Bisnis.com, JAKARTA — Di tengah gejolak pasar global dan lonjakan harga emas, konsumen ultra-kaya kini semakin melirik perhiasan mewah sebagai alternatif investasi.
Tak hanya emas, batu permata berwarna seperti rubi, safir, dan zamrud menjadi primadona baru yang dinilai mampu memberikan nilai jangka panjang.
Fenomena ini terlihat jelas di pasar lelang. Sebuah kalung dari Tiffany & Co. yang menampilkan tourmaline Paraiba langka dan berlian terjual lebih dari US$4,2 juta di Christie's, atau sekitar 10 kali lipat dari estimasi awal. Sepasang anting serasi bahkan mencatat lonjakan harga serupa.
Capaian tersebut memperkuat sinyal bahwa perhiasan mewah kini tak sekadar aksesori, melainkan mulai diposisikan sebagai aset investasi yang diperhitungkan di kalangan kolektor global.
Didorong Inflasi dan Ketidakpastian GlobalKetertarikan terhadap perhiasan sebagai investasi tidak lepas dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan volatilitas ekonomi. Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung beralih ke aset berwujud yang dinilai lebih stabil, termasuk logam mulia dan batu permata langka.
Perhiasan dari merek ternama seperti Cartier, Van Cleef & Arpels, Tiffany & Co., dan Bulgari bahkan dikenal memiliki nilai jual kembali yang kuat di pasar sekunder. Keempat merek tersebut disebut mendominasi hingga sekitar 90% transaksi penjualan kembali perhiasan bermerek.
Berbeda dengan tas atau aksesori fesyen yang terpengaruh tren musiman, perhiasan ikonik cenderung memiliki siklus hidup panjang dan mengalami kenaikan harga tahunan dalam jangka panjang.
Dalam banyak kasus, kolektor yang menyimpan perhiasan selama lima hingga 10 tahun mampu menjualnya kembali di atas harga beli.
Harga Emas Jadi KatalisLonjakan harga emas turut memperkuat tren ini. Harga logam mulia tersebut sempat menembus level tertinggi di atas US$5.100 per ons sebelum terkoreksi, namun masih bertahan di kisaran tinggi.
Kondisi ini meningkatkan daya tarik perhiasan berbasis emas sebagai aset dengan nilai dasar yang relatif terjaga. Di sisi lain, kenaikan harga juga mendorong sebagian kolektor lama melepas koleksinya, sekaligus membuka peluang bagi pembeli baru yang mencari lindung nilai terhadap inflasi.
Batu Permata Berwarna Jadi SorotanDi dalam segmen perhiasan, batu permata berwarna muncul sebagai kategori dengan pertumbuhan paling pesat. Permintaan terhadap rubi, safir, dan zamrud meningkat seiring kombinasi antara kelangkaan dan daya tarik estetika.
Tidak seperti berlian yang kini dapat diproduksi di laboratorium, batu permata berwarna berkualitas tinggi relatif sulit direplikasi. Karakter unik dari setiap batu, termasuk inklusi alami di dalamnya, justru menjadi nilai tambah yang meningkatkan harga.
Di rumah lelang besar seperti Christie's, batu permata berwarna bahkan kerap terjual hingga dua sampai tiga kali lipat dari estimasi tertinggi. Hal ini jadi fenomena yang tergolong jarang terjadi.
Tren ini juga didorong oleh pengaruh budaya populer. Sejumlah selebritis seperti Kate Middleton, Eva Longoria, Halle Berry, Rita Ora, dan Halsey turut mempopulerkan cincin pertunangan dengan batu permata berwarna.
Saat ini, sekitar 15% cincin pertunangan menggunakan batu permata berwarna, meningkat signifikan dibandingkan hanya 5% satu dekade lalu.





