Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) kembali melontarkan pernyataan kontroversial dengan menyebut Partai Demokrat AS sebagai “musuh terbesar” negaranya. Pernyataan itu disampaikan Trump melalui unggahan di platform media sosialnya, Truth Social, pada Minggu (22/3/2026) waktu setempat.
“Sekarang dengan hancurnya Iran, musuh terbesar Amerika adalah kaum kiri radikal yang sangat tidak kompeten, Partai Demokrat!” tulis Trump seperti dikutip kantor berita Anadolu.
Dalam unggahan terpisah, Trump juga mengumumkan bahwa agen Badan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) akan dikerahkan ke bandara mulai, Senin (23/3/2026) waktu setempat, untuk membantu petugas Administrasi Keamanan Transportasi AS (TSA).
Ia memuji dedikasi petugas TSA yang tetap bekerja meski terdampak kebuntuan anggaran pemerintah, yang menurut Trump tak disetujui Demokrat.
“Pada Senin, ICE akan pergi ke bandara untuk membantu agen TSA kami yang luar biasa, yang tetap bekerja meskipun kaum kiri radikal Demokrat menghambat pendanaan yang sudah disepakati,” ujarnya.
Langkah ini muncul sehari setelah Trump mengancam akan mengerahkan ICE ke bandara jika Partai Demokrat tidak menyetujui penghentian kebuntuan anggaran (shutdown) sebagian pemerintah.
Sejak Februari lalu, pemerintah AS mengalami shutdown parsial setelah Partai Republik dan Demokrat gagal mencapai kesepakatan pendanaan. Akibatnya, banyak pegawai federal, termasuk petugas TSA, tetap bekerja tanpa menerima gaji karena status mereka sebagai pekerja esensial.
Di sisi lain, Partai Demokrat menolak menambah anggaran untuk ICE tanpa adanya reformasi signifikan. Penolakan ini dipicu berbagai operasi penindakan imigrasi oleh ICE di sejumlah kota yang menuai kritik publik, termasuk laporan korban jiwa.
Selama shutdown berlangsung, Senator dari Partai Demokrat berupaya mengesahkan rancangan undang-undang terbatas untuk mendanai lembaga lain di bawah Departemen Keamanan Dalam Negeri, seperti TSA dan Federal Emergency Management Agency (FEMA). Namun, upaya tersebut ditolak oleh Partai Republik.
Situasi ini memperpanjang kebuntuan politik di Washington dan berdampak langsung pada operasional layanan publik, khususnya di sektor transportasi udara. (bil/iss)




