REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- KH Ahmad Dahlan merupakan tokoh pejuang sekaligus pendidik yang pantang menyerah dalam menyebarkan maslahat. Sang pendiri Muhammadiyah itu menghadapi banyak lika-liku kehidupan, termasuk ketika dirinya dituding mengajarkan ideologi kafir.
Orang-orang waktu itu belum seluruhnya menerima ide-ide pembaruan yang diusungnya. Alhasil, Kiai Dahlan tak hanya menerima tantangan dari pemerintah kolonial Belanda, tetapi juga sesama masyarakat dan Muslimin yang berpandangan kolot.
Baca Juga
Anda Kehilangan Semangat Rayakan Idul Fitri? Bisa Jadi Mengalami 1 dari 6 Perkara Berikut
Pemerintah Terapkan WFH ASN dan Swasta Usai Lebaran Demi Hemat BBM
Kaki Menekuk Saat Tidur? Pakar Ungkap Kaitannya dengan Kondisi Tubuh
Tuduhan "kafir" itu terjadi karena Kiai Ahmad Dahlan mendirikan sekolah yang mengajarkan tak hanya ilmu-ilmu agama, melainkan juga ilmu umum.
Selain itu, sekolah yang dibangunnya juga menyediakan berbagai sarana pendukung, seperti papan tulis, meja dan kursi, sehingga dicap menyerupai sekolah-sekolah formal yang didirikan pemerintah Hindia Belanda.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Pada 7 Mei 1921, Kiai Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah. Permohonan itu pun dikabulkan pada 2 September 1921. Muhammadiyah pun berkembang pesat sejak saat itu.