Sebuah bola api membumbung dari lokasi serangan udara Israel yang menghantam Jembatan Qasmiyeh di wilayah selatan Lebanon pada Minggu (22/3).
Serangan tersebut menargetkan jembatan yang berada di jalur utama penghubung desa-desa di wilayah Tyre dengan daerah lain di bagian utara. Israel menyatakan jembatan itu digunakan oleh kelompok Hezbollah.
Militer Israel dilaporkan menyerang jembatan strategis tersebut setelah Menteri Pertahanan memerintahkan penghancuran sejumlah jembatan di atas Sungai Litani. Langkah ini dilakukan untuk membatasi pergerakan kelompok bersenjata di wilayah tersebut.
Dampak serangan terlihat pada Senin (23/3), dengan kerusakan signifikan pada struktur jembatan yang menjadi salah satu akses penting di kawasan tersebut.
Presiden Lebanon pada 22 Maret 2026 mengecam serangan Israel yang menargetkan jembatan dan infrastruktur lain di wilayah selatan. Ia menyebut serangan tersebut sebagai pendahuluan menuju invasi darat.
Lebanon terseret dalam konflik yang lebih luas di kawasan sejak 2 Maret, ketika kelompok pro-Iran Hezbollah meluncurkan roket ke wilayah Israel sebagai respons atas serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026 yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Khomeini.
Rangkaian peristiwa ini menandai meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, dengan serangan yang kini menyasar infrastruktur vital di wilayah Lebanon selatan.





