Emiten jamu di pasar modal Indonesia masih terbatas. PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk dengan kode saham SIDO menjadi satu-satunya pemain besar yang merepresentasikan industri herbal di bursa. Hal ini menjadi keunggulan SIDO karena minimnya kompetitor sejenis di pasar saham. Selain itu, SIDO juga memiliki posisi unik bagi investor yang ingin mendapat eksposur ke industri jamu dan herbal.
Ditemui di kantornya di House of Jamu, Jakarta Selatan, Sabtu (14/3/2026), Direktur Marketing Sido Muncul Irwan Hidayat memaparkan strategi bisnis Sido Muncul yang akan memperluas pasar ekspor pada 2026. Perusahaan antara lain akan mengembangkan pasar ekspor sekaligus membuka kantor perwakilan baru di Arab Saudi, India, China, dan Eropa. Sebelumnya, SIDO yang masuk dalam indeks Kompas100 tercatat hadir di 30 negara, seperti Nigeria, Filipina, dan Amerika Serikat.
Saat ini, Irwan dan keluarganya memiliki saham mayoritas sekitar 75 persen di Sido Muncul yang dirintis nenek mereka, Ny Rakhmat Sulistio (Go Djing Nio). Menurut Irwan, Sido Muncul sebagai produsen jamu terbesar di Indonesia juga akan membuat gebrakan dengan menghadirkan divisi baru bertema Sido Spice. Divisi baru Sido Spice lebih fokus pada penjualan rempah-rempah tunggal, seperti bubuk pala. Konsep Sido Spice ini sudah disiapkan sejak empat tahun lalu, tetapi baru terealisasi tahun ini.
Perusahaan jamu tersebut juga mengembangkan produk baru berupa suplemen makanan yang berbasis herbal. Untuk pengembangan produk suplemen makanan, Sido Muncul memiliki 82 jenis suplemen yang hampir seluruhnya berbahan dasar herbal. Hanya sebagian kecil yang merupakan produk farmasi, seperti aneka jenis vitamin dan kolagen.
Untuk menyiasati gejolak geopolitik global akibat perang di Timur Tengah, perusahaan mengandalkan strategi efisiensi hingga memperbaiki mutu produk. ”Beruntungnya kita itu bahannya tidak terdampak dengan dolar. Dan, kami sudah punya petani yang kami bina sejak 30 tahun yang lalu. Jadi, (geopolitik global) diharap tidak terdampak, mungkin di packaging yang terdampak,” ujar Irwan.
Irwan juga mengklarifikasi kabar yang sempat beredar terkait rencana penjualan divestasi saham dari pengendali. Irwan menegaskan, keluarga besarnya akan berupaya tetap memegang saham mayoritas. ”Tanggung jawab moral kita karena (jamu) ini, kan, kebudayaan asli Indonesia. Nanti kalau yang beli orang asing, majority, bagaimana? Kita, kan, enggak bisa ngelarang. Tapi, rasanya nanti kita merasa bersalah gitu, terhadap sesuatu yang harusnya kita keep. Kita sudah sepakat 100 persen tidak akan dijual,” tutur Irwan.
Irwan mengaku memegang pesan ibunya dalam menjalankan bisnis. Sejak tahun 2010, sang ibu sudah mengarahkan agar perusahaan go public. ”Ibu saya itu anak-anaknya berlima, akhirnya pada 18 Desember 2013 kita jadi perusahaan publik. Dia itu kepinginnya, ya, supaya perusahaan ini besok itu dikelola dengan cara yang transparan. Kalau nanti tidak jelas semuanya, nanti kamu berantem,” ucap Irwan menirukan ibunya.
Bersama adik-adiknya, sebagai generasi ketiga Sido Muncul, yaitu Sofyan Hidayat, Johan Hidayat, Sandra Linata Hidayat, dan David Hidayat, Irwan membesarkan pabrik yang kini memproduksi lebih dari 250 jenis produk. Produk unggulan Sido Muncul antara lain adalah Tolak Angin. Saat ini, Sido Muncul juga sedang mempersiapkan generasi keempat dari keluarga Hidayat yang berjumlah 13 orang untuk terlibat dalam pengelolaan perusahaan.
