Presiden Prabowo Subianto menyebut kunjungan luar negeri yang sering ia lakukan merupakan bagian dari upaya melindungi kepentingan rakyat, termasuk menjaga lapangan kerja.
Prabowo menyebut, aktivitas diplomasi tersebut kerap disalahartikan sebagai agenda jalan-jalan, padahal memiliki tujuan strategis bagi perekonomian nasional.
"Disangka saya suka jalan-jalan ke situ, dan juga saya jalan-jalan untuk menjaga rakyat saya, untuk menjaga lapangan kerja," kata Prabowo dalam acara Presiden Prabowo Menjawab bersama jurnalis senior dan pengamat di kediamannya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (17/3).
"Aku kalau enggak lobi, tentunya menteri-menteri yang kerja, di ujungnya saya harus datang ya kan. Ke Raja Belgia, ke Raja Belanda, ke Uni Eropa," lanjutnya.
Ia menjelaskan, posisi Indonesia yang sejak dulu menjadi incaran berbagai negara karena kekayaan sumber daya alam membuat hubungan internasional menjadi hal yang tidak terhindarkan.
"Superpower waktu itu ya, Spanyol, Portugis, Prancis, Belanda, Inggris, semua ke sini. Jadi kita ini dari dulu selalu menjadi tujuan, incaran, karena kekayaan kita. Suka tidak suka, nah kita akhirnya harus punya hubungan baik dengan banyak negara," kata Prabowo.
Menurutnya, keanggotaan Indonesia dalam berbagai forum internasional membuat pemerintah harus aktif menghadiri undangan dan menjalin komunikasi dengan banyak negara.
"Kita anggota ASEAN, ASEAN itu sepuluh negara loh, sekarang sebelas. Tapi kita anggota G20, dua puluh negara. Habis itu, kita anggota OKI (Organisasi Kerja Sama Islam)," tuturnya.
Ia menambahkan, ketidakhadiran dalam forum internasional justru dapat berdampak negatif terhadap hubungan diplomatik Indonesia.
"Nah kalau kita diundang, kita tidak datang kan enggak bagus, ya kan. Makanya setiap Presiden Indonesia ya capek," ujar Prabowo.
Prabowo mengungkapkan upaya lobi yang dilakukan pemerintah telah membuahkan hasil konkret, salah satunya dalam bentuk perjanjian perdagangan yang menguntungkan Indonesia.
"Akhirnya kita punya perdagangan CEPA (Comprehensive Economic Partnership Agreement) kita agak lancar, sepuluh tahun loh kita tembus ya kan. Kita sama Kanada, CEPA juga perdagangan untuk buka sekarang kita punya barang-barang nol persen ke Kanada, ke Uni Eropa," jelas Prabowo.
Ia menilai, capaian tersebut memberikan alternatif pasar baru bagi produk Indonesia yang sebelumnya menghadapi tekanan.
"Artinya apa, sepatu kita, tekstil kita, yang tadinya terancam, sekarang kita punya peralihan," kata dia.





