jpnn.com, JAKARTA - Direktur Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti menyebut pengalihan status tahanan terhadap eks Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas sebagai langkah pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dari internal.
"Langkah KPK mengalihkan tahanan negara ke tahanan rumah memberi sinyal bagi pelemahan KPK dari dalam," kata Ray melalui layanan pesan, Senin (23/3).
BACA JUGA: Yaqut Pecah Rekor Tahanan yang Bebas di Rumah, Siapa Pimpinan KPK yang Masuk Angin?
Diketahui, KPK mengalihkan status Yaqut dari tahanan rutan menjadi rumah setelah ada permohonan dari pihak keluarga.
Ray menyebut keputusan KPK mengalihkan status tahanan Yaqut bisa menjadi bumerang dalam upaya pemberantasan korupsi.
BACA JUGA: Legislator Tanya Dasar KPK Kasih Yaqut Status Tahanan Rumah
Aktivis Barisan Oposisi Indonesia (BOI) itu menuturkan besar kemungkinan para tersangka kasus rasuah lain mengajukan pengalihan tahanan.
"Maka, demi kesamaan dan keadilan hukum, KPK harus mengabulkannya," tutur Ray.
BACA JUGA: 1.603 Warga Binaan Lapas Narkotika Jakarta Terima Remisi Khusus Idulfitri
Oleh karena itu, dia berharap KPK membatalkan pengalihan tahanan rutan ke rumah bagi Yaqut apabila alasan utama tak jelas.
"Batalkan pengalihan penahanan rumah tersangka kasus korupsi bila alasan utamanya hanyalah karena permintaan keluarga," ujar Ray.
Toh, kata Ray, pengalihan tahanan oleh KPK terasa memilukan jika melihat banyak tersangka kasus ringan yang justru mendekam di dalam tahanan negara.
"Memilukan mengingat sebagian aktivis yang sekarang ditahan di rumah tahanan negara, juga tidak dapat merayakan idulfitri mereka di rumah masing-masing," lanjutnya.
Ray menilai langkah membatalkan pengalihan tahanan menjadi tepat demi menghemat anggaran negara.
Menurut dia, aparat penegak hukum wajib melakukan pengawasan terhadap tahanan rumah, sehingga jelas membutuhkan anggaran negara tak sedikit.
"Pengalihan tahanan dari rumah tahanan negara ke tahanan rumah dengan pengawasan ketat merupakan pemborosan uang negara, di tengah efesiensi, semestinya KPK memikirkan pengeluaran biaya yang tidak perlu," serunya.(ast/jpnn)
Redaktur : Yessy Artada
Reporter : Aristo Setiawan




