Bisnis.com, JAKARTA — Risiko krisis energi global kian meningkat seiring memanasnya konflik di Timur Tengah. International Energy Agency (IEA) memperingatkan bahwa dampak yang ditimbulkan berpotensi lebih besar dibandingkan gabungan krisis minyak pada 1970-an.
Peringatan tersebut disampaikan Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, pada Senin (23/3/2025), di tengah eskalasi serangan militer yang melibatkan Israel dan Iran. Konflik yang telah memasuki pekan keempat itu meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur kelistrikan Iran jika akses di Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali dalam waktu 48 jam.
Birol menilai kondisi saat ini sebagai krisis energi yang “sangat serius” dengan implikasi besar terhadap perekonomian dunia.
Menurutnya, situasi ini bahkan melampaui dampak dua krisis minyak besar pada 1973 dan 1979, ketika pasokan global sempat berkurang hingga sekitar 10 juta barel per hari, serta gejolak pasar gas pasca invasi Rusia ke Ukraina.
Dia menambahkan, gangguan tidak hanya terjadi pada sektor minyak dan gas, tetapi juga merambat ke rantai pasok komoditas penting lainnya seperti petrokimia, pupuk, belerang, hingga helium. Kondisi ini dinilai dapat memperdalam tekanan terhadap ekonomi global.
Asia disebut sebagai kawasan yang paling rentan terhadap krisis ini, mengingat tingginya ketergantungan terhadap jalur distribusi energi melalui Selat Hormuz yang kini mengalami hambatan signifikan.
Sebagai respons, IEA tengah berkoordinasi dengan sejumlah negara produsen seperti Kanada dan Meksiko guna meningkatkan produksi minyak dan menjaga stabilitas pasokan global.
Di sisi lain, gangguan juga terjadi pada ekspor gas alam cair (LNG) dari Qatar akibat serangan yang menargetkan infrastruktur energi. Meski Australia berpotensi menambah pasokan, Birol menegaskan kontribusi tersebut belum cukup untuk menutup seluruh kekurangan dari kawasan Timur Tengah.
IEA sebelumnya telah melakukan pelepasan cadangan minyak strategis sebesar 400 juta barel untuk meredakan tekanan pasar. Namun, langkah tersebut dinilai hanya bersifat sementara.
“Pelepasan cadangan dapat membantu menstabilkan pasar, tetapi bukan solusi jangka panjang,” ujar Birol dilansir The Arab Weekly.
Lebih lanjut, IEA mencatat sedikitnya 44 aset energi di sembilan negara terdampak mengalami kerusakan berat. Dalam situasi yang kian memburuk, kebijakan penghematan energi hingga penjatahan seperti yang diterapkan saat pandemi COVID-19 berpotensi kembali diberlakukan, terutama di negara-negara berkembang yang paling rentan terhadap lonjakan harga energi.





