Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup melemah mencapai level Rp16.996,5 pada perdagangan hari ini, Senin (23/3/2026), atau dua hari usai Lebaran 2026. Rupiah melemah dan sempat menembus Rp17.000 pada perdagangan intraday hari ini.
Mengutip data Bloomberg pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup melemah 0,40% ke Rp16.996,5 per dolar AS setelah sempat menyentuh level Rp17.000 pada perdagangan secara intraday. Adapun indeks dolar AS melemah 0,17% ke 99,81.
Sementara itu, sejumlah mata uang Asia lainnya ditutup bervariasi. Yen Jepang melemah 0,25%, dolar Hong Kong menguat 0,05%, dolar Singapura melemah 0,11%, dolar Taiwan melemah 0,62%, dan won Korea Selatan melemah 0,64%.
Lalu peso Filipina turun 0,83%, yuan China melemah 0,02%, ringgit Malaysia turun 0,02%, dan baht Thailand melemah 0,31%.
Menurut data Trading Economics, mata uang rupiah tercatat telah melemah 0,99% dalam waktu satu bulan terakhir dan telah melemah 2,55% selama periode satu tahun.
Pengamat Komoditas dan Mata Uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan untuk perdagangan setelah libur panjang Idulfitri, rupiah akan diperdagangkan pada rentang Rp16.990-Rp17.075 per dolar AS. Dia juga memperkirakan indeks dolar AS akan bergerak pada rentang 98,73 hingga 101,20.
Baca Juga
- Rupiah Dibuka Melemah H+2 Lebaran, Dekati Rp17.000 per Dolar AS
- Tekanan Global Menguat, Rupiah Berisiko Lanjut Melemah Pekan Depan
- Proyeksi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS usai Libur Idulfitri 2026
“Dalam perdagangan minggu depan kemungkinan indeks dolar ini akan kembali menguat menuju 101,20, bukan melemah ke 98,73 yang merupakan area support,” ujar Ibrahim, Minggu (22/3/2026).
Menurutnya, penguatan dolar salah satunya diakibatkan oleh kebijakan bank sentral global yang masih mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan cenderung menaikkan suku bunga di tengah kekhawatiran inflasi.
Kondisi ini salah satunya dipicu oleh lonjakan harga energi, terutama minyak mentah jenis Brent yang diperkirakan bergerak di kisaran US$110 hingga US$116. Kenaikan harga energi ini berdampak langsung terhadap inflasi global, sehingga mendorong bank sentral untuk tetap hawkish.
Di sisi lain, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah juga turut memperkuat dolar AS sebagai aset safe haven atau lindung nilai.





