Ratapan di atas pusara tanpa nama

antaranews.com
4 jam lalu
Cover Berita
Aceh (ANTARA) - "Allahummaj'al qobrahum raudhotan min riyadil jinan wala taj'al qobrahum hufratan min hufarin niran." Suara Tengku Riandi (26) bergetar hebat saat melafalkan sepenggal doa ziarah bersama warga lainnya di bukit kecil Desa Agusen, Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh.

Kalimat suci itu bukan sekadar rapalan biasa. Ia menjelma sebagai jeritan batin yang membumbung pelan, di pagi Idul Fitri 1447 Hijriah, ketika kabut tipis masih menggantung di lereng perbukitan. Di hadapan Tengku Riandi, tak ada lagi nisan yang bisa disentuh, tak ada lagi nama yang bisa dibaca. Yang tersisa hanya tanah merah yang membisu tempat ratusan jasad kini bersemayam tanpa penanda.

Empat bulan yang lalu, banjir bandang disertai tanah longsor meluluhlantakkan Desa Agusen. Air bah yang membawa lumpur, kayu, dan batu dari hulu sungai menyapu permukiman dan menyeret tiga kompleks pemakaman tua yang telah ada sejak masa kolonial. Sedikitnya 700 jenazah diperkirakan hanyut, meninggalkan ruang kosong yang tak hanya menganga di tepian sungai, tetapi juga di ingatan kolektif warga desa.

Sejak itu pula, tradisi mengunjungi makam keluarga setiap Hari Raya, yang dalam budaya masyarakat Gayo menjadi bagian penting dalam menjaga silsilah dan ingatan, akan terasa seperti kehilangan pijakan. Doa-doa dipanjatkan tetapi seolah tanpa arah tertuju yang pasti.

Lantunan doa Riandi pagi itu menjadi satu-satunya pengikat batin yang tersisa. Angin pegunungan berembus pelan, membawa aroma tanah basah yang belum sepenuhnya kering. Dari kejauhan, suara takbir bersahutan, namun gema duka terasa lebih pekat daripada sukacita di pusara tanpa nama ini.

Tidak ada lagi deretan batu nisan berukir kaligrafi atau nisan kayu yang dahulu menandai jejak keluarga. Hamparan tanah luas itu kini menyerupai pusara massal-- sebuah ruang tempat identitas melebur, dan sejarah dipaksa berhenti tanpa penutup yang layak.

Kehancuran tersebut tidak hanya meruntuhkan rumah-rumah warga. Ia juga mengoyak akar sejarah masyarakat Gayo di Agusen, memutus hubungan fisik antara generasi yang hidup dengan mereka yang telah lebih dulu pergi menuju ke keabadian.



Warga penyintas banjir bandang berziarah di pemakaman massal di kompleks hunian sementara Desa Agusen, Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh. ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo

Dari sudut lain hamparan tanah itu, Seriah (55) duduk bersimpuh. Tubuhnya sedikit membungkuk, tangannya menangkup wajah yang basah oleh air mata. Jilbab dengan renda halus yang dikenakannya tampak kontras dengan tanah merah yang mengering di sekelilingnya.

“Saya tidak tahu lagi di mana kubur ayah saya,” ucap Seriah lirih. Suaranya nyaris tenggelam oleh hembusan angin.

Bagi Seriah, kehilangan rumah hanyalah persoalan dunia. Ia percaya, dengan tenaga dan waktu, semuanya bisa dibangun kembali. Namun kehilangan jejak kubur orang tua dan adiknya adalah luka yang tak bakal ditemukan obatnya.

Adiknya, Nurdin, adalah seorang hafiz Al-Quran sekaligus imam madrasah di desa itu. Sosok yang selama ini menjadi penuntun, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi masyarakat sekitar. Ia wafat dua tahun lalu. Kini, jasad Nurdin entah berada di titik mana, di antara ratusan tubuh yang terpaksa disatukan oleh bencana.

Setiap kali melintasi bekas area pemakaman lama di wilayah Uken, dusun paling hulu dari tiga dusun lainnya di Desa Agusen, dada Seriah terasa sesak. Sungai yang dulu menjadi bagian dari kehidupan kini terasa asing, bahkan menakutkan. Kelokannya seperti menyimpan rahasia yang tak lagi bisa dijangkau.