Irwan optimistis bahwa industri jamu dan kesehatan merupakan sunrise industry. ”Jadi, bahan baku tidak tergantung sama dolar. Kita juga punya pengalaman 75 tahun, penelitian kita juga luar biasa banyaknya. Produk-produk kita juga berbasis ilmiah. Selain itu, keluarga pun solid dalam mengelola SIDO,” katanya.
Hasil kinerja keuangan tahun buku 2025 juga mencerminkan pertumbuhan Sido yang resilien, eksekusi yang disiplin, serta efisiensi modal yang berkelanjutan di tengah kondisi ekonomi yang masih dalam fase normalisasi. Pada 2025, Sido mencatat penjualan sebesar Rp 4,08 triliun, tumbuh 4 persen secara tahunan, didukung permintaan domestik yang tetap stabil dan pertumbuhan ekspor sebesar 31 persen.
Perseroan juga mempertahankan margin bruto sebesar 58 persen. Laba usaha meningkat 5 persen menjadi Rp 1,54 triliun, sementara laba bersih naik 5 persen menjadi Rp 1,23 triliun, dengan marjin usaha 38 persen dan marjin bersih 30 persen. Tingkat pengembalian ekuitas (ROE) mencapai 39 persen dan tingkat pengembalian aset (ROA) sebesar 33 persen yang mencerminkan efisiensi modal yang tinggi. Sido juga tetap mempertahankan posisi keuangan tanpa utang.
Kas tercatat sebesar Rp 463 miliar pada akhir 2025. Penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya merupakan hasil keputusan alokasi modal yang strategis. Sepanjang 2025, Perseroan membagikan dividen sebesar Rp 1,28 triliun dan melaksanakan buyback saham sebesar Rp 300 miliar, mencerminkan keyakinan manajemen terhadap nilai intrinsik jangka panjang Sido.
Irwan menegaskan, perusahaan dikelola dengan hati-hati, jujur, tidak boros, dan keuangan yang disiplin. ”Contoh dana pensiun itu liability (kewajiban) kita Rp 143 miliar. Kita punya dana pensiun (tersedia) itu Rp 240 miliar. Emiten lain, 30 persen juga sudah oke. Gaji direksinya juga tidak boros. Biaya penggajian hanya 11 persen. Biaya perjalanannya cuma Rp 6 miliar. Kami mengelola perusahaan terbuka ini rasa perusahaan keluarga,” kata Irwan menambahkan.
Hingga kini, perusahaan juga fokus di bisnis inti dan tidak ekspansif untuk diversifikasi. Selama ini, seluruh laba langsung dibagikan ke pemegang saham sebagai dividen. ”Kami mengelolanya dapat profit langsung dibagi habis. Coba kalau misalnya profit itu enggak dibagi, hari ini market cap-nya bisa dua kali lipat. Sekarang, kan, (market cap) Rp 16 triliun. Kalau enggak kita bagi uang dividen itu, kita investasikan yang lain, usaha. (Bisa) Rp 30 triliun, market cap kita. Ya, karena dibagi. Kami ini perusahaan kayak perusahaan private aja lah. Pokoknya semua hati-hati,” ucap Irwan.
Namun, Irwan menegaskan, strategi bisnis ini bisa saja berubah di tahun-tahun mendatang. ”Tapi mungkin kami akan berubah ke depan. Kami akan mengutamakan pertumbuhan supaya pemegang saham itu dapat dividen. Kemudian, dia juga dapet nilai tambah dari nilai perusahaan yang berkembang. Bisa, kami tahun depan ini strateginya kami ubah,” ujarnya.
Di sisi lain, saat ini Irwan juga sedang getol kampanye edukasi terkait literasi keuangan, khususnya tentang investasi saham. Ia prihatin karena hanya 21 juta orang atau sekitar 7,5 persen penduduk Indonesia yang sudah berinvestasi saham. Padahal, di negara maju, sudah 40-50 persen penduduknya berinvestasi saham. Menabung dan investasi saham lantas didorong diperkenalkan sejak dini lewat pendidikan di sekolah.
