Halalbihalal Keturunan Aliah Puang Rijoleng di Barru dan Perannya dalam Penyebaran Islam di Sulsel

harianfajar
7 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, TANETE—Kerukunan Keluarga Aliah (Kekal) yang merupakan simpul keturunan Aliah Puang Rijoleng (APR) menggelar halalbihalal awal pekan ini.

Halalbihalal yang dilaksanakan pada 3 Syawal 1447 Hijriah atau Senin, 23 Maret 2026 itu berlangsung di Masjid Syuhada, Bungi, Lalabata, Kecamatan Tanete Rilau, Kabupaten Barru.

Mengangkat Tema “Menyatukan Hati, Merajut Ukhuwah Keluarga Besar Aliah Puang Rijoleng”, halalbihalal tahun ini menghadirkan DR Abdul Muid Nawawi MA sebagai penceramah.

Ketua Prodi Magister Ilmu Alquran dan Tafsir Universitas PTIQ Jakarta itu juga merupakan bagian dari keluarga besar Aliah.

Acara ini dihadiri 500-an keturunan Aliah Puang Rijoleng. Selain yang bermukim di Barru, turut hadir keturunan APR dari Polman, Pinrang, Soppeng, Pangkep, Maros, Makassar, Parepare, Pinrang, Bantaeng, dan beberapa provinsi di Indonesia.

Kegiatan ini merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan oleh Kekerabatan Keluarga Aliah Puang Rijoleng sebagai wadah mempererat tali silaturahmi antaranggota keluarga yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Acara tersebut dihadiri oleh berbagai lapisan generasi keluarga Aliah, mulai dari para orang tua dan sesepuh hingga anak-anak.

Kehadiran lintas generasi ini menjadi simbol kuatnya upaya menjaga hubungan kekeluargaan agar tetap saling mengenal dan terikat satu sama lain.

Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Syahrum Mubarak, Lc., yang menghadirkan suasana khidmat sejak awal acara.

Selanjutnya, acara dipandu oleh Nur Isma, S.Pd., M.Pd. sebagai pembawa acara yang mengarahkan jalannya kegiatan secara tertib dan lancar.

Ketua panitia kegiatan, Rusli Sadiq Aliah, menyampaikan bahwa antusiasme peserta tahun ini sangat tinggi, bahkan jumlah yang hadir melampaui ekspektasi panitia.

Sejumlah tokoh penting turut hadir dalam kegiatan ini, di antaranya Drs. H. Syamsu Rijal Aliah, S.H., M.H., Drs. H. Ma’mun Badaruddin, H. Taufik Badaruddin, Muh. Muzakkir Aliah, Prof. Dr. Zainuddin Abdullah, Dr. Adlan Nawawi, Dr. Muhammad Yassir, serta Dr. H. Mochtar Luthfi Masiming, M.Si.

Dalam kesempatan tersebut, beberapa tokoh keluarga juga memberikan testimoni, termasuk Dr. Irham Jalil Aliah, Dr. Asriyah Aliah, Dr. H. Muhaemin Badaruddin, dan Prof. Dr. Zainal Abidin.

Dalam ceramahnya, Dr. Abdul Muid Nawawi menekankan bahwa keluarga Aliah merupakan keluarga terpandang, namun keutamaan tersebut bukan untuk menuntut penghormatan, melainkan sebagai amanah untuk menjaga akhlak.

Ia mengutip pesan dari ibunya bahwa menjadi bagian dari keluarga Aliah ibarat membawa “bendera” di atas kepala yang selalu terlihat oleh orang lain.

Oleh karena itu, setiap anggota keluarga dituntut untuk menjaga perilaku dan menjadi teladan sebagai generasi penerus ulama besar, Syaikh Muhammad Ali Puang Rijoleng.

Selain kegiatan silaturahmi, acara ini juga dirangkaikan dengan rapat pengurus besar Kekerabatan Keluarga Aliah Puang Rijoleng.

Rapat tersebut membahas arah dan langkah strategis organisasi ke depan dalam menjaga eksistensi serta memperkuat peran keluarga dalam kehidupan sosial dan keagamaan.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, para peserta turut mengunjungi Masjid Lailatul Qadri yang terletak di Lempang. Masjid ini dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Kabupaten Barru dan memiliki nilai sejarah yang tinggi dalam perkembangan Islam di wilayah Sulawesi Selatan.

