Pekik Kritis Terbungkam, Demokrasi Roboh

kompas.com
10 jam lalu
Cover Berita

DEMOKRASI bukan sekadar sistem dan mekanisme memilih pemimpin secara terbuka, jujur dan adil. Lebih dari itu. Demokrasi adalah jaminan kedaulatan rakyat yang menjadi inti martabat manusia.

Demokrasi dalam konteks ini, bukan sekadar lembaga politik, tetapi penjaga roh dan marwah esensi manusia, yakni kedaulatan.

Salah satu bentuk kedaulatan itu adalah hak untuk berbicara, mengeluarkan pendapat, dan mengekspresikan hati nurani.

Hak untuk menyatakan sikap, termasuk berbeda pendapat dengan kekuasaan dan pemegang kuasa. Hak untuk berpekik dan berpaling dari sisi pemegang kuasa.

Siapa pun yang menghalangi penggunaan hak-hak elementer tadi, maka ia anti-martabat manusia.

Itulah sebabnya, Winston Churchil dengan tegas mengatakan,"Demokrasi, mungkin bukan sistem yang terbaik dan sempurna yang kita miliki, tetapi sampai sekarang, demokrasi jauh lebih baik daripada sistem-sistem yang lain."

Baca juga: Menjaga Persatuan, Merawat Kritik

Sejarah mencatat, banyak pemimpin yang dipilih melalui proses demokrasi yang jujur, terbuka dan adil.

Namun, lantaran kekuasaan begitu menggoda dan memberi kenyamanan, semua proses yang baik itu ia nistakan dengan syahwat kuasa tanpa tepian.

Demokrasi yang mengantarnya menjadi pemimpin, begitu kuasa dalam genggaman, ia justru melindas demokrasi secara sistematis.

Cara membungkam demokrasi, beragam rupa. Bisa dalam bentuk pembungkaman suara rakyat. Bisa dengan ancaman dan intimidasi kekuasaan. Malah, dalam banyak hal, penghilangan yang dibungkus rapi.

Sedangkan terpilih saja melalui proses demokrasi yang baik dan benar secara moral, etis dan hukum, seseorang tetap bisa menjadi monster terhadap demokrasi. Kekuasaan tanpa batas adalah musuh terbesar demokrasi.

Bagaimana lagi bila orang itu terpilih dengan cara-cara defisit akhlak, bangkrut moral dan penyalahgunaan kekuasaan berlebihan? Ia pasti menjadi tiran absolut.

Mengapa demokrasi memerlukan suara yang berseberangan dengan kekuasaan dan penguasa?
Suara kritis adalah penangkal kekuasaan yang sewenang-wenang. Suara kritis adalah pengingat laku kuasa yang tuna martabat.

Suara kirits adalah penanda bahwa dalam masyarakat atau hidup berbangsa, ada sesuatu yang perlu ditegur, bahkan dihardik. Tanpa teguran dan hardikan, laku kuasa tersebut merugikan kehidupan rakyat secara keseluruhan.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Dalam konteks inilah seyogianya kita memandang maraknya suara-suara kritis belakangan ini. Suara-suara tersebut tak perlu dipersepsikan sebagai ikhtir merongrong kekuasaan. Suara-suara itu justru ingin menjaga martabat kekuasaan agar tidak melindas.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gak Marah saat Rafathar Habiskan Rp30 Juta untuk Mainan, Gaya Parenting Raffi Ahmad Tuai Pujian
• 12 jam laluviva.co.id
thumb
Lonjakan Arus Balik, Personel Gabungan Perkuat Pengamanan dibPelabuhan Tembilahan
• 1 jam lalutvrinews.com
thumb
Menlu Iran Ucapkan Terima Kasih ke Indonesia, Saat Idulfitri
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
Liga Spanyol: Barcelona Makin Nyaman di Puncak Klasemen usai Tekuk Vallecano
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Trump Kerahkan Agen Imigrasi Atasi Krisis Bandara
• 7 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.