Apa yang Anda pelajari dari artikel ini?
- Apa faktor utama yang memengaruhi perdagangan dunia pada 2026?
- Bagaimana skenario pertumbuhan perdagangan 2026?
- Apa kata pimpinan WTO?
Perdagangan dunia pada 2026 tengah berada dalam dua tekanan. Pertumbuhan yang sebelumnya diramal akan melambat, kini berisiko kian lambat. Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO menyajikan dua skenario pertumbuhan tersebut.
Pada Kamis (19/3/2026), WTO merilis laporan terbaru ”Global Trade Outlook and Statistics” di Geneva, Swiss, waktu setempat. Dalam laporan itu, WTO menyebut kenaikan tarif impor dan konflik di Timur Tengah sebagai penghambat laju pertumbuhan perdagangan dunia pada 2026.
Kenaikan tarif impor dipicu oleh kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS) pada periode kedua kepemimpinan Donald Trump. Kebijakan itu berpotensi mengerek harga berbagai barang dan mengubah alur rantai pasok komoditas dunia.
Sementara, perang Iran versus duet AS-Israel telah memicu kenaikan harga minyak mentah dunia, biaya logistik, harga komoditas dunia, serta menghambat arus perdagangan maritim dunia.
Dalam skenario pertama atau perkiraan dasar, yakni jika harga energi tidak tinggi, WTO meramal perdagangan barang dunia pada 2026 tumbuh 1,9 persen. Angka ramalan itu jauh di bawah pertumbuhan perdagangan barang dunia pada 2025 yang tembus 4,6 persen.
Perlambatan perdagangan dunia itu bakal menyebabkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dunia turut melambat menjadi 2,8 persen pada 2026. Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan PDB dunia pada 2025 yang mencapai 2,9 persen.
Dalam skenario kedua, yakni harga minyak mentah dan gas alam cair tetap tinggi, perdagangan barang dunia pada 2026 diperkirakan tumbuh sebesar 1,4 persen. Bahkan, untuk negara dan kawasan yang bergantung pada impor energi, perdagangannya diperkirakan hanya tumbuh 0,9 persen. PDB dunia pada tahun tersebut diperkirakan tumbuh 2,5 persen.
Direktur Jenderal WTO Ngozi Okonjo-Iweala mengatakan, di tengah tekanan tarif tinggi, ketahanan perdagangan dunia sebenarnya masih cukup kuat. Hal itu tidak terlepas dari pertumbuhan perdagangan produk teknologi dan layanan digital, terutama terkait akal imitasi (AI).
Selain itu, ketahanan pertumbuhan perdagangan juga ditopang oleh adaptasi rantai pasokan dan penghindaran pembalasan tarif resiprokal (timbal balik). Namun, perkiraan dasar pertumbuhan tersebut kini berada di bawah tekanan konflik di Timur Tengah.
”Kenaikan harga energi akibat konflik yang berkelanjutan dapat meningkatkan risiko bagi perdagangan global. Dampaknya juga berpotensi merembet ke ketahanan pangan serta menekan konsumen dan para pelaku bisnis,” ujarnya melalui siaran pers.
Okonjo-Iweala menjelaskan, blokade Selat Hormuz telah mengganggu pasokan pupuk yang sangat penting bagi pertanian global. Ini mengingat sekitar sepertiga ekspor pupuk dunia melewati jalur air tersebut.
Produsen komoditas pertanian utama, seperti India, Thailand, dan Brasil, bergantung pada impor pupuk urea dari negara-negara di kawasan Teluk Persia. Ketergantungan impor urea India mencapai sekitar 40 persen, Thailand 70 persen, dan Brasil 35 persen.
Sebaliknya, negara-negara Teluk juga menghadapi tantangan ketahanan pangan. Selama ini, ketergantungan impor beras mereka sekitar 75 persen, sedangkan jagung, kedelai, dan minyak nabati lebih dari 90 persen.
”Harga komoditas-komoditas pangan itu berpotensi naik tinggi akibat kenaikan harga energi dan lonjakan biaya logistik yang dipicu oleh pengalihan rute pelayaran,” katanya.
Meski demikian, Okonjo-Iweala menambahkan, para anggota WTO dapat membantu mengurangi dampak dan meringankan beban ekonomi pada masyarakat di seluruh dunia. Caranya dengan mempertahankan kebijakan perdagangan yang dapat diprediksi dan memperkuat ketahanan rantai pasokan.





