Jakarta, CNBC Indonesia - Iran meluncurkan serangan rudal ke pangkalan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Inggris di Diego Garcia, Samudra Hindia.
Namun, dua rudal yang ditembakkan dilaporkan gagal mencapai sasaran.
Menteri Perumahan Inggris, Steve Reed, memastikan bahwa serangan tersebut memang ditujukan ke pangkalan strategis tersebut.
"Penilaian kami adalah bahwa Iran memang menargetkan Diego Garcia. Satu rudal jatuh sebelum mencapai target, sementara yang lain berhasil dicegat," ujarnya kepada BBC, dikutip dari CNBC Internasional, Minggu (22/3/2026).
Militer Israel mengungkapkan Iran menggunakan rudal balistik dua tahap dengan jangkauan hingga 4.000 kilometer, yang bahkan mampu menjangkau ibu kota negara-negara Eropa.
"Rudal-rudal ini tidak ditujukan untuk menyerang Israel. Jangkauannya mencakup ibu kota Eropa - Berlin, Paris, dan Roma semuanya berada dalam jangkauan ancaman langsung," kata Kepala Staf Letnan Jenderal Eyal Zamir.
The Wall Street Journal pertama kali melaporkan serangan tersebut pada Jumat, mengutip sejumlah pejabat Amerika Serikat.
Serangan ini disebut sebagai penggunaan operasional pertama rudal jarak menengah Iran, sekaligus menandai eskalasi konflik yang meluas jauh melampaui kawasan Timur Tengah.
Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan bahwa serangan Iran yang sembrono dan gangguan terhadap Selat Hormuz merupakan ancaman terhadap kepentingan Inggris dan sekutunya.
Jet Angkatan Udara Kerajaan Inggris dan aset militer lainnya disebut terus dikerahkan untuk melindungi personel di kawasan tersebut.
Sementara, Presiden AS Donald Trump langsung merespons keras tindakan tersebut. Ia mengultimatum Teheran untuk membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
"Jika Iran tidak sepenuhnya membuka Selat Hormuz tanpa ancaman dalam 48 jam, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan pembangkit listrik mereka," tegas Trump.
Ancaman diucap selang sehari setelah Trump sempat memberi sinyal akan meredakan konflik.
Iran pun tak tinggal diam. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur energi negaranya akan dibalas dengan menghancurkan fasilitas energi di seluruh kawasan.
"Seluruh infrastruktur energi dan fasilitas minyak di kawasan akan menjadi target sah dan akan dihancurkan secara permanen," katanya.
Sementara itu, konflik Iran-Israel juga semakin intens. Serangan rudal Iran menghantam wilayah dekat pusat riset nuklir Israel di Dimona dan Arad, menyebabkan puluhan korban luka.
Ini menjadi pertama kalinya fasilitas nuklir Israel menjadi target langsung sejak perang pecah.
Dampak konflik juga terasa pada jalur energi global. Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia, kini praktis lumpuh.
Harga minyak pun melonjak tajam. Minyak Brent ditutup di level US$112,19 per barel, tertinggi sejak 2022.
Untuk meredam lonjakan harga, AS bahkan melonggarkan sanksi terhadap pembelian minyak Iran selama 30 hari. Negara-negara G7 menyatakan siap mengambil langkah untuk menjaga pasokan energi global dan keamanan jalur pelayaran.
(ayh/ayh) Add as a preferred
source on Google




