JAKARTA, KOMPAS.TV - Momen Lebaran identik dengan silaturahmi dan kebersamaan keluarga. Obrolan santai, tukar kabar, hingga nostalgia masa lalu biasanya menjadi warna utama.
Namun, suasana hangat itu bisa berubah canggung ketika ada anggota keluarga yang terus menonjolkan pencapaian pribadi, mulai dari penghasilan, barang baru, hingga gaya hidup.
Perilaku ini kerap disebut sebagai flexing. Dalam konteks keluarga, hal tersebut bisa memicu rasa tidak nyaman karena percakapan terasa seperti ajang perbandingan.
Psikolog klinis Phoebe Ramadina menyarankan, respons terbaik adalah tetap netral dan tidak terpancing untuk ikut bersaing.
“Respons yang netral dan tidak memperpanjang diskusi ke arah kompetisi sudah cukup, sambil tetap menjaga kesadaran bahwa apa yang terlihat belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya,” kata Phoebe, Selasa (17/3/2026), dikutip Antara.
Baca Juga: Ternyata Ini Penyebab Orang Suka Flexing
Sikap ini penting agar percakapan tidak berkembang menjadi ajang pembuktian diri yang justru melelahkan secara emosional.
Mendengar cerita keberhasilan orang terdekat sering kali terasa lebih “mengena” dibanding orang lain. Hal ini terjadi karena adanya kedekatan emosional dan sejarah hubungan yang panjang dalam keluarga.
Akibatnya, komentar sederhana soal pekerjaan atau pencapaian bisa terasa personal. Tanpa disadari, muncul dorongan untuk membandingkan diri.
Padahal, tidak semua yang ditampilkan mencerminkan kondisi sebenarnya. Dalam banyak kasus, perilaku pamer justru berakar dari:
- Kebutuhan validasi
- Keinginan mendapat pengakuan
- Upaya menutupi rasa tidak aman
Jaga Batas Emosional agar Tetap Nyaman
Penulis : Ade Indra Kusuma Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : Kompas TV, Antara
- lebaran 2026
- pamer
- tukang pamer
- flexing
- gaya hidup
- pamer gaya hidup