"Sedihlah nak, tulang bapakku di sini. Makanya aku nggak ziarah kemarin nak. Pas aku tengok berpikir aku mungkin ada salah satu anakku, tulang bapak mamakku, saudara-saudaraku di situ. Adikku yang baru meninggal berapa-berapa bulan nak, dah hanyut semua," kata Seriah sembari beberapa kali meraung-raung.

Trauma itu menjalar menjadi milik bersama. Di Agusen, ziarah yang dahulu bersifat personal kini berubah menjadi ritual kolektif yang penuh kegamangan. Warga berdiri dalam satu hamparan tanah yang sama, melafalkan doa yang sama, tetapi tanpa tahu di mana tepatnya orang yang mereka tuju.

Riandi mengingat betul bagaimana warga harus menunggu air surut untuk memungut sisa-sisa jenazah. Tulang-belulang dan potongan kain kafan ditemukan tersangkut di antara batang kayu dan endapan lumpur. Semua dikumpulkan, lalu dimakamkan kembali di lokasi pemakaman darurat yang letaknya lebih tinggi, tak jauh dari deretan huntara yang kini mereka tempati.

Upaya itu adalah bentuk penghormatan terakhir dari mereka para ahli waris.

"Pemindahan ini pun baru bisa dilakukan sekitar satu minggu setelah bencana karena air itu masih keruh. Jadi kalau air itu agak keruh kan nggak nampak tulang-tulang tu, seperti kain kafannya nggak nampak. Setelah airnya itu agak jernih barulah kami cari tulang-tulang yang sudah hanyut itu," kata Riandi.



Warga penyintas banjir bandang berziarah di pemakaman massal di kompleks hunian sementara Desa Agusen, Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh. ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo (ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo)

Catatan Pemerintah Kabupaten Gayo Lues menunjukkan, di Desa Agusen ada sebanyak 279 keluarga terdampak bencana. Dari jumlah itu, 155 kepala keluarga masih bertahan di hunian sementara yang dibangun oleh prajurit TNI Angkatan Darat di bawah pusat koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Secara domestik total kerugian akibat bencana mencapai sekitar Rp7,6 triliun, mencakup kerusakan permukiman, infrastruktur, hingga lahan pertanian. Pemerintah Kabupaten Gayo Lues terus berbenah, berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi, termasuk penanganan kawasan pemakaman yang terdampak.

Namun bagi warga seperti Seriah dan Riandi, pemulihan fisik saja belum cukup. Harus ada pendampingan psikologis sosial nyata, sehingga mereka bisa menemukan keyakinan diri untuk hidup.

Keyakinan atau rasa percaya diri menjadi satu-satunya pegangan mereka agar tumbuh dengan cepat, tidak terus larut dalam kenestapaan kehilangan rumah, kebun, sawah yang menjadi mata pencarian. Ini penting untuk didengar para pemangku kebijakan karena ada banyak sekali ketidakpastian yang berkelindan di hati mereka.

Dari pucuk pimpinan pemerintah pusat hingga gubernur dan wali kota hingga bupati dan jajarannya tidak bisa hanya mengandalkan seorang kepala desa untuk semua urusan mulai dari menenangkan, menghibur dan sosialisasi-menjawab semua pertanyaan dari warga penyintas bencana. Khususnya soal kepastian hak atas lahan-lahan mereka untuk tempat tinggal termasuk pemakaman ini.

Warga penyintas banjir bandang berziarah di pemakaman massal di Desa Agusen, Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh. ANTARA FOTO/ Adiadmaja

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Nonton Siaran Langsung MotoGP dan Moto3: Bakal Sengit, Start Keempat Veda Ega Pratama Berpeluang Podium
• 20 jam laluharianfajar
thumb
Jadwal Lengkap Timnas Indonesia di FIFA Series 2026
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Final Piala Liga: Arsenal vs Man City di Wembley, Misi Arteta Hapus Kutukan 33 Tahun The Gunners!
• 23 jam lalumedcom.id
thumb
Wacana di Pemkot Jogja: WFH Tiap Jumat, Jam Kerja ASN Ditambah
• 4 jam laludetik.com
thumb
Dua Maling Motor Tertangkap Basah dan Dipukuli Warga di Ngagel Surabaya
• 5 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.