Perang Kedai Kopi dan Teh Tak Lagi soal Rasa, tetapi Kecepatan Penyajian

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

Persaingan industri minuman kopi dan teh di Asia Tenggara tidak lagi hanya soal memiliki menu yang enak, merek yang bagus, serta suasana kedai yang nyaman. Kompetisi di industri ini semakin bergeser ke arah ”industrialisasi” operasional kedai minuman kopi dan teh alias ”siapa paling cepat menyajikan”. Produktivitas, efisiensi, dan kecepatan penyajian minuman kini menjadi tolok ukur dalam menjalankan kedai.

Demikian salah satu temuan penting dalam laporan studi “Coffee & Tea Chains in Southeast Asia 2026” dari Momentum Works yang didiskusikan bersama pelaku industri dan media se-Asia Tenggara secara daring, Kamis (19/3/2026), di Jakarta.

Insight Lead di Momentum Works, Weihan Chen, mengatakan, jaringan kedai minuman kopi dan teh yang sudah lama berdiri di Asia Tenggara biasanya memproduksi sekitar 300-400 cangkir per toko per hari. Hal ini berlaku untuk gerai merek lokal, regional, maupun asal Amerika Serikat.

Namun, masuknya beberapa pemain baru dari China seperti Luckin Coffee dan Chagee membuat produksi semakin cepat dan lebih besar per hari. Luckin Coffee mampu memproduksi dan menyajikan hingga 800 cangkir per toko per hari. Sementara, kedai Chagee di Singapura, secara khusus, dapat memproduksi dan menyajikan hingga 1.500 cangkir per toko per hari. 

Dalam laporan studi yang sama, Momentum Works turut menyajikan temuan bagaimana merek kedai minuman dari AS yang terkenal, yaitu Starbucks, memerlukan durasi 2–5 menit untuk proses produksi hingga penyajian per cangkir. Sebagai perbandingan, Luckin Coffee hanya perlu durasi kurang dari 1,76 menit per cangkir dan Chagee bahkan bisa tembus 30 detik per cangkir.

Realita di atas menunjukkan, jaringan kedai minuman kopi dan teh kini berkompetisi mengadopsi model operasi yang lebih terindustrialisasi, termasuk otomatisasi, alur kerja berbasis kode baca cepat (QR), dan persiapan minuman ala jalur produksi.

Model tersebut secara signifikan meningkatkan kapasitas produksi dan memperbaiki skala ekonomi per unit kedai. Karyawan juga dituntut lebih produktif.

Di Chagee, misalnya. Dalam riset Momentum Works, kedai minuman teh yang khas dengan logo gadis tradisional China bergaya ilustrasi klasik dan seniman opera Hua Dan ini mengandalkan produksi bergaya lini perakitan untuk meningkatkan efisiensi operasional.

Baca JugaInvestor Getol Menyesap Saham Fore Kopi Indonesia

Setiap karyawan hanya menangani satu atau dua tahapan, mulai dari penyiapan gelas dan kode QR, serta peracikan dan pencampuran bahan secara otomatis.

Efisiensi itu juga ditopang oleh penyederhanaan bahan baku. Chagee hanya memakai dua jenis basis susu utama dibandingkan pemain kedai minuman lain seperti Luckin Coffee yang menggunakan 10–11 jenis bahan dasar susu yang membuat proses pembuatan minumannya lebih kompleks.

“Saya tidak yakin dengan anggapan bahwa produktivitas per karyawan di Asia Tenggara lebih rendah dibandingkan China. Ada yang mengatakan, kedai Chagee di China bisa mencetak rekor produksi dan penyajian hingga 9.000 cangkir per hari. Di Singapura, Chagee sudah mampu memproduksi dan menyajikan 1.500 cangkir per hari,” ujar Weihan. 

Dari hasil berbincang dengan beberapa pemilik kedai minuman kopi dan teh asal China, yang kemudian membuka cabang sampai ke Eropa dan Amerika Latin, Momentum Works menemukan hal menarik. Para karyawan kedai minuman di Brasil ternyata dapat memproduksi minuman secepat pekerja asli dari China.

Artinya, sistem operasional memainkan peran penting dalam proses produksi hingga penyajian di kedai. Pekerja pun mesti diberikan insentif yang pas dan kontrol yang tepat sehingga produktivitas mereka terjaga, bahkan meningkat.

Cara kerja kedai minuman kopi dan teh asal China yang sudah sistematis dan mengutamakan infrastruktur digital itu membentuk kembali ekspektasi merek kedai lokal dan regional.

Pengaruh China

CEO Momentum Works Jianggan Li mengatakan, cara kerja kedai minuman kopi dan teh asal China yang sudah sistematis dan mengutamakan infrastruktur digital itu membentuk kembali ekspektasi merek kedai lokal dan regional. Merek-merek lain itu turut mencoba mengadaptasi pendekatan yang sama ke pasar mereka masing-masing.

Jianggan mengatakan, ekspansi kedai minuman kopi dan teh asal China ke Asia Tenggara punya dua tujuan berbeda. Untuk pemain kopi, ekspansi ke luar negeri memiliki tujuan strategis. Merek kedai minuman kopi seperti Luckin Coffee dan beberapa pemain besar lain masih tumbuh pesat di pasar domestik China. Maka, ekspansi internasional dipandang sebagai bagian dari persiapan jangka panjang menuju globalisasi merek.

