Bisnis.com, JAKARTA — PT Asuransi Ciputra Indonesia atau Ciputra Life mencatat hasil investasi sebesar Rp66,24 triliun sepanjang 2025.
Direktur Utama Ciputra Life, Hengky Djojosantoso mengemukakan nilai hasil investasi tersebut tumbuh sebesar 69% (year on year/YoY).
“Porsi terbesar investasi perusahaan ada pada instrumen berpendapatan tetap, yaitu obligasi pemerintah dan diikuti oleh obligasi korporasi,” ungkapnya kepada Bisnis, dikutip pada Senin (23/3/2026).
Hengky meneruskan, umumnya perusahaan asuransi jiwa tertarik pada instrumen investasi yang memiliki profil liabilitas jangka panjang. Misalnya, obligasi pemerintah, obligasi korporasi, dan saham.
Kendati demikian, imbuhnya, biasanya perusahaan asuransi akan melihat profil liabilitas atau profil kewajiban masing-masing dalam menentukan instrumen investasi.
“Bagi Ciputra Life sendiri, mayoritas penempatan investasi ada di dalam obligasi pemerintah, yang kemudian diikuti oleh obligasi korporasi, sementara untuk pasar saham, kami melakukan penempatan secara selektif,” tuturnya.
Adapun, lanjutnya, saat ini pertambangan dan energi menjadi sektor yang menarik bagi perusahaan. Akan tetapi, dalam melakukan investasi di pasar saham, sektor tidak menjadi pertimbangan utama Ciputra Life.
“Kami selalu memperhatikan faktor fundamental, serta prospek pertumbuhan ke depan dari perusahaan tersebut,” sebut Hengky.
Untuk 2026, Hengky mengungkapkan pengelolaan investasi perusahaan tetap bertujuan untuk memastikan pemenuhan kewajiban perusahaan terutama kepada nasabah, baik dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang.
Menurutnya, diversifikasi portofolio menjadi suatu kewajiban, dengan melakukan penempatan ke dalam instrumen investasi yang memiliki durasi pendek, menengah maupun panjang selaras dengan durasi dari kewajiban perusahaan (asset liability management).
“Di tengah kondisi volatilitas pasar yang tinggi, kami cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan penempatan investasi pada instrumen investasi yang mempunyai investment horizon lebih panjang,” tegasnya.
Untuk diketahui, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat hasil investasi di industri asuransi jiwa sepanjang 2025 naik signifikan sebesar 103,1% YoY menjadi Rp47,32 triliun.
Ciputra Life menilai hal itu terjadi karena penurunan BI Rate yang mendorong penurunan yield obligasi dan menyebabkan apresiasi harga obligasi, baik obligasi pemerintah maupun obligasi korporasi.
Di samping itu, jelas Hengky, penurunan BI Rate juga menyebabkan penurunan suku bunga perbankan, sehingga biaya bunga yang harus ditanggung oleh perusahaan menjadi lebih rendah dan proyeksi profit perusahaan meningkat.
“Ekspektasi peningkatan profit ini yang kemudian mendorong apresiasi harga-harga saham perusahaan yang listed di Bursa Efek Indonesia [BEI],” ucapnya.




