Jakarta: Dominasi jalan tol dalam arus mudik Lebaran 2026 kian nyata. Namun, wajah perjalanan darat di Pulau Jawa tetap memperlihatkan kontras yang tajam.
Saat jalur selatan menyuguhkan ketenangan pesisir yang landai, Jalur Pantura tetap bertahan sebagai nadi utama aktivitas ekonomi masyarakat meski arusnya tak lagi sepadat dahulu.
Baca Juga :
Sensasi Nasi Liwet dan Sambal Cibiuk di Jalur Mudik LimbanganJejak Sejarah di Pecinan Semarang
Dalam penelusuran tim dari Cilacap hingga Cirebon, rute Semarang menjadi titik singgah yang sarat sejarah.
Sebelum membelah Pantura menuju Cirebon, singgah di Dharma Boutique Roastery di kawasan Pecinan, Semarang, menjadi kewajiban. Bangunan kolonial ini bukan sekadar kedai, melainkan rumah kopi tertua yang mempertahankan tradisi sejak 1915.
Eksotisme berlanjut ke kuliner lokal Tahu Gimbal Pak Edy di Jalan Menteri Supeno. Meski warung tetap melayani pembeli, suasana tak seramai tahun-tahun sebelumnya. Banyak pemudik memanfaatkan lokasi ini hanya untuk beristirahat sejenak sebelum menghadapi sisa perjalanan.
Hidayat Basuki menunjukkan mesin sangrai kopinya di Dharma Boutiqe Roastery, Semarang, Jawa Tengah. Foto: ANTARA/Farika Nur Khotimah.
Alas Roban yang Kini Sunyi
Melintasi kawasan legendaris Alas Roban menuju Pekalongan, suasana berubah drastis. Jalur yang dahulu dikenal "mengerikan" karena kepadatan bus dan truk antarkota, kini terpantau relatif sepi. Kawanan monyet terlihat santai di tepi badan jalan, sementara deretan warung singgah banyak yang terbengkalai.
“Dulu sebelum ada tol, ramai sekali. Sekarang pembeli jauh berkurang, paling hanya yang sengaja keluar tol atau warga sekitar,” ujar Nanda, seorang penjual telur asin di Brebes kepada ANTARA, Selasa, 24 Maret 2026.
Ekonomi yang Tergeser ke Jalan Tol
Memasuki wilayah Batang dan Pekalongan, pergeseran arus kendaraan ke jalan tol sangat terasa. Restoran-restoran besar yang biasanya menjadi pangkalan bus jarak jauh tampak lengang. Hanya sedikit kendaraan yang singgah, berbanding terbalik dengan kondisi sebelum infrastruktur tol tersambung sepenuhnya.
Di Brebes, pusat oleh-oleh telur asin yang legendaris pun tampak lesu. Nanda mengaku pendapatan pedagang merosot tajam karena sebagian besar pemudik lebih memilih melaju di jalan tol tanpa sempat keluar ke jalur arteri. Para pedagang kini harus beradaptasi dengan pola perjalanan masyarakat yang kian efisien.
Pengunjung membeli batik di Pasar Batik Setono, Pekalongan, Jawa Tengah. Foto: ANTARA/Farika Nur Khotimah.
Nadi yang Terus Berdenyut
Meskipun sebagian titik meredup, denyut aktivitas tetap terlihat di pusat keramaian seperti Pasar Grosir Batik Setono Pekalongan dan sentra kuliner Sate Kambing Muda Cempe Lemu di Tegal. Arus kendaraan pun mulai merayap padat saat tim mendekati wilayah Cirebon.
Perjalanan dari jalur selatan hingga Pantura ini membuktikan satu hal: jalan tol mungkin telah memenangkan waktu, namun jalur lama tetap menjadi ruang interaksi ekonomi dan religi yang tak tergantikan. Kehadiran ikon sejarah seperti Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Cirebon menjadi pengingat bahwa di balik aspal Pantura, tersimpan jejak peradaban yang tak lekang oleh arus zaman.