Sebaliknya, bagi pemain kedai minuman teh asal China, ekspansi mereka Asia Tenggara lebih merupakan kebutuhan. Persaingan pasar teh di dalam negeri mereka sendiri sudah sangat ketat, sehingga melewati masa puncak pertumbuhan dan kesulitan mempertahankan momentum. 

Baca JugaMenguak Strategi Ekspansi Makanan dan Minuman Global China

Fenomena itu mirip dengan gelombang ekspansi perusahaan China di sektor lain, seperti elektronik dan e-dagang. Gelombang pertama ditandai produk murah tanpa diferensiasi, gelombang kedua mulai membawa unsur branding, sedangkan gelombang ketiga mengandalkan sistem operasional yang matang, rekayasa merek yang kuat, dan proposisi nilai yang lebih komprehensif.

Meski demikian, di sektor kopi, kedai minuman kopi dari China belum mendominasi Asia Tenggara. Dari tujuh jaringan kopi terbesar di kawasan berdasarkan jumlah gerai, belum ada satu pun yang berasal dari China. Sebab, jumlah pemain kedai minuman kopi dari China yang berekspansi ke internasional masih terbatas.

Starbucks tidak melakukan kesalahan, tetapi pasar telah berubah secara dramatis.

Sebaliknya, di kategori teh, kedai minuman teh dari China sudah mendominasi, seperti Mixue, We Drink, dan Bin Xue. Mereka juga mengandalkan model waralaba. Beberapa di antaranya bahkan berasal dari kota yang sama di China, dengan tim manajemen dan model bisnis yang saling berkaitan sehingga menggunakan playbook ekspansi yang mirip.

“Kami percaya, pemenang di bisnis kedai minuman kopi dan teh di Asia Tenggara ke depan bukan terletak pada kekuatan pencitraan merek atau jumlah kedai terbanyak, tetapi mereka yang memiliki model industrialisasi kedai yang terkuat,” tutur dia.

Pasar berubah

Dalam diskusi, tim Momentum Works turut membahas kedai-kedai Starbucks di Asia Tenggara. Di Singapura, pangsa pasar Starbucks turun 8 persen. Pendapatan mereka masih naik hanya karena harga per cangkir naik. 

“Starbucks tidak melakukan kesalahan, tetapi pasar telah berubah secara dramatis,” kata Jianggan. Kompetitor menawarkan kecepatan pelayanan, harga minuman lebih murah, order secara daring, dan produksi bervolume besar.

Dalam siaran pers 18 Desember 2025, pendiri, Ketua Dewan Direksi, dan CEO Chagee, Junjie Zhang mengatakan, ekspansi ke Asia Pasifik lebih dari sekadar alasan geografis. Ekspansi Chagee adalah soal menciptakan ruang yang bermakna, di mana budaya teh tradisional bertemu dengan pengalaman gaya hidup modern.

Jejak kedai minuman Chagee di Asia Pasifik berkembang pesat pada tahun 2025, dengan peluncuran yang sukses di Indonesia, Filipina, dan Vietnam, menambah daftar pasar Chagee yang sudah mapan di Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Chagee kini mengoperasikan lebih dari 7.338 kedai minuman teh di seluruh dunia. Jaringan kedai teh ini menambahkan 300 lokasi baru sepanjang triwulan III-2025. Total penjualan luar negerinya pun melonjak hingga 75,3 persen dibanding 2024.

Baca JugaStarbucks Habiskan Rp 1,7 Triliun untuk Datangkan Bos Baru

Terkait anggapan soal meredupnya Starbucks, saat sesi Investor Day, 29 Januari 2026 lalu, Starbucks sempat menyoroti kemajuan dalam rencana transformasi “Back to Starbucks”. Rencana ini menampilkan inovasi kedai kopi dan menu baru, serta merinci kerangka kinerja keuangan untuk memberikan pertumbuhan jangka panjang dan berkelanjutan.

“Starbucks telah kembali,” kata Brian Niccol, Chairman dan CEO Starbucks, saat itu.

Dalam siaran pers, Brian mengatakan, pelanggan telah merespons komitmen Starbucks terhadap layanan kelas dunia, inovasi menu yang menarik, dan pemasaran yang benar-benar beresonansi. Starbucks pun berusaha menempatkan pelanggan sebagai pusat usahanya.

”Kami tahu masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, tetapi kami yakin dengan rencana kami dan melihat peluang signifikan di AS dan di seluruh dunia,” tutur dia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
WFH 1 Hari Tiap Pekan untuk Hemat BBM, Pegawai Sarankan Senin atau Jumat
• 51 menit laludetik.com
thumb
Resmi! Klopp Pimpin Liverpool 28 Maret 2026
• 23 jam laluviva.co.id
thumb
Rahasia Kementerian PU Bangun Huntara di Aceh Tanpa Alat Berat
• 10 jam laludisway.id
thumb
Beli Motor Honda Habis Lebaran 2026, Ada Diskon Sampai Rp2 Juta
• 7 jam lalumedcom.id
thumb
Bencana Hidrometeorologi Melanda Tiga Provinsi Selama Idulfitri 1447 H
• 7 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.