Dua gol kemenangan tim asuhan Pep Guardiola diborong oleh pemain muda, Nico O’Reilly. Kemenangan ini membuktikan bahwa Manchester City masih menjadi kekuatan dominan di panggung besar, sekaligus menjadi respons sempurna setelah mereka tersingkir dari Liga Champions beberapa hari sebelumnya oleh Real Madrid. Investasi Tanpa Hasil Kenyataan pahit harus diterima manajemen Arsenal. Sejak 2020, manajemen klub telah menggelontorkan dana lebih dari $1 miliar atau setara dengan Rp16 triliun untuk belanja pemain. Namun, di bawah kepemimpinan Arteta, investasi besar tersebut belum mampu menghasilkan satu pun trofi mayor ke lemari juara mereka.
Arsenal tampil datar dan minim kreativitas sepanjang pertandingan. Alih-alih bermain agresif untuk memburu gelar, Martin Odegaard dan kawan-kawan justru terlihat bermain defensif karena takut menelan kekalahan. Dominasi City di babak kedua benar-benar menghukum mentalitas Arsenal yang tampak rapuh. Ancaman di Liga Inggris Kekalahan ini bukan sekadar kehilangan satu trofi. Posisi Arsenal di puncak klasemen Premier League kini dalam ancaman serius. Jika City berhasil memenangkan laga tunda dan mengalahkan Arsenal pada pertemuan berikutnya di Stadion Etihad, keunggulan poin Arsenal akan terpangkas menjadi hanya tiga poin saja.
Mikel Arteta kini memiliki beban berat selama jeda internasional untuk memperbaiki mentalitas tim. Ia harus segera menemukan solusi agar performa skuatnya tidak merosot di momen krusial akhir musim.
(Ahmad Raul)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ASM)




