Penulis: Fityan
TVRINews – Teheran
Narasi Gedung Putih Mengenai Negosiasi dengan Iran Dibantah Keras oleh Parlemen di Tehran
Pemerintah Iran secara resmi membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait adanya pembicaraan bilateral guna mencapai kesepakatan damai yang lebih luas.
Tehran menegaskan bahwa klaim Washington mengenai proses diplomasi tersebut tidak lebih dari sekadar manipulasi informasi kutip al Jazeera Selasa 24 Maret 2026.
Sebelumnya, Presiden Trump menyatakan bahwa diskusi sedang berlangsung untuk menentukan kemungkinan kesepakatan baru.
Menurut Trump, Iran menunjukkan keseriusan untuk menyelesaikan konflik dan menginginkan perdamaian. Namun, pernyataan ini segera dimentahkan oleh Ketua Parlemen Iran.
"Klaim adanya pembicaraan tersebut adalah 'berita palsu' (fake news). Narasi ini sengaja digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan komoditas minyak global," tegas juru bicara parlemen Iran dalam keterangan resminya.
Fluktuasi Pasar dan Ketegangan Militer
Dampak dari pernyataan sepihak Gedung Putih tersebut langsung terasa di lantai bursa. Harga minyak mentah dunia dilaporkan merosot sekitar 11 persen setelah Trump mengumumkan penundaan serangan terhadap pembangkit listrik Iran selama lima hari, dengan dalih memberi ruang bagi jalur diplomasi.
Kendati terdapat narasi perdamaian dari pihak eksekutif AS, realita di lapangan menunjukkan eskalasi yang berbeda.
Komando Pusat AS (US Central Command) menyatakan bahwa pasukan mereka tetap "melancarkan serangan secara agresif" terhadap target-target di Iran.
Di sisi lain, serangan rudal dan pesawat tanpa awak (drone) Iran dilaporkan masih menyasar sejumlah negara Teluk, termasuk Bahrain, Arab Saudi, dan Kuwait.
Krisis Regional yang Meluas
Ketegangan tidak hanya terbatas pada poros Washington-Tehran. Di Lebanon, situasi kemanusiaan semakin kritis menyusul operasi udara militer Israel yang menghantam kawasan selatan Beirut.
Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan Lebanon, eskalasi militer sejak 2 Maret lalu telah merenggut sedikitnya 1.039 nyawa dan menyebabkan 2.786 warga lainnya luka-luka.
Hingga saat ini, stabilitas di Timur Tengah masih berada dalam titik nadir, di mana pernyataan diplomatik di tingkat atas sering kali bertolak belakang dengan fakta operasi militer yang terjadi di garis depan.
Editor: Redaktur TVRINews





