Pantau - Harga energi di Eropa berfluktuasi tajam akibat perubahan sinyal dari Amerika Serikat dan Iran yang memengaruhi ekspektasi pasar di tengah ketegangan geopolitik terkait pasokan energi global.
Lonjakan dan Penurunan Dipicu Pernyataan PolitikPada awal perdagangan Senin (23/3/2026), harga minyak mentah Brent sempat melonjak melampaui 113 dolar AS per barel seiring kekhawatiran gangguan pasokan melalui Selat Hormuz.
Namun harga kemudian anjlok lebih dari 10 persen hingga di bawah 100 dolar AS setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan telah melakukan pembicaraan yang “sangat baik dan produktif” dengan Iran serta menunda rencana serangan selama lima hari.
Penurunan tersebut tidak berlangsung lama setelah Iran membantah adanya negosiasi dan memperingatkan potensi pembalasan terhadap fasilitas energi regional sehingga harga kembali naik ke kisaran 105 dolar AS sebelum melemah lagi mendekati 101 dolar AS.
Dampak ke Pasar Gas dan SahamFluktuasi serupa terjadi pada harga gas Eropa dengan kontrak berjangka Dutch TTF yang sempat naik di atas 63 euro per megawatt-jam sebelum turun dan kembali naik akibat respons Iran.
Pergerakan harga energi ini turut memengaruhi pasar saham Eropa dengan indeks FTSE 100 Inggris sempat turun lebih dari 1,8 persen dan indeks DAX Jerman merosot di atas 2 persen.
Seiring meredanya harga energi, pasar saham berangsur pulih dengan FTSE 100 naik sekitar 0,6 persen dan DAX menguat sekitar 2,4 persen pada sesi perdagangan sore.
Analis menilai volatilitas ini menunjukkan kuatnya pengaruh dinamika geopolitik terhadap pasar energi dan keuangan global serta ketergantungan pada perkembangan diplomasi antara pihak-pihak terkait.




