REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Harga minyak turun lebih dari 13 persen pada Senin. Hal ini setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan akan memerintahkan militer untuk menunda serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran.
Dilansir dari Reuters, Senin (23/3/2026), kontrak berjangka minyak mentah Brent turun sekitar 17 dolar AS, atau 15 persen, menjadi 96 dolar AS per barel pada pukul 11.08 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 13 dolar AS, atau sekitar 13,5 persen, menjadi 85,28 dolar AS per barel.
Baca Juga
BREAKING NEWS: Trump Batalkan Serangan ke Iran
Gertak Balik Trump, Iran Ancam Serang Pembangkit Listirk di Teluk
Ultimatum 48 Jam Trump tak Digubris, Analis Timteng: Iran tak Tunjukkan Tanda Menyerah
Penurunan ini terjadi setelah harga minyak sempat melonjak di atas 100 dolar AS per barel akibat serangan Iran terhadap kapal-kapal yang secara de facto menutup Selat Hormuz.
Langkah tersebut menyusul pernyataan Trump melalui unggahan di Truth Social bahwa kedua pemerintah telah melakukan “pembicaraan yang sangat baik dan produktif terkait penyelesaian penuh konflik” di Timur Tengah, lebih dari empat pekan setelah konflik dimulai.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Trump menambahkan bahwa seluruh serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran akan ditunda selama lima hari, bergantung pada keberhasilan pertemuan dan pembahasan yang sedang berlangsung.
Sebelumnya, Trump mengancam akan melancarkan serangan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi Iran dalam unggahan di Truth Social pada Sabtu malam. Ketua parlemen Iran memperingatkan akan adanya serangan balasan di kawasan sebagai respons.
Pernyataan Presiden AS Donald Trump soal pembatalan serangan ke Iran, Senin (23/3/2026). - (Truth Social)