Presiden Sebut Tak Ada Lagi Pengungsi, Mengapa Masih Ada Penyintas Hidup di Tenda?

kompas.id
11 jam lalu
Cover Berita

ACEH TAMIANG, KOMPAS — Presiden Prabowo Subianto menyebut pemulihan pascabencana di Aceh berlangsung cepat. Setelah empat bulan, tidak ada lagi penyintas yang tinggal di tenda pengungsian. Namun, di media sosial beredar video para pengungsi yang masih hidup di tenda pengungsian.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Aceh Tamiang Iman Suhery tidak memungkiri masih ada penyintas yang tinggal di tenda pengungsian. ”Namun, seharusnya tidak ada lagi penyintas di tenda karena sudah mendapat hunian sementara (huntara), dana tunggu hunian, atau bantuan perbaikan rumah dari pemerintah,” kata Suhery, Minggu (22/3/2026).

Suhery menyebut, mereka sudah menemui para penyintas yang masih tinggal di tenda pengungsian. Mereka meminta agar para penyintas yang sudah mendapatkan bantuan tidak lagi tinggal di tenda.

Suhery menyebut, ada sekitar 35.000 unit rumah rusak di Aceh Tamiang akibat banjir bandang yang menerjang pada akhir November 2025. Aceh Tamiang menjadi salah satu kabupaten yang mengalami dampak bencana paling parah akibat bencana yang melanda Aceh, Sumut, dan Sumatera Barat.

Dari total rumah rusak tersebut, kata Suhery, sebanyak 6.254 unit mengalami rusak berat sebagaimana hasil verifikasi faktual. Data rumah rusak berat kemungkinan masih bertambah karena sebagian masih dalam tahap verifikasi.

Pemerintah akan membangun hunian tetap untuk penyintas yang rumahnya rusak berat. Sebelum hunian tetap selesai, penyintas akan tinggal di huntara atau menyewa rumah menggunakan dana tunggu hunian (DTH) dari pemerintah. DTH dianggap setara dengan huntara.

Saat ini, pemerintah telah mendirikan lebih dari 1.200 huntara untuk penyintas dan 1.476 telah mendapat DTH. Sementara ada 1.300 keluarga lainnya sudah terverifikasi datanya dan sedang menunggu pencairan DTH.

Sementara penyintas yang rumahnya rusak ringan dan rusak sedang sudah mendapatkan dana perbaikan rumah masing-masing Rp 15 juta dan Rp 30 juta. Penyintas juga mendapat dana stimulan ekonomi Rp 5 juta dan membeli perabot Rp 3 juta per keluarga.

Suhery menyebut, beberapa penyintas yang rumahnya rusak sedang masih tinggal di pengungsian meskipun sudah mendapat bantuan perbaikan rumah dari pemerintah.

Baca JugaDua Bulan Pascabencana, Penyintas di Aceh Tamiang Berjibaku Bangkitkan Ekonomi

”Ada warga yang rumahnya rusak ringan atau sedang. Mereka sudah mendapat dana perbaikan rumah, tetapi belum sanggup membersihkan rumah sehingga tetap tinggal di pengungsian,” kata Suhery.

Suhery menyebut, ekonomi di Aceh Tamiang perlahan-lahan mulai bangkit setelah sempat terpuruk akibat bencana. Aktivitas perdagangan di pusat kota sudah berjalan dengan baik. Aktivitas pertanian, khususnya perkebunan kelapa sawit yang menjadi penopang ekonomi daerah itu, juga sudah berjalan normal.

”Salah satu indikator ekonomi sudah bangkit bisa dilihat dari kedai-kedai kopi di Aceh Tamiang kini sudah mulai ramai lagi,” kata Suhery.

Swandi (45), warga Aceh Tamiang, mengatakan, sejumlah warga masih tinggal di tenda pengungsian. Menurut dia, penyintas terpaksa tinggal di tenda pengungsian karena sebagian masih menunggu pencairan DTH dari pemerintah.

Namun, ada juga penyintas yang sudah mendapat DTH, tetapi tetap tinggal di tenda pengungsian karena uangnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Swandi sendiri sudah mendapatkan huntara dari pemerintah. Saat bencana menerjang, rumahnya hanyut terbawa banjir bandang. Demikian juga dengan becak motor yang biasanya dia gunakan untuk bekerja sehari-hari.

”Selama Ramadhan, saya mendapat rezeki bekerja membantu menjual santan kelapa di warung keluarga. Setelah Lebaran ini, saya harus mencari pekerjaan baru lagi,” kata Swandi.

Swandi menyebut, dia sudah terdata sebagai penyintas yang akan mendapatkan jatah hidup sebesar Rp 15.000 per jiwa per hari. Jatah hidup diberikan selama 90 hari. Namun, hingga saat ini, jatah hidup itu belum dia terima. Dia berharap bantuan bisa segera dicairkan.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyebut, progres pemulihan bencana berlangsung cepat dan signifikan. Itu dikatakan Presiden seusai shalat Idul Fitri 1447 Hijriah di Masjid Darussalam Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (21/3/2026),

”Di tenda sudah tidak ada lagi, 100 persen. Semua sudah keluar dari tenda, masuk ke hunian-hunian sementara ataupun hunian tetap sudah mulai,” kata Prabowo (Kompas.id, 21/3/2026).

Selain itu, tambah Presiden, kondisi infrastruktur dasar juga hampir pulih seluruhnya. Salah satu infrastruktur dasar itu ialah aliran listrik yang hampir 100 persen menjangkau seluruh wilayah. Di Aceh, tinggal lima desa yang memang sulit dipulihkan.

Penyintas terpaksa tinggal di tenda pengungsian karena sebagian masih menunggu pencairan DTH dari pemerintah.

Presiden juga memastikan bantuan pemerintah telah tersalurkan semuanya ke masyarakat. Ia bersyukur penyaluran itu bisa berlangsung cepat. Tak lupa ia mengucapkan apresiasi bagi semua pihak yang terus terlibat sejak dari penanganan sampai pemulihan bencana.

Presiden pun menegaskan, upaya penanganan bencana tidak hanya berlangsung di Aceh, tetapi juga di wilayah-wilayah terdampak bencana lainnya. Menurut dia, percepatan pemulihan itu menunjukkan komitmen pemerintah untuk memastikan seluruh masyarakat terdampak bencana segera kembali menjalani kehidupan secara normal dengan dukungan fasilitas yang memadai.

Baca JugaShalat Idul Fitri di Aceh, Bentuk Solidaritas Presiden bagi Penyintas Bencana

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Aldi Taher Jual Mobil Feroza Rp45 Juta karena Dimarahi Istri
• 9 jam lalumedcom.id
thumb
Puncak Arus Balik Diprediksi Tiga Gelombang, Catat Tanggalnya
• 2 jam laluidxchannel.com
thumb
Arus Balik Lebaran 2026, Masih Tersedia 500ribu Tiket Kereta Api
• 21 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Emiten Grup Djarum TOWR Cetak Laba Bersih Rp3,67 Triliun pada 2025
• 18 jam lalubisnis.com
thumb
Pengacara Buka Suara soal KPK Jadikan Gus Yaqut Tahanan Rumah
• 22 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.