wacana Terapkan Sekolah Daring Per April 2026, Bagaimana Distribusi Program MBG?
Data historis menunjukkan konsumsi rumah tangga meningkat 15%–20% dibandingkan bulan normal, seiring dengan tingginya mobilitas masyarakat dan percepatan perputaran uang (velocity of money). Tingginya Marginal Propensity to Consume (MPC) masyarakat Indonesia pada periode ini turut memperkuat dorongan konsumsi, bahkan meningkatkan pendapatan UMKM daerah hingga 50%–70%.
Secara empiris, mudik Idulfitri terbukti konsisten menjadi instrumen penguatan ekonomi. Kajian Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 mencatat aktivitas mudik berkontribusi sekitar 1,5% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional (yoy). Kontribusi tersebut terjadi melalui redistribusi aliran uang dari pusat aktivitas ekonomi ke berbagai wilayah, sehingga memperluas dampak ekonomi dan meningkatkan pemerataan peredaran uang.
“Setiap pengeluaran pemudik menciptakan efek pengganda yang memberikan dampak berlapis bagi pelaku ekonomi, termasuk UMKM, pedagang, dan sektor jasa transportasi. Peningkatan aktivitas tersebut juga berkontribusi pada kenaikan pendapatan dari sektor perdagangan dan jasa. Dengan potensi yang besar tersebut, sinergi kebijakan serta penguatan peran UMKM menjadi kunci untuk mengoptimalkan momentum mudik Lebaran guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya, dikutip dari siaran pers Kemenko Perekonomian, Minggu (22/3).
Untuk momentum Idulfitri 2026, proyeksi aktivitas ekonomi menunjukkan tren yang optimistis dan diperkirakan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Evaluasi Idulfitri 2025 yang mencatat pergerakan masyarakat mencapai 154,62 juta orang. Pergerakan dan belanja masyarakat di tahun 2026 diharapkan semakin meningkat agar mampu menunjang target pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 5,5%-5,6% (yoy).
Optimisme tersebut didukung oleh berbagai kebijakan stimulus, antara lain alokasi stimulus fiskal lebih dari Rp12,8 triliun, penyaluran bantuan sosial sebesar Rp11,92 triliun kepada 5,04 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) menjelang Idulfitri, serta diskon tarif transportasi senilai Rp911,16 miliar. Dengan kontribusi konsumsi rumah tangga yang mencapai sekitar 53%–54% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), berbagai stimulus tersebut diproyeksikan mampu memberikan dampak positif terhadap kinerja ekonomi nasional.
Pemerintah setiap tahunnya secara konsisten telah menerapkan berbagai kebijakan untuk mendorong aktivitas ekonomi melalui momentum mudik Idulfitri. Kebijakan tersebut antara lain pemberian diskon tiket transportasi umum yang dikompensasi melalui subsidi dan insentif fiskal, serta penangguhan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 6% untuk tiket pesawat pada Lebaran 2025 yang berhasil menurunkan harga tiket hingga 14%. Selain itu, dilakukan pula penurunan biaya kebandaraan dan harga avtur di 37 bandara guna meningkatkan keterjangkauan layanan penerbangan bagi masyarakat, Program Mudik Gratis untuk meringankan biaya perjalanan masyarakat, serta kebijakan Work From Anywhere (WFA) ASN sejak 2022–2025.
Baca Juga: Puncak Arus Balik Lebaran, Kemenhub Imbau Pemudik Hindari Pulang 24 Maret 2026
Kebijakan WFA telah menjadi inovasi strategis yang tidak hanya berfokus pada penguraian kepadatan arus mudik, tetapi juga secara terukur mampu memperpanjang durasi tinggal pemudik di kampung halaman. Dengan tetap menjalankan pekerjaan dan menerima pendapatan secara penuh, pemudik memiliki ruang waktu yang lebih panjang untuk beraktivitas dan berbelanja, sehingga mendorong peningkatan perputaran uang dan memperkuat aktivitas ekonomi selama periode Idulfitri
“Meski ada tekanan global akibat konflik Iran dan Israel-AS, fundamental ekonomi kita tetap kuat. Selain itu, Pemerintah juga berkomitmen tidak menaikkan harga BBM saat ini, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga. Jadi untuk Idulfitri tahun ini diprediksi kita optimis ekonomi bisa lebih baik dari tahun sebelumnya,” pungkas Juru Bicara Haryo.




