Aroma yang mengepul dari gerobak Bakso Pak Kumis, Jakarta Selatan, tak surut, bahkan saat Hari Raya Idul Fitri tiba. Ketika sebagian besar warga Jakarta pulang kampung untuk berkumpul bersama keluarga, Sum—pemilik Bakso Pak Kumis—justru memilih tetap tinggal dan berjualan seperti biasa.
“Biasa tahunan, [buka] setiap Lebaran,” ujar Sum saat ditemui di lapaknya pada hari kedua Lebaran, Minggu (22/3).
Pantauan kumparan, lapaknya dipenuhi pembeli yang sebagian mengenakan baju khas Lebaran. Meja nyaris penuh. Ada pula rombongan keluarga yang mengisi dua meja.
Adapun harga satu porsi sekitar Rp 20 ribu.
Bagi Sum, Lebaran bukanlah waktu untuk mudik, melainkan momen yang selalu dinanti karena ramainya pembeli. Ia mengaku sudah bertahun-tahun menjalani rutinitas yang sama, yakni tetap berjualan saat hari raya.
“Emang setiap tahun begitu. Setiap tahun enggak pernah Lebaran,” katanya.
Perempuan asal Wonogiri itu menyebut keputusan tidak mudik bukan tanpa alasan. Selain karena kini menetap di perantauan, ia juga tak lagi memiliki orang tua di kampung halaman.
“Rumahnya sudah di sini kan. Pulangnya di sini. Orang tua sudah enggak ada,” tuturnya.
Meski begitu, bukan berarti ia tak pernah pulang. Sum tetap menyempatkan diri ke kampung halaman setelah Lebaran.
“Abis Lebaran. Enggak tentu,” ujarnya singkat.
Di balik keputusannya bertahan berjualan, ada peluang rezeki yang tak ingin dilewatkan. Ia mengaku jumlah pembeli saat Lebaran memang sulit diprediksi, tetapi peningkatan omzet sudah pasti dirasakan.
“Enggak menentu,” katanya soal jumlah pengunjung dalam sehari.
Ketika ditanya soal kenaikan pendapatan, ia mengatakan memang terdapat peningkatan.
“Iya [naik]. Bisa dua kali lipat, lebih,” ungkapnya.