Menurut Irwan, investasi saham adalah salah satu pilihan investasi yang menguntungkan di samping pilihan investasi yang lain. Daripada ditabung uang bulanan bisa ditabung dalam bentuk saham. Selain itu, investasi saham juga bisa memperkuat ekonomi dalam negeri supaya mandiri dan tidak bergantung pada investor asing.
”Yang paling penting, ini disclaimer, nih, jangan bermain saham, tapi berinvestasi jangka panjang. Caranya, ini kan kalau menabung dalam bentuk saham, dia dapat dividen, tapi juga dapat kenaikan. Tapi, bisa juga rugi kalau harga saham turun. Tapi, kalau untuk jangka panjang, profit,” katanya.
Dihubungi terpisah pada Kamis (19/3/2026), Founder Republik Investor Hendra Wardana menegaskan, menjelang periode Lebaran 2026, sektor consumer goods tetap menjadi salah satu sektor defensif. Namun, pergerakannya cenderung lebih selektif. Di satu sisi, ada dorongan musiman dari peningkatan konsumsi masyarakat, tetapi di sisi lain tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi dan eskalasi geopolitik Timur Tengah membuat daya beli belum sepenuhnya pulih.
Selain itu, jelang Lebaran biasanya terjadi pergeseran likuiditas dari pasar ke kebutuhan konsumsi. Akibatnya, pergerakan saham konsumer cenderung tidak terlalu agresif, tetapi lebih stabil dibandingkan dengan sektor siklikal. ”Dalam kondisi seperti ini, strategi yang relevan adalah fokus pada emiten dengan kekuatan brand yang tinggi dan produk yang bersifat kebutuhan rutin,” ujar Hendra.
Emiten ICBP, INDF, MYOR, dan KLBF masih menjadi pilihan utama karena memiliki diversifikasi produk, jaringan distribusi kuat, serta kemampuan menjaga margin di tengah tekanan biaya. Saham-saham ini cenderung lebih tahan terhadap tekanan eksternal karena memiliki pricing power yang baik dan basis konsumen yang luas.
Khusus untuk SIDO, secara fundamental kinerjanya dinilai masih tergolong bugar. Perseroan mampu menjaga margin laba yang tinggi dan stabil, mencerminkan efisiensi operasional serta kekuatan brand di pasar herbal. Di tengah daya beli yang belum sepenuhnya pulih, SIDO tetap mampu mencatat pertumbuhan meskipun dalam kisaran moderat. Hal ini menunjukkan karakter bisnis SIDO yang defensif, dengan permintaan yang relatif stabil karena produknya berkaitan dengan kesehatan dan kebutuhan sehari-hari.
Dari sisi strategi bisnis, SIDO mulai memperkuat ekspansi ke pasar ekspor sebagai sumber pertumbuhan baru, mengingat pasar domestik sudah cukup mature. Selain itu, inovasi produk, terutama di segmen minuman herbal dan suplemen kesehatan, menjadi kunci untuk menjangkau konsumen yang lebih luas, termasuk generasi muda. Langkah ini menjadi penting untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang agar tidak hanya bergantung pada pasar domestik.
Namun, terdapat beberapa risiko yang perlu diperhatikan, seperti tekanan daya beli, fluktuasi harga bahan baku, serta meningkatnya kompetisi di segmen produk herbal dan kesehatan. Hal ini membuat pertumbuhan SIDO cenderung tidak agresif dalam jangka pendek, tetapi lebih stabil dan bertahap.
Secara teknikal, pergerakan SIDO saat ini berada dalam fase konsolidasi dengan potensi menguji support di area 490 dan resistance di level 600. Level 490 menjadi area penting untuk menjaga tren. Sementara itu, jika mampu menembus 600, ruang kenaikan yang lebih lanjut akan terbuka. Dalam jangka pendek, strategi yang lebih ideal adalah buy on weakness, bukan mengejar harga di area atas.
Untuk jangka panjang, menurut Hendra, SIDO masih menarik sebagai saham defensif dengan fundamental yang solid dan potensi ekspansi yang terbuka. Karakter bisnis yang stabil serta potensi dividen yang konsisten menjadi daya tarik utama bagi investor. Namun, ekspektasi pertumbuhan perlu dijaga realistis karena saham ini lebih cocok sebagai steady compounder dibandingkan saham dengan pertumbuhan tinggi.





