Saya Tak Pernah Bermimpi Jadi Guru, tapi di Sanalah Saya Menemukan Tujuan Hidup

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Di tengah krisis pendidikan yang ditandai dengan menurunnya minat generasi muda untuk menjadi guru serta meningkatnya beban profesi ini, berbagai laporan juga menunjukkan bahwa ketertarikan terhadap profesi guru tidak lagi setinggi sebelumnya. Dalam situasi ini, ada satu kenyataan yang jarang dibicarakan secara terbuka: tidak semua guru memulai langkahnya dari cita-cita. Sebagian justru sampai di profesi ini melalui jalan yang tidak direncanakan sejak awal. Menjadi guru, dalam banyak kasus, bukan pilihan pertama—melainkan peran yang dijalani. Namun dari jalan yang tidak direncanakan itulah, pertanyaan tentang makna dan tujuan hidup justru muncul. Saya adalah salah satunya.

Saya tidak pernah bercita-cita menjadi guru. Jika hidup berjalan sesuai rencana, mungkin hari ini saya berada di dunia balap, bukan di ruang kelas. Namun perjalanan hidup membawa saya ke arah yang berbeda. Pengalaman ini ternyata tidak tunggal. Banyak guru bertahan dalam profesinya, tetapi diam-diam mempertanyakan makna dari apa yang mereka jalani. Di tengah tuntutan mengajar, administrasi, dan berbagai tanggung jawab lain, tidak sedikit yang merasa lelah—bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara batin. Di titik inilah persoalannya menjadi lebih dalam dari sekadar sistem pendidikan. Ini menyentuh soal makna.

Saya pernah berada di fase menjalani peran tanpa benar-benar memahaminya sebagai tujuan hidup. Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, saya memiliki mimpi menjadi teknisi mobil balap. Dunia mesin, kecepatan, dan dinamika kendaraan adalah hal yang saya sukai. Namun keterbatasan ekonomi membuat mimpi itu harus saya lepaskan.

Saya kemudian memilih jalur pendidikan dan masuk ke jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar—sebuah keputusan yang pada awalnya terasa sebagai alternatif, bukan tujuan. Kini, hampir sepuluh tahun saya menjalani profesi sebagai guru. Jika pertanyaan itu diajukan di masa lalu—apakah ini tujuan hidup saya—jawaban saya mungkin sederhana: belum tentu.

Namun pengalaman mengajar dan perjumpaan dengan peserta didik perlahan mengubah cara pandang saya. Saya mulai melihat bahwa tujuan hidup tidak selalu ditemukan dalam rencana awal, tetapi sering kali tumbuh dalam proses menjalani peran itu sendiri.

Pemikiran ini sejalan dengan refleksi Viktor Frankl yang menekankan pentingnya “alasan untuk hidup” sebagai sumber kekuatan manusia dalam menghadapi berbagai situasi.

Dalam pengalaman saya, “alasan” itu hadir justru di ruang kelas—ketika saya menyadari bahwa kehadiran seorang guru, sesederhana apa pun, dapat memiliki arti bagi peserta didik.

Di titik itu, profesi ini tidak lagi sekadar pekerjaan.

Ia menjadi ruang untuk memberi, mendampingi, dan belajar bersama.

Dalam tradisi Katolik, ajaran Santo Ignasius Loyola juga menekankan bahwa hidup manusia pada akhirnya diarahkan pada sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Gagasan ini membantu saya memahami bahwa perubahan arah hidup bukanlah kegagalan, melainkan bagian dari proses menemukan makna.

Sering kali kita terfokus pada pertanyaan: “Apa cita-cita saya?” Padahal, dalam perjalanan hidup, pertanyaan itu bisa berkembang menjadi: “Apa yang bisa saya lakukan dengan peran yang saya jalani saat ini?”

Perubahan cara bertanya ini membawa pergeseran cara melihat hidup. Hari ini, saya mungkin tidak menjadi teknisi mobil balap seperti yang dulu saya bayangkan. Namun saya menemukan bahwa hidup tetap memiliki arah dan makna.

Bukan karena saya mencapai rencana awal, tetapi karena saya belajar memberi arti pada jalan yang saya jalani. Dalam konteks pendidikan hari ini, mungkin yang tidak kalah penting dari sekadar menarik minat menjadi guru adalah membantu para guru menemukan kembali makna dalam profesinya.

Karena pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh sistem yang baik, tetapi juga oleh guru yang memahami alasan mereka bertahan dan mengajar. Dan sering kali, tujuan hidup itu tidak hadir di awal perjalanan—melainkan ditemukan di tengah jalan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Monas Masih Jadi Andalan Libur Lebaran, Cuaca Panas Tak Surutkan Wisatawan
• 1 jam laluliputan6.com
thumb
Laporan: Sejumlah Tentara AS Kecewa Konflik Iran, Soroti Moral dan Tekanan Psikologis
• 2 jam lalupantau.com
thumb
Pengunjung Plaza Medan Fair Naik 25% di Hari Ke-2 Idul Fitri
• 16 jam lalutvrinews.com
thumb
Pendaftaran O2SN SMA 2026 Masih Dibuka! Ini Syarat, Jadwal, Tahapan hingga Cabor yang Bisa Kamu Ikuti
• 33 menit lalumedcom.id
thumb
Steam Spring Sale 2026 Resmi Dimulai, Ada Promo Diskon Game PC Terbesar Tahun Ini
• 10 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.