Tiga indeks utama saham Amerika Serikat (AS) alias Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Senin (24/3), masing-masing naik lebih dari 1 persen. Kenaikan ini terjadi seiring turunnya harga minyak setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan telah memerintahkan militer menunda serangan ke fasilitas listrik Iran.
Mengutip Reuters, Selasa (24/3), keputusan tersebut diambil usai adanya percakapan produktif dengan Teheran, yang memicu optimisme di pasar keuangan global.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 631,00 poin atau 1,38 persen ke level 46.208,47. Sementara S&P 500 menguat 74,52 poin atau 1,15 persen menjadi 6.581,00, dan Nasdaq Composite naik 299,15 poin atau 1,38 persen ke 21.946,76.
Meski demikian, klaim Trump soal adanya komunikasi dengan Iran dibantah. Ketua Parlemen Iran menyebut tidak ada pembicaraan dengan AS, berlawanan dengan pernyataan Trump yang sebelumnya mengeklaim kedua pihak memiliki poin kesepakatan utama untuk mengakhiri konflik.
Pasar saham sempat tertekan di awal sesi akibat meningkatnya ketegangan, termasuk ancaman serangan terhadap jaringan listrik di Israel dan Iran. Namun, sentimen berbalik positif setelah harga minyak anjlok.
"Kita tidak pernah tahu siapa yang harus dipercaya, tetapi tampaknya Trump sedang mencoba memulai diskusi dengan seseorang di Iran untuk menyelesaikan perang meskipun Iran membantah keras. Hal ini telah menyebabkan optimisme yang signifikan pada harga saham hari ini, dengan pasar naik tajam meskipun turun dari level tertingginya karena bantahan Iran," kata Tim Ghriskey, Ahli Strategi Portofolio Senior di Ingalls & Snyder di New York.
Penurunan harga minyak yang mencapai lebih dari 10 persen menjadi katalis utama reli pasar. Kenaikan ini juga menjadi yang terbesar bagi tiga indeks utama Wall Street sejak 6 Februari.
Indeks Volatilitas CBOE (.VIX), yang dikenal sebagai indikator ketakutan pasar, ikut turun setelah sempat menyentuh level tertinggi dua pekan di 31,04. Indeks ini ditutup melemah 0,63 poin ke 26,15.
Seluruh 11 sektor utama di S&P 500 ditutup di zona hijau. Sektor siklikal seperti barang konsumsi non-esensial memimpin kenaikan dengan lonjakan 2,46 persen, sementara sektor defensif bergerak lebih terbatas.
"Volatilitas kemungkinan akan berlanjut dan semuanya bergantung pada harga minyak. Tidak ada hal lain yang benar-benar penting bagi orang-orang dalam jangka pendek. Jadi, ketika harga minyak turun, saham naik dan sebaliknya," kata Bob Doll, Kepala Investasi di Crossmark Global Investments.
"Apa yang paling naik hari ini bukanlah suatu kejutan. Itu adalah hal-hal yang sensitif terhadap ekonomi,” imbuhnya.
Dari sisi kebijakan moneter, pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve. Berdasarkan FedWatch CME Group, peluang kenaikan suku bunga pada Desember turun menjadi sekitar 13 persen, dari sebelumnya lebih dari 25 persen.
Saham-saham berkapitalisasi kecil juga mencatat kinerja lebih baik. Indeks Russell 2000 naik 2,3 persen, mengungguli indeks saham berkapitalisasi besar.
Di sektor tertentu, saham maskapai penerbangan melonjak seiring turunnya harga bahan bakar. Saham operator kapal pesiar juga mencatat kenaikan signifikan. Sementara itu, sektor perbankan yang sebelumnya tertekan akibat konflik ikut menguat, dengan indeks perbankan S&P 500 naik lebih dari 1 persen.
Pelaku pasar kini menanti sejumlah agenda penting pekan ini, termasuk pidato pejabat bank sentral, data aktivitas bisnis, dan sentimen konsumen, yang berpotensi memberi arah lanjutan bagi pergerakan pasar.





