Penyesalan Manajemen PSIS Semarang: Gagal Datangkan Carlos Fortes Demi Selamatkan Tim di Liga 2

harianfajar
2 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, SEMARANG — Dalam sepak bola, keputusan tidak selalu diukur dari apa yang dilakukan. Kadang justru dari apa yang tidak dilakukan. Dari peluang yang dibiarkan lewat, dari nama yang tidak dipanggil kembali, dari momen yang tidak diambil ketika masih mungkin.

Di ruang itulah penyesalan perlahan menemukan bentuknya.

Manajemen PSIS Semarang kini seperti dihadapkan pada cermin masa lalu. Bukan karena mereka tidak pernah mengenal kualitas Carlos Fortes, tetapi karena mereka pernah memilikinya—dan memilih untuk tidak kembali.

Padahal waktu sempat memberi celah.

Awal 2026 menjadi periode yang sunyi bagi Fortes. Setelah berpisah dengan Suzhou Dongwu FC pada 1 Januari, ia berstatus tanpa klub. Dalam bahasa bursa transfer, itu berarti satu hal: peluang terbuka, negosiasi lebih fleksibel, dan risiko finansial yang bisa ditekan.

Namun keputusan berjalan ke arah lain.

PSIS justru memilih Alberto Gonçalves—seorang striker berpengalaman, tetapi berada di fase akhir kariernya. Pilihan yang mungkin didasari pertimbangan stabilitas, tetapi dalam praktiknya tidak sepenuhnya menjawab kebutuhan tim yang sedang berjuang keluar dari tekanan.

Di saat yang sama, kompetisi tidak menunggu.

Rival seperti PSS Sleman justru bergerak agresif, membangun skuad dengan kualitas yang mendekati level kasta tertinggi. Dalam lanskap seperti itu, setiap keputusan menjadi pembeda—bukan hanya dalam hasil, tetapi juga arah musim.

Fortes sendiri bukan nama asing di sepak bola Indonesia. Bersama Arema FC pada musim 2021/2022, ia menjelma menjadi salah satu striker paling mematikan. Dua puluh gol dari 31 pertandingan bukan sekadar statistik, tetapi legitimasi.

PSIS pernah merasakan daya tarik itu. Mereka bahkan rela mengeluarkan biaya besar untuk membawanya ke Semarang, bersamaan dengan langkah ambisius mendatangkan Taisei Marukawa. Sebuah periode ketika klub terlihat ingin naik satu tingkat lebih tinggi.

Namun seperti banyak cerita dalam sepak bola, grafik performa tidak selalu stabil.

Di musim 2022/2023, Fortes hanya mencetak tiga gol dari 17 laga. Angka yang jauh dari ekspektasi. Meski sempat membaik dengan 10 gol di musim berikutnya, kepercayaan itu sudah terlanjur retak. PSIS memilih melepasnya—sebuah keputusan yang pada saat itu terasa logis.

Masalahnya, konteks selalu berubah.

Ketika Fortes menganggur, dan PSIS membutuhkan solusi instan di lini depan, kemungkinan untuk “kembali” itu sebenarnya ada. Bukan sebagai perjudian, melainkan sebagai opsi yang sudah teruji dalam konteks sepak bola Indonesia.

Tapi sepak bola tidak mengenal kata “andai”.

Kini, Fortes telah melanjutkan jalannya. Ia resmi bergabung dengan Song Lam Nghe An FC, membuka babak baru di Vietnam. Sementara PSIS harus menghadapi realitasnya sendiri—mencari jalan keluar tanpa pemain yang dulu pernah mereka miliki.

Penyesalan, jika memang ada, tidak akan mengubah klasemen. Ia hanya menjadi catatan di belakang layar, tentang bagaimana satu keputusan bisa memiliki dampak yang lebih panjang dari yang dibayangkan.

Di Liga 2, setiap poin terasa berat. Setiap peluang menjadi mahal. Dan setiap keputusan, sekecil apa pun, bisa menentukan arah sebuah musim.

PSIS mungkin tidak salah saat melepas Fortes.
Namun dalam sepak bola, benar pada satu waktu, belum tentu tepat untuk waktu yang lain.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dramatis! Di Giannantonio Rebut Pole MotoGP Brasil 2026 Usai Crash
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Presiden Prabowo: Reformasi Polri tak Mandek!
• 50 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Kakorlantas Imbau Pemudik Hindari Potensi Puncak Arus Balik 24 Maret: Manfaatkan WFA
• 9 jam laludetik.com
thumb
Link Live Streaming Liga Spanyol Barcelona vs Rayo Vallecano, Kick Off 20.00 WIB
• 7 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Terungkap! Pembunuh Wanita Terkunci di Kontrakan Jaktim Suami Siri
• 11 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.