Tentara Israel Siksa Bayi Usia 18 Bulan di Gaza

republika.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Tentara penjajahan Israel (IDF) dilaporkan menyiksa seorang anak Palestina berusia 18 bulan di Gaza tengah. Penyiksaan itu disebut untuk memaksa ayahnya membuat pengakuan.

Jurnalis Palestina Usamah Al-Kahlout mulanya melansir kisah itu di media sosial, kemudian diverifikasi oleh media. Aljazirah melaporkan pada Senin, anak tersebut, yang diidentifikasi sebagai Karim Abu Nassar, ditahan di dekat kamp pengungsi Al-Maghazi.. 

Baca Juga
  • Israel Kembali Serang Gaza, Empat Warga Palestina Syahid
  • Global Sumud Flotilla akan Berlayar Lagi Menembus Gaza
  • Israel Bunuh Ibu yang Mengandung Anak Kembar di Gaza

Dua hari yang lalu, Abu Nassar keluar bersama anaknya untuk membeli beberapa barang kebutuhan sehari-hari. Tiba-tiba, ia mendapati dirinya berada di tengah tembakan pasukan pendudukan, karena rumahnya dekat dengan perbatasan timur wilayah Maghazi di Jalur Gaza tengah.

Menurut laporan serupa dari warga yang menyaksikan kejadian tersebut, IDF melalui sebuah quadcopter memaksanya untuk menaruh anaknya yang berusia 18 bulan di tanah dan bergerak menuju pos pemeriksaan militer, di mana pakaiannya dilucuti.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Berdasarkan kesaksian-kesaksian ini, pasukan pendudukan kemudian menahan anak tersebut, sekaligus menginterogasi ayahnya di pos pemeriksaan. Mereka juga mulai menyiksa Karim di untuk menekan ayahnya agar membuat pengakuan.

Dokumentasi medis kemudian memastikan bahwa Karim menderita bekas luka bakar dan tusukan. Aljazirah melaporkan bahwa pasukan pendudukan Israel “menyundut rokok di tubuhnya dan menusukkan paku ke kakinya” di depan ayahnya.

Karim Abu Nassar (18 bulan) di samping foto ayahnya Osama Abu Nassar. Karim dilaporkan mengalami penyiksaan oleh tentara Israel pada 20 Maret 2026. - (Usamah Alkahlout/Instagram)

Anak tersebut ditahan selama kurang lebih 10 jam sebelum dibebaskan dan diserahkan kepada keluarganya melalui Komite Palang Merah Internasional di Al-Maghazi.

Ayahnya, masih ditahan di Israel. Keluarga mereka meminta organisasi internasional untuk campur tangan dan menjamin pembebasannya sehingga dia dapat menerima perawatan medis.

Insiden itu terjadi di tengah berlanjutnya serangan Israel di Gaza meskipun perjanjian gencatan senjata telah dilaksanakan pada Oktober 2025. 

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, ratusan warga Palestina telah terbunuh dan ribuan lainnya terluka sejak gencatan senjata dimulai, sementara jumlah korban jiwa secara keseluruhan sejak Oktober 2023 telah melampaui 72.000 orang, dan lebih dari 171.000 orang terluka.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by اسامة الكحلوت (osama.kahlout)

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Tanggapi Dampak Perang di Iran: Uang Akan Tetap Masuk ke Indonesia
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Dari Penggemar Jadi Polemik, Insiden Jorginho vs Chappell Roan Memanas
• 22 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Siapa Lera Abova? Pemeran Robin di One Piece Live Action Season 2
• 21 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Jasad Remaja Hanyut di Sungai Cileungsi Ditemukan Usai Pencarian 5 Jam
• 18 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Serangan Iran Lumpuhkan LNG Qatar, Dunia Terancam Krisis Baru
• 18 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.