Pada Sabtu (21 Maret 2026), jaringan listrik nasional Kuba kembali mengalami keruntuhan total, menyebabkan pemadaman listrik di seluruh negeri. Ini merupakan pemadaman besar-besaran ketiga dalam bulan ini.
EtIndonesia. Sistem kelistrikan Kuba dilaporkan runtuh sepenuhnya pada 21 Maret, membuat seluruh negara gelap gulita. Hingga saat ini, penyebab pasti kejadian tersebut belum diumumkan.
Pemerintah Kuba menyatakan bahwa negara itu sudah tiga bulan tidak menerima pasokan minyak dari luar negeri, sehingga saat ini hanya mampu memproduksi sekitar 40% dari kebutuhan bahan bakarnya. Kondisi ini menyebabkan krisis energi yang serius.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memperingatkan bahwa AS akan mengenakan tarif terhadap negara mana pun yang memasok minyak ke Kuba. Pihak AS juga menuntut agar Kuba membebaskan tahanan politik serta mendorong liberalisasi politik dan ekonomi sebagai syarat pencabutan sanksi.
Trump bahkan pernah mengemukakan kemungkinan “pengambilalihan Kuba secara bersahabat”.
Di tengah krisis energi dan tekanan ekonomi yang meningkat, Kuba terpaksa mengirimkan sinyal kesiapan untuk berdialog dengan Amerika Serikat.
Pada Sabtu, Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodríguez, dalam KTT Komunitas Negara Amerika Latin dan Karibia yang digelar di Kolombia, menyatakan bahwa Kuba bersedia melakukan dialog bersyarat dengan AS.
“Kami juga bersedia melakukan dialog yang serius dan bertanggung jawab dengan pemerintah Amerika Serikat, namun dengan syarat tidak mencampuri urusan dalam negeri dan tidak mengintervensi sistem politik,” ujarnya.
Saat ini, di tengah krisis listrik dan tekanan diplomatik yang saling berkaitan, perkembangan situasi di Kuba ke depan menjadi perhatian luas.
Reporter Televisi NTD, Ning Xiu dan Zhang Ruiqi melaporkan.