Kunjungan ini sekaligus menjadi refleksi atas jejak panjang keluarga Aliah yang memiliki hubungan erat dengan sejarah penyebaran Islam di Kerajaan Tanete. Hal tersebut semakin memperkuat identitas keluarga sebagai bagian dari pewaris tradisi keilmuan dan dakwah Islam di Sulawesi Selatan.

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga sarana memperkuat kesadaran sejarah serta tanggung jawab moral dalam menjaga nilai-nilai keislaman dan akhlak mulia di tengah masyarakat

Puang Rijoleng diperkirakan lahir pada 1590. Ia diangkat menjadi Kadhi oleh raja kesembilan Kerajaan Tanete, Petta Pallase-LaseE yang bergelar Petta to SugiE.

Sebagaimana tesis Chaerul Mundzir: Hubungan Islam dan Politik di Kerajaan Tanete Abad XVII-XVIII (Suatu Kajian Historis dan Antropoligi), Petta Pallase-LaseE adalah raja Tanete pertama yang memeluk Islam.

Kerajaan Tanete adalah kerajaan ketiga yang memproklamirkan Islam, yakni pada tahun 1610. Setelah Islam melembaga terjadi perubahan besar-besaran dalam struktur kerajaan. Raja membentuk lembaga keagamaan yang disebut Saraq yang dibawahi oleh seorang dalam jabatan kalie (kadhi).

Kadhi terutama berfungsi untuk mendampingi Datu dalam melaksanakan peradilan adat, sebagai penasihat dalam persoalan-persoalan yang berkaitan dengan atau menyangkut pelaksanaan hukum Islam.

Jabatan kadhi dalam Silsilah Kerajaan Tanete telah dijabat oleh beberapa orang. Jika ditinjau pada abad XVII sampai abad ke XVIII Puang Rijoleng adalah kadhi pertama dengan gelaran Kali MammulangE Ri Tanete, 1625-1637.

Setelah menjabat kadhi di Tanete, Puang Rijoleng kemudian pindah ke Polmas dan juga menjadi Kadhi di sana.

Di antara jejak Islam di Kerajaan Tanete yakni Masjid Lailatul Qadri Lempang, Lalabata, Tanete Rilau, Kabupaten Barru. Ini merupakan salah satu masjid tertua di Sulsel yang pembangunannya hanya berjarak beberapa tahun dari Masjid Katangka, Gowa.

Sosok dan Peran Penting Syekh Ali Puang Rijoleng

Syekh Ali Puang Rijoleng berperan sentral dalam proses Islamisasi dan penerapan hukum Islam di kerajaan Tanete pada awal abad ke-17.

Diangkat oleh Raja Tanete IX, Petta Sugie, yang memeluk Islam sekitar tahun 1610, Syekh Ali memimpin lembaga saraq, majelis syariah yang mengadili perkara sesuai hukum Islam dan menjadi penasihat raja dalam urusan agama dan adat.

Sebagai Kadi pertama, Syekh Ali Puang Rijoleng membawa perubahan besar dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Tanete dengan mengintegrasikan hukum Islam ke dalam adat istiadat setempat, yang masih berlangsung hingga saat ini.

Syekh Ali Puang Rijoleng meninggal dan dimakamkan di Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Warisan sejarah Syekh Ali Puang Rijoleng tidak hanya penting bagi Kerajaan Tanete, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah Islam di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cerita Akio Toyoda Lahirkan Divisi Gazoo Racing
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Dony Tri Pamungkas bersama Timnas Indonesia di FIFA Series 2026: Kesempatan untuk Belajar Banyak
• 19 jam lalubola.com
thumb
H+3 Lebaran, 52.926 Pemudik Kereta Tiba di Jakarta
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Imbas Perang AS-Iran, Rupiah Diramal Tembus Rp20.400 per dolar AS
• 18 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Puncak Arus Balik Lebaran 2026 Diperkirakan Terjadi Hari Ini
• 10 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.