Tekanan Global Meningkat, Rupiah Berpotensi Sentuh Rp17.075 per Dolar AS

idxchannel.com
2 jam lalu
Cover Berita

Nilai tukar rupiah diperkirakan menghadapi tekanan saat perdagangan kembali dibuka setelah libur panjang Idulfitri.

Tekanan Global Meningkat, Rupiah Berpotensi Sentuh Rp17.075 per Dolar AS. (Foto: Ilustrasi)

IDXChannel – Nilai tukar rupiah diperkirakan menghadapi tekanan saat perdagangan kembali dibuka setelah libur panjang Idulfitri. Pelemahan mata uang domestik dipicu oleh penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya ketegangan geopolitik global yang mendorong investor beralih ke aset safe haven.

Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan indeks dolar AS akan bergerak di kisaran 98,73 hingga 101,20 dengan kecenderungan menguat dalam waktu dekat.

Baca Juga:
Bank Indonesia Siaga, Jaga Stabilitas Rupiah dari Gejolak Geopolitik di Lebaran 2026

“Dalam perdagangan minggu depan kemungkinan indeks dolar ini akan kembali menguat menuju 101,20, bukan melemah ke 98,73 yang merupakan area support,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (23/3/2026).

Menurutnya, penguatan dolar AS didorong oleh sikap bank sentral global yang masih mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi (hawkish) untuk menekan inflasi. Di sisi lain, tekanan inflasi global juga dipicu oleh kenaikan harga energi, khususnya minyak mentah jenis Brent yang diperkirakan dapat menembus kisaran USD110 hingga USD116 per barel.

Baca Juga:
Fundamental Ekonomi Kuat, Purbaya: Rupiah Harusnya Tak Melemah

Lonjakan harga energi tersebut berkaitan dengan meningkatnya tensi geopolitik, termasuk potensi konflik yang melibatkan Iran sebagai salah satu produsen minyak utama dunia.

“Iran merupakan salah satu negara penghasil brent crude oil untuk bahan bakar avtur. Kondisi ini membuat harga emas tergelincir dan investor beralih ke safe haven dolar AS karena prospek penguatannya cukup tajam,” jelasnya.

Baca Juga:
Strategi BI Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah dari Dampak Perang Timur Tengah

Sebelumnya, pada penutupan perdagangan 20 Maret 2026, rupiah sempat menguat 0,37 persen ke level Rp16.928 per dolar AS. Namun, meningkatnya risiko geopolitik, termasuk potensi konflik darat antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang.

Ibrahim memperkirakan pada pembukaan perdagangan 24 Maret 2026, rupiah berpotensi kembali terdepresiasi dan mendekati level psikologis baru.

“Dalam perdagangan minggu depan, kemungkinan mata uang rupiah masih akan terus mengalami pelemahan,” ujarnya.

Adapun estimasi pergerakan rupiah pada perdagangan 24 Maret 2026 berada di kisaran Rp16.990 hingga Rp17.075 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS sebelumnya tercatat menguat 0,42 persen ke level 99,64 pada penutupan perdagangan 20 Maret 2026.

(Shifa Nurhaliza Putri)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Akses Mineral Kritis bagi AS, Prabowo Pastikan Bukan Produk Mentah & Tetap Harga Pasar
• 20 jam lalubisnis.com
thumb
Iran Lancarkan Serangan ke-73 ke Israel, Rudal Hantam Wilayah Dekat Dimona | KOMPAS SIANG
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Brace Vini Antar Real Madrid Menang Dramatis 3-2 Atas Atletico
• 12 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
20 Juta Pengguna, Indonesia Masuk Top 10 Pasar Kripto Global
• 10 menit lalutvonenews.com
thumb
Jalur Alternatif Gratis Dibuka untuk Urai Kemacetan Tol Japek, Ini Rutenya
• 23 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.